Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 58


__ADS_3

Karena jarak antara restauran dan kantor tidak jauh mereka pun sampai hanya dalam hitungan belasan menit saja.


Langkah kaki bu Sari, Tiara, dan Sandi saling beradu saat memasuki pintu utama kantor.


Semua mata karyawan tertuju pada perempuan yang berjalan tepat disebelah Sandi, yaitu Tiara.


Mereka merasa asing dengan sosok Tiara yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki dikantor.


Mereka berbisik satu sama lain, bertanya-tanya tentang siapa perempuan yang berada disebelah bos mereka?.


Mereka bertiga menaiki tangga lift. Sandi menekan tombol lantai 12, yaitu lantai ruang kerja papahnya dan dirinya. Lift berjalan dengan cepat, hanya beberapa menit saja mereka telah berada dilantai 12.


Sandi mengetuk pintu ruang kantor papahnya terlebih dahulu sebelum masuk.


"Iya, silahkan masuk!," kata pak Airlangga.


Mereka bertiga pun masuk ke ruang kerja pak Airlangga.


"lho, kalian rupanya," kata pak Airlangga.


"Iya pah," kata Sandi.


"Ayo kita duduk!," kata pak Airlangga.

__ADS_1


"Iya pah," kata Sandi.


Mereka semua pun duduk bersama dan membicarakan beberapa hal tentang perusahaan.


Pak Airlangga juga mengatakan bahwa suatu saat Tiara juga harus ambil bagian dalam perusahaan karena bagaimanapun dia sudah menjadi istri Sandi yang artinya bagian keluarga mereka.


Usai berbincang-bincang cukup lama, bu Sari meminta Sandi agar membawa Tiara ke ruang kerjanya. Sandi menuruti perintah ibunya.


"Luas juga ya mas ruang kerja mas, sama seperti ruang kerja milik papah," kata Tiara berdecak kagum.


"Ya begitulah," kata Sandi.


Sama seperti diruang kerja pak Airlangga tadi, Tiara dan Sandi juga berbincang-bincang tentang apa yang dikerjakan Sandi diruang kerjanya ini dan bagaimana dia bertanggung jawab atas pengelolaan perusahaan?.


Bu Lilis yang kebetulan hari ini memang ingin istirahat dan membiarkan toko tutup memperhatikan raut wajah putra bungsunya itu merasa heran.


"Kamu kok murung gitu nak, ada apa?," tanya bu Sari.


"Doni sedih bu mas Sandi sudah kembali ke rumahnya," kata Doni menjelaskan alasan kenapa ia terlihat murung.


"Oh karena itu ternyata. Mas Sandi kan punya rumah juga, jadi wajar donk mas Sandi harus kembali ke rumahnya," kata bu Sari.


"Tapi Doni jadi tidak punya teman," kata Doni.

__ADS_1


Bu Sari merasa terenyuh karena memang semenjak Tiara menikah dengan Sandi Doni jadi sering sendiri dirumah karena dirinya menjaga toko dan pak Arifin harus bekerja di perusahaan cabang milik Sandi.


"Maafin ibu ya nak kurang waktu untuk menemani kamu," kata bu Sari.


"Tidak apa-apa bu, aku juga sudah besar jadi tidak apa-apa kalau ditinggal kerja. Doni hanya merasa sedih karena mas Sandi cuma sebentar disini," kata Doni.


Bu Sari tersenyum.


"Nanti pasti ada waktu dimana mas Sandi dengan kak Tiara akan berkunjung ke rumah kita lagi," kata bu Sari.


"Mudah-mudahan saja ya bu," kata Doni.


"Iya sayang," kata bu Sari.


Doni sedikit tersenyum, bu Sari yang memperhatikannya pun menjadi lega.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 16:00, waktu pulang jam kantor sebentar lagi namun pekerjaan Sandi sudah selesai semua.


"Tir, kita pulang yuk!,' kata Sandi kepada Tiara yang sedang membaca buku kuliah.


"Apa pekerjaan mas sudah selesai semua?," tanya Tiara.


"Sudah Tir, sudah selesai semua," kata Sandi.

__ADS_1


"Baik mas, kalau begitu mari kita pulang!," kata Tiara.


__ADS_2