Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 08


__ADS_3

"Kasihan Sandi pah, sepertinya dia sudah mencintai Lisa terlalu dalam," kata bu Sari.


"Kamu benar mah, perempuan itu sudah membuat putra kita tergila-gila padanya," kata pak Airlangga.


"Tapi tidak lagi untuk kedepannya, papah yakin Tiara akan menjadi pengganti Lisa yang tepat untuk Sandi. Perlahan-lahan, Sandi akan melupakan Lisa," kata pak Airlangga.


"Amin, mudah-mudahan ya pah," jawab bu Sari tersenyum.


Pagi-pagi sekali Tiara sudah bangun dari tidurnya. Pergi ke meja rias dan mengikat rambutnya, lalu pergi ke dapur untuk membantu ibunya memasak. Ia belum menjumpai ibunya disana.


Sepertinya ibu belum bangun tidur. Batin Tiara dalam hatinya.


Tidak lama, Tiara mendengar suara langkah kaki pelan dari arah kamarnya orang tuanya. Langkah kaki itu adalah langkah kaki ibunya.


"Tumben ibu bangunnya lebih lama dari Tiara," kata Tiara tersenyum.


"kan cuma beda 5 menit nak, begitu saja kamu bercanda," kata bu Lilis tersenyum.


Tiara membalasnya dengan senyuman.


"Bu, aku mau tanya sesuatu boleh?," tanya Tiara.


"Boleh donk, kamu mau tanya apa rupanya nak?," kata bu Lilis.


"Bu, saat nanti aku menikah dengan mas Sandi, bisa tidak ya, mas Sandi menerima kehadiranku sebagai istrinya?," tanya Tiara.


"Astagfirullah, kenapa kamu bertanya seperti itu nak?," tanya bu Lilis kaget.


"Aku terus memikirkan hubungan mas Sandi dan Lisa bu. Aku takut sekali, bila nanti Lisa membayangi hubungan pernikahan kami," kata Tiara.


"Kalau pertanyaan kamu ini, ibu bingung mau menjawabnya, karena itu sesuatu yang tidak bisa diterka nak," kata bu Lilis.


"Apalagi Lisa itu memiliki semuanya bu, dia seorang aktris terkenal, dia juga berpenghasilan. Secara fisik, dia sempurna sebagai wanita bu. Dia cantik, tinggi, putih mulus, dan juga perawakannya langsing. Betul-betul sangat sempurna bu." kata Tiara.


"Haduh, tambah menjadi-jadi kekhawatiran kamu, membuat ibu juga semakin was-was nak," kata bu Lilis.


"Tuh kan, ibu saja bingung, apalagi Tiara," kata Tiara.


"Coba nanti setelah sarapan kita bahas dengan bapakmu," kata bu Lilis.


"Apa bapak tau perasaan perempuan bu?," tanya Tiara ragu.


"Ya paling tidak diakan memiliki anak perempuan yaitu kamu, yang mau menikah kamu. Ibu yakin nak, bapak kamu pasti akan dapat merasakan apa yang kamu rasakan," kata bu Lilis.


"Mudah-mudahan ya bu," kata Tiara.


"Iya nak, ayo kita mulai masak " kata bu Lilis.

__ADS_1


"Iya bu," kata Tiara.


Tiara dan ibunya sudah selesai mempersiapkan sarapan pagi, Doni dan pak Arifin juga sudah duduk dimeja makan. Mereka menikmati santap pagi ini dengan selera yang tinggi.


Dimeja makan yang berbeda, yaitu meja makan rumah Sandi, sarapan pagi sudah disiapkan. Sandi dan keluarga menikmati sarapan pagi dengan senang.


"San, apa tidurmu nyeyak tadi malam?," tanya pak Airlangga memulai percakapan. Pak Airlangga berusaha mencairkan suasana.


"Lumayanlah pah," kata Sandi.


"Beguslah nak," kata pak Airlangga.


"Iya pah," kata Sandi.


"Apa kesibukanmu hari ini dikantor San?, tanya pak Airlangga.


"Aku ada rapat sedikit pah, untuk pembangunan proyek dikota xxx," kata Sandi.


"Sepertinya pembangunan itu sedang menuju realisasi lapangan," kata pak Airlangga.


"Iya pah, mudah-mudahan proyek ini berjalan dengan lancar,"kata Sandi.


"Mudah-mudahan nak," kata pak Airlangga.


Sandi tersenyum manis.


Baguslah, sepertinya mood putraku sudah membaik. Batin pak Airlangga.


Donipun segera berangkat sekolah agar tidak terlambat.


"Don, kamu berangkat sekolahnya sama Noval saja ya nak, biar mama antar ke rumah Noval," kata bu Lilis.


Noval adalah teman sekelas Doni, kebetulan rumahnya bersebelahan dengan Doni. Mereka juga masih termasuk kerabat dekat.


"Kenapa Doni berangkat sama Noval bu?," tanya pak Arifin.


"Ada yang mau kita obrolkan pak, penting!," kata bu Lilis.


"Ayo Don, ibu antar," kata bu Lilis.


"Iya bu," kata bu Lilis.


Bu Lilis mengantar Doni ke rumah noval. Usai mengantar putra bungsunya, ia segera kembali ke rumah.


"Sebenarnya apa yang mau dibahas bu?," tanya pak Arifin bingung.


"Begini lho pak, Tiara inikan merasa bimbang pak," kata bu Lilis.

__ADS_1


"Bimbang kenapa sih bu, karena apa?," tanya pak Arifin.


"Pak, Tiara itu takut karena Lisa itu," kata bu Lilis.


"Takut karena apa sih bu?," tanya pak Arifin.


"Pak, Tiara takut kalau-kalau Sandi tidak bisa melupakan Lisa, Tiara tidak ingin Lisa membayang-bayangi rumah tangganya kelak dengan Sandi," kata bu Lilis.


"Kamu benar bu, tapi bapak juga tidak bisa menyimpulkan apapun tentang hal itu bu, apalagi, itukan hal yang akan terjadi kedepannya, hanya Allah saja yang tahu, kita sebagai hambanya tidak boleh menerka-nerka," kata pak Arifin.


"Betul juga sih pak, tapi paling tidak kita ada usaha dan solusi gitu pak sebelum hal itu terjadi," kata pak Arifin.


"Ya sudah, bapak akan telepon pak Airlangga pagi ini, supaya hati kalian tenang," kata pak Arifin.


"Apa tidak terlalu cepat pak, kan baru saja tadi malam bapak sampikan masalah ini, kenapa begitu terburu-buru membahasnya lagi?," kata Tiara.


"Haduh, kalian membuat bapak menjadi sangat bingung. Sudahlah, biar bapak telpon saja pak Airlangga, supaya kalian tidak menerka-nerka," kata pak Arifin.


"Iya Tiara, biarkan saja bapak kamu telepon lagi pak Airlangga," kata bu Lilis.


"Ya sudah bu, Tiara ikut saja apa kata bapak sama ibu, mana baiknya saja," kata Tiara.


pak Arifin mengambil ponselnya dari kantong celana, mencari kontak pak Airlangga lalu mengklik tombol panggilan keluar.


Nada dering ponsel pak Airlangga berbunyi, ia melihat layar ponselnya.


"Siapa pah?," tanya bu Sari.


"Pak Arifin mah," kata pak Airlangga


Mendengar itu Sandi menghentikan aktivitas makannya.


"Halo pak," kata pak Airlangga.


"Oh iya, Halo pak, maaf mengganggu" kata pak Arifin.


"Oh iya pak, tidak apa-apa," kata pak Airlangga.


"Oh iya pak, mengenai pembahasan tadi malam bagaimana pak?," tanya pak Arifin.


Pak Airlangga terdiam sejenak. Ia bingung mau bicara apa ke pak Arifin, calon besannya itu.


"Oh iya pak, Sandi sudah mengatakan ke saya kalau ternyata dia sudah lama putus dari Lisa, bahkan sudah lebih dari dua bulan," kata pak Airlangga.


"Mereka sudah putus pak?," kata pak Arifin terkejut. Bu Lilis dan Tiara pun terkejut, mereka mengerenyitkan dahinya.


Sandi yang mendengarnya, membuat kedua matanya terbelalak.

__ADS_1


"Ia pak, mereka sudah putus. Saya sudah menanyakannya kepada Sandi. Bahkan saya marah padanya, kenapa tidak memberi tahukan bahwa ia menjalin hubungan kasih dengan Lisa?. Tapi dia bilang, mereka sudah putus sejak lebih dari 2 bulan lalu," kata pak Airlangga.


"Begitu ya pak, lalu kenapa media tidak mengetahui itu pak?," tanya pak Arifin menelusuri.


__ADS_2