Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 19


__ADS_3

Melihat Sandi yang begitu erat memegang tangannya, Lisa merasa tersentuh. Dia merasakan cinta Sandi yang dalam dari genggaman tangan itu. Entah apa yang menggerakkan tangan Lisa? sehingga tanpa aba-aba ia membelai wajah Sandi yang kini sudah tertidur pulas.


San, kenapa orang sebaik kamu jatuh cinta padaku? jika kamu seandainya tahu, bahwa aku hanya ingin memanfaatkan kamu saja dan menginginkan hartamu, apa yang akan kamu lakukan?. Batin Lisa. Lisa menarik selimut. Ia kini tidur disamping Sandi.


Pagi-pagi sekali Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Seperti biasa ia akan bangun awal setiap pagi untuk menunaikan shalat subuh.


Tiara melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk melaksanakan wudhu. Selepas itu, mengambil mukenah dan sajadah. Ia siap melaksanakan shalat subuh.


Dia terlihat sangat khusyuk melakukan ibadah shalat subuh itu. Dia bahkan mendoakan semuanya. Baik keluarganya dan keluarga barunya, yaitu keluarga Sandi ia doakan dengan tulus. Ia juga mendoakan kejadian tadi malam. Ia mulai merasa cemas. Dihari pertama menikah, sudah ada hal yang membuat ia khawatir.


Kini Tiara sudah selesai menunaikan ibadah shalat subuh. Ia berniat turun ke dapur. Tiara keluar dari kamarnya. Melewati tangga menuju ruang bawah. Rumah Sandi sangat besar. Sandi dan Tiara juga tinggal dikamar atas. Jadi ia harus melewati tangga jikalau hendak ke dapur.


Tiara sudah berada diruang bawah. Tapi ia menjadi bingung, karena ruangan dibawah sangat luas. Dan belum nampak ada satu orang pun disana. Tidak lama, ada suara hentakan kaki melewati tangga yang sama dengan yang dilewati oleh Tiara. Ia melihat ke arah tangga. Ternyata ibu mertuanya. Tiara tersenyum. Bu Sari juga tersenyum. Sama dengan Tiara, kamar bu Sari dan pak Airlangga juga berada diatas.


"Kamu sudah bangun nak," kata bu Sari.


"Ia ma, aku ingin ke dapur. Tapi aku bingung ma jalan ke dapur lewat mana? soalnya rumah mama luas sekali," kata Tiara.


Mendengarnya ibu Sari senang bahwa ia memiliki menantu yang rajin.


"Iya sudah, kita sama-sama ke dapur," kata bu Sari.


"Oh, mama mau ke depur juga?," tanya Tiara.


"Ia nak. mama selalu ke dapur setiap pagi untuk membantu para asisten rumah tangga menyiapkan makanan untuk sarapan pagi," kata bu Sari.


"Begitu ya ma," kata Tiara.


Bu Sari dan Tiara berjalan menuju dapur. Disana mereka sudah melihat 3 asisten rumah tangga sedang sibuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan. Bu Sari mengarahkan Tiara untuk pekerjaannya pagi ini. Bu Sari memilih pekerjaan yang sama dengan Tiara agar mereka bisa mengerjakannya sambil mengobrol.


"Nak, mama ingin tanya sesuatu kepada kamu boleh?," tanya bu Sari.

__ADS_1


"Boleh sekali ma, silahkan ma!," kata Tiara.


"Bagaimana malam pertama mu dengan Sandi nak?," tanya bu Sari.


"Tidak terjadi apa-apa ma," kata Tiara dengan nada polos. Mendengar perkataan Tiara tersebut, bu Sari kaget.


"Apa maksudnya nak tidak terjadi apa-apa?," kata bu Sari.


"Iya ma, tidak terjadi apa-apa. Karena mas Sandi meninggalkan Tiara sendiri dikamar. Mas Sandi bilang, kalau ia harus pergi tadi malam untuk mengurus proyek yang sedang dikerjakan. Kata mas Sandi, proyek itu sedang bermasalah ma," kata Tiara. Bu Sari kembali kaget untuk kedua kalinya.


"Astagfirullah, mama kaget sekali mendengarnya. Kenapa bisa tiba-tiba begitu ya nak," kata bu Sari bersedih.


"Tiara juga merasa kaget ma. Tapi Tiara merasa baik-baik saja kok," kata Tiara.


"Kamu sudah coba telepon dia pagi ini?," tanya bu Sari.


"Belum ma. Aku hanya menghubungi mas Sandi tadi malam," kata Tiara.


"Mas Sandi tidak mengangkat panggilan Tiara ma. Tapi mas Sandi mengirimkan pesan kalau ia sedang rapat. Jadi tidak bisa berbicara dengan siapapun lewat sambungan telepon," kata Tiara.


"Ya sudah nak. Kamu jangan bersedih hati! mudah-mudahan Sandi akan segera pulang," kata bu Sari.


"Ia ma," kata Tiara tersenyum.


Kenapa sangat mendadak sekali ya? Kenapa harus dimalam pertama pernikahan Sandi? Mudah-mudahan memang benar Sandi pergi karena rapat masalah proyek bukan hal yang lain. Batin bu Sari mengharapkan semuanya baik-baik saja.


Bu Sari melamun karena ini. Tiara yang melihat ibu mertuanya melamun kemudian menegurnya.


"Ma, kenapa mama tampak melamun? sedang memikirkan apa ma?," tanya Tiara dengan perhatian.


"Tidak ada kok nak. Mama hanya melamun begitu saja," kata bu Sari.

__ADS_1


"Syukurlah ma," kata Tiara. Bu Sari tersenyum.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi. Lisa terbangun dari tidurnya. Memang ia terbiasa bangun pada jam ini. Dia segera bangun dari tempat tidurnya. Akan tetapi dia menjadi sedikit kaget karena ada tangan yang bersandar diatas perutnya. Dia baru sadar setelah melihat bahwa itu tangan Sandi. Ia tersadar bahwa Sandi memang tidur di sampingnya tadi malam. Lisa tersenyum dan mengelus-elus wajah Sandi.


Lisa kemudian beranjak dari kamar tidurnya. Mengambil sepotong kimono handuk untuk mandi. Ia menyalakan shower dan siap untuk mandi.


Usai mandi, Lisa turun ke dapur. Sandi masih terlelap dalam tidurnya. Lisa berencana ingin memasak sup ayam untuk Sandi. Hal itu dilakukan Lisa supaya tubuh Sandi sedikit lebih membaik dari sebelumnya.


Dia segera menyiapkan semua bahannya. Dia biasanya dibantu oleh asisten rumah tangga. Namun karena asisten rumah tangga sedang pulang kampung dia memilih memasak sendiri.


Sup kini sudah siap dihidangkan. Lisa membawa sup itu ke kamarnya. Lagi dan lagi Lisa melihat Sandi masih tertidur lelap. Ia meletakkan sup tadi di meja. Lisa membangunkan Sandi. Ia menepuk-nepuk wajah Sandi secara pelan-pelan. Tak lama kemudian Sandi terbangun dari tidurnya yang lelap. Dia memandang wajah Tiara samar-samar. Dia tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum begitu?," tanya Lisa.


"Tidak apa-apa sayang. Aku senang kamu membangunkan ku," kata Sandi.


"Cuma dibangunkan begitu saja kok senang. Dasar aneh kamu," kata Lisa.


"Iya sayang. Aku senang karena aku yakin kamu sudah tidak marah lagi," kata Sandi.


"Tahu dari mana kamu kalau aku sudah tidak marah lagi?," tanya Lisa.


"Dari wangi sup buatan kamu sayang," kata Sandi. Lisa terdiam mendengar ucapan Sandi.


"Kalau kamu masih marah padaku, pasti tidak mungkin kamu buatkan aku sup. Sup itu pertanda kalau kamu masih sangat sayang dan perhatian padaku. Iya kan sayang?," kata Sandi. Lisa tersenyum. Sandi tiba-tiba memeluk Lisa.


"Terima kasih ya sayang untuk perhatianmu. Aku sangat sayang padamu," kata Sandi.


"Iya sayang," kata Lisa. Sandi sangat senang ketika Lisa memanggilnya dengan sebutan "sayang".


Lisa kemudian meminta supaya Sandi segera pergi mandi supaya sup buatannya tidak keburu dingin.

__ADS_1


__ADS_2