Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 156


__ADS_3

"Iya Rik, nanti mbak titip salam ke mereka ya,", kata bu Sari.


Bu Rika tersenyum. Mereka pun masuk secara bersamaan ke dalam aula.


Acara pun dibuka dengan pak Faris memberikan sambutan. Kemudian kata sambutan dari para pejabat tinggi perusahaan lainnya.


Disusul oleh berbagai macam hiburan dan acara-acara lainnya. Pada sesi berikutnya, Lisa mengambil bagian untuk membicarakan tentang produk baru perusahaan pak Faris ini.


Ia banyak berbicara tentang produk baru itu. Ia betul-betul sebuah bintang iklan yang tepat untuk mempromosikan produk baru tersebut.


Bu Sari dan pak Airlangga tidak menghiraukan Lisa. Bahkan mereka cepat-cepat ingin pulang. Namun tidak mungkin karena acara belum selesai.


Pada akhir acara tersebut. Pak Faris, Farhan dan bu Rika yang ditemani oleh Lisa secara bersamaan memotong pita.


Semua bertepuk tangan dengan meriah. Kegembiraan nampak terpancar dari keluarga Faris.


Setelah acara tersebut selesai, semua tamu undangan pulang. Termasuk pak Airlangga dan bu Sari.


"Kami pulang ya Ris, Rik," kata bu Sari.


"Kenapa langsung pulang mbak? lebih baik kita makan-makan dulu. Pasti mbak dan mas lapar," kata bu Rika.

__ADS_1


"Iya deh, tapi hanya kita ya dalam satu meja," bu Sari mengiyakan perkataan bu Rika karena merasa tidak enak jikalau menolak permintaannya.


"Kenapa begitu mbak? ada yang salah?," tanya bu Rika yang merasa heran.


Faris dan Farhan juga menatap bu Sari dengan heran.


"Tidak ada yang salah kok Rik, semuanya baik-baik saja, hanya saja mbak memang ingin quality time bersama kalian saja, hehehe," bu Sari mencari alasan.


Sebenarnya saya tidak mau kalau sampai-sampai nanti makan satu meja dengan Lisa. Batin bu Sari.


"Oh begitu ternyata mbak, baiklah mbak kita makan dalam satu meja tanpa ada yang makan bersama kita," kata bu Rika.


"Baguslah Rik," kata bu Sari.


Sandi sudah banyak menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun masih ada beberapa pekerjaan lainnya yang harus diselesaikan.


Dia keluar dari ruang kerjanya dan mengatakan kepada sekretaris pribadinya bahwa dia ingin pulang lebih awal hari ini karena dia ada urusan.


Sandi juga mempersilahkan sekretaris pribadinya tersebut untuk pulang karena jam Kerja hari ini pun hampir usai.


Dia meninggalkan kantor dan langsung ke toko mas. Sekitar 15 menit dalam perjalanan, Sandi sudah sampai ditoko mas yang hendak ia kunjungi.

__ADS_1


Dia kemudian melihat-lihat cincin yang pas untuk ia berikan kepada Lisa. Tidak beberapa lama, Fira pun sampai ke toki tersebut karena ia harus menjemput sepupunya.


Sepupunya tersebut merupakan salah satu karyawan disana.


"Tunggu sebentar ya, ada pembeli. Nanti kalau pembeli ini sudah selesai baru kita pergi," kata sepupu Fira.


"Iya deh kak, tapu jangan lama-lama," kata Fira.


"Iya-iya," kata sepupu Fira.


Saat Fira berada diruang tunggu, ia kemudian melihat pembeli yang dimaksud oleh sepupunya tersebut.


Ia seperti tidak asing dengan wajah tersebut. Ia kemudian mengingat wajah Sandi dengan berulang-ulang.


Ia akhirnya teringat dengan sosok Sandi.


"Dia kan suami Tiara," Fira mengingat wajah tersebut saat ia pernah melihat foto Sandi beberapa kali.


Dia kemudian mengambil ponsel pintarnya dan memotret Sandi dari kejauhan.


Enak sekali Tiara, suaminya romantis. Batin Fira yang menebak Sandi akan membelikan Tiara perhiasan.

__ADS_1


"Mudah-mudahan aku dapat suami kaya dia," gumam Fira berangan-angan.


__ADS_2