Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 42


__ADS_3

Sandi kembali ke dapur dengan membawa kotak obat yang ia ambil dari ruang tamu. Dia membuka kotak obat tersebut, mengambil obat merah dan handiplas.


Ia mengoleskan obat merah tersebut pada jari Tiara yang terluka. Ia juga membalut jari Tiara dengan Handiplas. Setelah selesai mengobati jari Tiara yang terluka itu, ia mengembalikan kotak obat itu lagi ke ruang tamu.


"Bagaimana Tir jari kamu? apa obatnya bekerja dengan baik?," tanya Sandi yang kembali ke dapur.


"Iya mas, sudah lebih baik dari yang sebelumnya," kata Tiara.


"Syukurlah," kata Sandi.


"Oh iya, mas mau dibuatkan segelas kopi tidak?," tanya Tiara.


"Iya, boleh juga. Tolong buatkan ya Tir!," kata Sandi.


"Baik mas, akan aku buatkan," kata Tiara.


"Aku ke kamar dulu mengambil ponselku," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


Sambil Menunggu kopi buatan Tiara, Sandi pergi ke kamar untuk mengambil ponsel pintar miliknya. Ia mengambil ponsel yang terletak diatas ranjang kasur dan segera kembali lagi ke dapur.


"Itu mas kopinya diatas meja makan," kata Tiara.

__ADS_1


"Iya Tir, terima kasih," kata Sandi.


"Iya mas, sama-sama," kata Tiara.


Sandi memainkan ponselnya dan Tiara mulai memasak untuk makan malam nanti. Sandi melihat secara jelas dilayar ponselnya ada panggilan tidak terjawab dari Lisa.


Dia melihat keterangan panggilan itu diaplikasi telepon. Lisa telah melakukan 2 kali panggilan dan tidak terjawab oleh Sandi.


Lisa pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak menyapanya dan menanyakan sesuatu sudah hampir 2 hari ini?. Batin Sandi.


Sandi kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Lisa.


Maaf sayang, panggilan kamu tidak ku angkat. Aku sedang bersama Tiara. Tulis Sandi. Dia pun mengirimkan pesan itu.


Namun pintu rumah terkunci dari dalam. Bu Lilis memahami kebiasaan putri sulungnya yang tidak akan membiarkan pintu rumah terbuka begitu saja.


Mereka pun mengetuk pintu. Suara ketukan pintu itu terdengar sampai dapur.


"Mas, sepertinya ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu depan rumah," kata Tiara.


"Ia, sepertinya begitu. Biar aku saja yang membukakan pintu," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.

__ADS_1


Sandi berjalan menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu, ia terlebih dahulu melihat dari jendela siapa yang datang?. Ia melihat ternyata ayah dan ibu mertuanya yang datang. Ia segera membukakan pintu untuk mereka.


"Silahkan masuk pak,bu," kata Sandi merasa segan dan canggung.


Mereka hanya membalas menantu laki-lakinya itu dengan senyuman.


Pak Arifin memilih duduk dikursi ruang tamu sedangkan bu Lilis segera ke dapur. Sandi pun ikut duduk di kursi. Tanpa aba-aba, setelah melihat ibunya melangkah ke depur Tiara pun membuatkan segelas kopi untuk ayahnya.


Setelah kopi seduhannya jadi, Tiara mengantarkan kopi ayahnya dan kopi suaminya yang belum habis yang terletak diatas meja makan ke ruang tamu.


"Ini pak kopinya! ini kopi mas," kata Tiara.


"Kenapa untuk Sandi kopinya hanya setengah gelas nak?," tanya pak Arifin.


"Itu sisa kopi mas Sandi saat duduk didapur tadi pak," kata Tiara.


"Oh begitu ya," kata pak Arifin.


"Iya pak," kata Tiara.


Tiara kembali ke dapur, Sandi dan pak Arifin berbincang-bincang santai layaknya ayah dan menantu pada umumnya.


Doni pun terbangun dari tidurnya. Ia keluar dari kamar dan ia juga duduk dikursi ruang tamu. Dia duduk tepat disebelah kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2