
Sandi bingung, jika nanti ia selesai mandi ia akan mengenakan pakaian apa? dia tidak membawa pakaian ganti. Dia tidak berfikir bahwa akan menginap dirumah Lisa jadinya.
Namun Lisa santai mengatasi hal itu.
"Aku ada simpan pakaian kamu. Tertinggal waktu dulu kamu pernah nganterin aku hujan-hujan. Kamu jadinya nginap disini waktu kamu ada perjalanan bisnis diluar kota!," kata Lisa.
"Oh iya aku baru ingat," kata Sandi.
"Ya sudah mandi sana. Keburu supnya dingin," kata Lisa.
"Baik sayangku," kata Sandi.
Suara langkah Pak Airlangga kini terdengar jelas menuruni tangga. Sudah saatnya jam sarapan pagi. Tiara dan bu Sari sudah berada dimeja makan menunggu.
"Ayo pa!, kita sarapan pagi," kata Tiara.
"Ayo nak," kata pak Airlangga.
"Kemana Sandi? kenapa belum turun juga untuk sarapan pagi? apa dia masih tidur Tiara?," tanya pak Airlangga.
"Mas Sandi tidak ada dirumah pah. Dia tadi malam keluar," kata Tiara.
"Apa? keluar kemana dia?," tanya pak Airlangga dengan nada tinggi.
"Sabar pah," kata bu Sari menenangkan suaminya itu.
"Tenang pah. Mas Sandi tadi malam keluar hanya untuk mengurusi proyek yang sedang bermasalah pah," kata Tiara.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya nak?,"
tanya pak Airlangga.
"Soalnya sebelum pergi pah, mas Sandi bilang dia harus pergi karena ada masalah pada proyek yang sedang dikerjakan," kata Tiara.
"Baiklah kalau begitu, kita tunggu saja Sandi pulang nanti untuk meminta kejelasannya. Soalnya papah ingin istirahat untuk beberapa hari dari kesibukan bekerja. Papah sudah banyak lelah untuk mengurusi pernikahan kamu dan Sandi nak," kata pak Airlangga.
"Ia pah, Tiara mengerti," kata Tiara.
Mereka melanjutkan sarapan pagi.
__ADS_1
Sandi keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah yang diberi oleh Lisa tadi. Lisa kemudian memintanya segera menyantap sup buatannya. Sandi pun mengangguk tanda mengiyakan perintah dari kekasihnya itu.
Sandi mencoba mencicipi secara perlahan sup buatan Lisa. Dia memuji sup buatan Lisa. Dia kemudian menyantapnya dengan lahap.
"Memangnya seenak itu ya sayang sup buatan aku? sampai-sampai kamu seperti dikejar sesuatu saat menyantapnya," tanya Lisa.
"Hehehe, Iya sayang, enak sekali sup buatan kamu ini," kata Sandi.
"Untung saja porsinya aku perbanyak," kata Lisa.
"Berarti cuma ini ya sayang?," tanya Sandi.
"Iya, kenapa memangnya sayang?," tanya Lisa.
"Padahal aku mau nambah. Hehehe," kata Sandi bergurau.
"Kamu bisa saja sayang," kata Lisa tersenyum.
"Sayang, aku mau minum," kata Sandi.
"Terus?," tanya Lisa.
"Ya udah, aku akan mengambilnya," kata Lisa.
Sandi meminum air putih yang diberikan oleh Lisa. Dia meneguknya dengan cepat. Kini dahaganya sudah terpuaskan.
"Bagaimana sayang? apa dahagamu sudah hilang?," tanya Lisa.
"Sudah sayang, hehehe. Terima kasih ya," kata Sandi.
"Ia," kata Lisa.
Sepertinya ini waktu yang tepat buat aku jelasin semuanya ke Lisa masalah pernikahanku dengan Tiara. Kemungkinan Lisa akan akan menerima penjelasanku dan tidak lagi salah paham. Batin Sandi.
"Sayang, aku mau ngomong sesuatu nih sama kau. Penting sekali," kata Sandi.
"Pasti masalah penghianatan kamu itu kan? masalah kamu yang menikah dengan perempuan itu," kata Lisa.
"Bukan begitu sayang. Aku sangat mencintaimu bagaimana aku bisa menghianati kamu," kata Sandi.
__ADS_1
"Gombal," kata Lisa.
"Bukan gombal sayang. Memang seperti itu adanya," kata Sandi.
"Terserah deh. Ya sudah, langsung saja kamu jelasin. Mumpung aku masih mau dengarkan,"
kata Lisa.
"Iya deh sayang. Sebenarnya aku bohong sayang sama kamu selama ini. Aku sudah berencana ingin mengatakan kepada papah sama mamah aku bahwa aku berencana ingin serius sama kamu. Tapi sebelum aku mau menyampaikan niat itu kepada mereka, papah keburu jodohin aku sama Tiara sayang," kata Sandi.
"Namanya Tiara?," tanya Lisa.
"Iya sayang, namanya Tiara. Dialah perempuan yang sekarang secara sah menjadi istriku. Baik dimata agama dan juga dimata negara," kata Sandi.
"Lalu apa alasan papah kamu menjodohkan kamu dengan dia? kenapa harus dia?," tanya Lisa memperdalam rasa ingin tahunya tentang pernikahan Sandi.
"Begini sayang. Tiara itu adalah putri dari pak Arifin. Jadi pak Arifin adalah salah satu karyawan kami disalah satu perusahaan cabang. Pak Arifin sudah lama bersahat baik sama papah. Pak Arifin juga pernah menyelamatkan papah aku dalam sebuah kecelakaan proyek. Sejak saat itu papah aku merasa berhutang nyawa kepada pak Arifin. Jadi, papah aku berfikir untuk membayar hutang itu papah ingin membayarnya secara tunai dengan menikahkan aku dengan putri pak Arifin," kata Sandi menjelaskan.
"Itu sih mungkin salah satu alasan papah kamu sayang. Kalau cuma ingin balas bisa bisa dengan banyak cara. Bisa dengan cara mengangkat posisi pak Arifin itu menjadi direktur, atau menguliahkan istri kamu itu di luar negri kemudian mengangkatnya jadi direktur," kata Lisa.
"Apa yang kamu bilang itu memang ada benarnya juga sayang. Papah pasti menjadikan alasan hutang budi itu untuk menolak kamu jadi menantunya," kata Sandi.
"Pasti benar sayang apa yang aku duga itu. Jadi bagaimana sekarang sayang posisiku saat ini? aku sudah sangat malu. aku sudah takut keluar kemana-mana sementara ini. semua wartawan sedang mencari-cari aku. Aku juga sampai batalin banyak kontrak dan menolak banyak tawaran pengiklan yang datang karena aku terlanjur malu," kata Lisa menangis.
Sandi merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa Lisa. Dia juga tidak tahu harus bilang apa dan berbuat apa. Semua terjadi diluar kehendaknya.
"Aku tahu sayang apa yang kamu rasakan. Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang aku ceritakan tadi itulah yang sebenarnya terjadi. Aku tidak bisa melawan kehendak papahku," kata Sandi sembari memeluk Lisa yang menangis tersedu-sedu.
"Tapi lebih dari itu masih ada hal yang lebih membuat aku sakit. Tentang hubungan kita yang saat ini menggantung, semua tidak ada kejelasan. Kita sudah saling tulus mencintai satu sama lain. Tapi kini semua itu seperti sia-sia," kata Lisa. Sandi semakin merasa bersalah. Sandi hanya terdiam memeluk Lisa.
"Aku akan tetap perjuangkan hubungan kita. Semua tidak bisa berlalu secara sia-sia," kata Sandi.
"Apa yang mau kamu perjuangkan sayang? semuanya sudah terlambat," kata Lisa melepaskan pelukan.
"Aku akan terus berusaha memperjuangkan hubungan kita," kata Sandi.
"Hanya ada tiga jalan sayang. Pertama kamu jadikan aku perempuan simpanan kamu. Yang kedua, kamu jadikan aku sebagai istri kedua. Yang ketiga, kamu jadikan aku sebagai istri kamu satu-satunya, dengan cara kamu ceraikan Tiara," kata Lisa dengan wajah yang serius.
Sandi kaget melihat Lisa yang dengan mudah mengambil jalan keluar dan kesimpulan untuk kelanjutan hubungan mereka. Sandi terdiam beberapa saat.
__ADS_1