
Sandi mengakhiri sambungan teleponnya dengan Lisa. Ia kembali fokus menyetir.
Bunyi dering ponsel bu Sari terdengar jelas. Ada panggilan masuk dari seseorang. Bu Sari segera mengangkat panggilan itu. Itu adalah panggilan dari Elvi, putrinya.
"Halo Elv," kata bu Sari.
"Halo mamahku sayang, apa kabar mamah cantik?," tanya Elvi.
"Halo putri mamah sayang, mamah baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?," tanya bu Sari.
"Aku juga baik-baik saja mah," kata Elvi.
"Syukurlah nak, mamah senang dengarnya. Tapi tumben nih anak perempuan mamah yang super sibuk punya waktu untuk telepon ibunya," kata bu Sari menyindir.
"Mamah ini, kok nyindir gitu," kata Elviana.
"Bukan nyindir, memang itu kenyataannya nak," kata bu Sari.
"Hm, ya sudah deh terserah mamah," kata Elviana kesal.
"Haduh, jangan ngambek begitu donk anak gadis mamah," kata bu Sari.
"Elvi gak ngambek kok mah," kata Elvi.
"Hm, iya deh," kata bu Sari.
"Elvi menghubungi mamah itu karena Elvi kangen sama mamah. Elvi juga pingin tahu keadaan mamah," kata Elvi.
"Benarkah? mamah senang kalau kamu memberi perhatian seperti itu ke mamah," kata bu Sari.
"Iya mah," kata Elvi tersenyum.
Sebenarnya Elvi juga ingin menanyakan sesuatu kepada ibunya itu.
"Mah, Elvi tanya sesuatu boleh tidak?," tanya Elvi.
"Boleh donk nak," kata bu Sari.
"Elvi mau memastikan sesuatu nih mah," kata Elvi.
"Tentang apa sayang?," tanya bu Sari.
"Tentang hubungan Sandi dengan Lisa," kata Elvi.
"Memangnya kenapa nak?," tanya bu Sari.
__ADS_1
"Aku tadi malam menghubungi Sandi untuk tanya bagaimana keadaan dia? aku juga bertanya tentang hubungan Sandi dengan Lisa mah. Sandi kemudian mengatakan kalau dia sudah putus dengan si Lisa itu. Elvi kaget mendengarnya. Apa perkataan Sandi itu benar mah?," tanya Elvi.
"Oh, itu benar nak. Mamah dan papahmu sudah berkeras kepada Sandi. Kami mau Sandi mengakhiri hubungannya dengan Lisa. Bahkan, papahmu mengancam akan mengusir Sandi dari rumah jika dia masih mempertahankan Lisa," kata bu Sari menjelaskan.
"Papah sampai bilang gitu mah? berarti itu alasan Sandi mutusin Lisa. Baguslah mah, Elvi juga tidak suka jika Sandi masih berhubungan dengan perempuan itu," kata Elviana
"Iya Elv, mamah mengerti," kata bu Sari.
"Oh iya mah, kan Sandi sekarang masih sendiri, bagaimana kalau dia kita jodohkan dengan Lia?," tanya Elvi.
"Apa? tidak!," kata bu Sari menolak dengan tegas.
"Kenapa mah? apa yang salah dengan Lia? dia perempuan yang baik mah, dia juga cerdas dan bijak," kata Elvi.
"Elvi, meskipun selama ini Lia tinggal bersama tantenya, tapu mamah sudah menganggap dia seperti anak mamah sendiri. Mamah yang mengurus dia dari kecil semenjak ibunya meninggal dalam kecelakaan maut dulu. mvMamah tidak pernah menginginkan dia dengan Sandi berhubungan," kata bu Sari dengan tegas
"Tapi mah..," kata Elvi terhenti.
"Tidak Elv, mamah bilang tidak. Sekali mamah bilang tidak, maka untuk seterusnya tidak," kata bu Sari.
"Baiklah mah, Elvi mengerti. Elvi akan menurut akan perkataan mamah," kata Elvi. Elvi tidak berani lagi menyinggung soal keinginannya menjodohkan Sandi dan Lia untuk saat ini. Bukan tanpa alasan, ini adalah pertama kali ia mendengar ibunya marah besar sampai-sampai suaranya menggelegar.
"Ya sudah sayang, mamah senang kamu mengerti. Maafkan mamah ya marah sama kamu barusan," kata bu Sari.
"Baguslah nak, kalau kamu mau memahami mamah sayang," kata bu Sari.
"Ok mah, kalau begitu Elvi tutup ya sambungan teleponnya. Elvi akan kembali bekerja," kata Elvi.
"Baiklah nak, kamu baik-baik disana ya," kata bu Sari.
"Ia mah, mamah juga baik-baik disana," kata Elvi.
"Iya nak," kata bu Sari menutup sambungan teleponnya dengan Elvi.
Maafkan mamah ya Elv, bukannya mamah tidak setuju dengan keinginan kamu menjodohkan Lia dengan Sandi. Mamah juga sebenarnya ingin sekali Lia menjadi menantu dikeluarga kita dan mendampingi Sandi akan tetapi apa boleh buat? mamah tidak mau mengingkari janji kepada mamahnya Lia. Mamah ingat sekali detik-detik terakhir sebelum mamahnya Lia mengakhiri hidupnya, ia memberikan sepucuk surat dan wasiat kepada mamah. Sebagian isi wasiat itu, mamah harus menikahkan Lia dengan seorang laki-laki yang ayahnya adalah mantan kekasih ibunya. Batin bu Sari menghela nafas.
Bu Sari meletakkan ponselnya diatas meja. Ia memanggil salah satu asisten rumah tangga untuk membuatkan secangkir teh untuknya.
Jam kuliah pertama telah selesai. Farhan mengajak Tiara untuk makan bersama.
"Tir, ayo makan bareng ke kantin," kata Farhan mengajak Tiara. Saat hendak menjawab ajakan Farhan, Fira memotong Tiara untuk berbicara.
"Maaf Han, aku dan Tiara mau bertemu dengan dosen," kata Fira berbohong. Tiara bingung, sejak kapan ia bilang kepada Fira ingin menemui dosen hari ini?.
"Gitu ya Fir, kamu memang benar mau ketemu dosen ya Tir?," tanya Farhan.
__ADS_1
"Iya Han, aku dan Fira mau bertemu dengan Dosen," kata Tiara.
"Gitu ya, ya udah tidak apa-apa," kata Farhan.
"Ok Han, besok-besok saja ya makan bareng dikantinnya," kata Tiara.
"Iya Tir," kata Farhan diselingi dengan senyuman.
"Ayo Tir," kata Fira merangkul tangan Tiara.
"Ia Fir," kata Fira.
Tiara dan Fira meninggalkan Farhan. Farhan kemudian memilih ke kantin untuk makan karena dia tidak sempat sarapan pagi tadi.
"Kita mau kemana sih Fir sebenarnya?," tanya Tiara melepaskan rangkulan.
"Kita mau ke taman, aku mau bicara sesuatu sama kamu," kata Fira membuat Tiara penasaran.
"Mau bicara apa kamu?," tanya Fira.
"Udah, ayo ke taman dulu," kata Fira merangkul tangan Tiara untuk kedua kalinya. Tiara akhirnya menurut.
Fira mendudukkan Tiara dikursi taman. Kemudian ia menatap serius ke wajah Tiara.
"Kamu apaan sih Fir, natap aku sampai segitunya," kata Tiara.
"Aku mau bicara penting sama kamu Tir," kata Fira.
"Ia apa, apa yang kamu mau katakan?," tanya Tiara.
"Jadi aku mau bilang gini, kamu masih ingat tidak dengan apa yang aku katakan dulu sama kamu?,'' tanya Fira.
"Masalah apa Fir?," tanya Tiara.
"Masalah aku yang suka sama Farhan," kata Fira.
"Oh iya, aku ingat Fir. Lalu kenapa dengan itu?," tanya Tiara.
"Kamu kan sudah tahu kalau aku menyukai Farhan, tapi kenapa kamu malah sangat dekat dengannya? apa kamu juga menyukainya? kalau ia, aku tidak apa-apa," kata Fira.
"Astaga Fir, kenapa kamu bilang begitu?," kata Tiara.
"Habisnya kamu nampak begitu akrab dengannya. Sampai-sampai aku tidak memiliki celah untuk bisa dekat dengannya," kata Fira.
"Kan aku sudah pernah bilang sama kamu dengan jelas. Aku tidak pernah menyukai Farhan. Aku hanya menganggap dia sebatas sahabat," kata Tiara. Fira tetap nampak ragu meskipun Tiara sudah mengatakan kejujuran.
__ADS_1