Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 30


__ADS_3

Lisa mengajak Sandi untuk menonton Film horor yang lagi naik daun di Indonesia sekarang. Lisa mengajak Sandi menonton horor itu dikamarnya. Bukan tanpa alasan memang, hal itu karena televisi yang berada dikamar Lisa ukurannya lebih besar dari pada televisi yang berada diruang bawah.


Lisa masih sibuk mencari kaset CD film horor yang akan mereka tonton saat ini.


"Apa yang sedang kamu cari sayang?," tanya Sandi.


"Aku mencari kaset CD film horor yang mau kita tonton. Aku lupa meletakkan kaset itu dimana," kata Lisa.


"Baiklah, aku akan membantu kamu mencari kaset itu," kata Sandi.


"Tidak usah sayang, aku sudah menemukannya," kata Lisa menunjukkan kaset CD tersebut.


"Syukurlah," kata Sandi.


Lisa segera menghidupkan CD. Ia memasukkan kaset tersebut, kemudian film pun dimulai. Pada awal-awal film tersebut semuanya biasa saja memang akan tetapi lama-kelamaan adegan-adegan yang menyeramkan mulai ditampilkan dilayar. Sandi dan Lisa nampak menikmati film horor tersebut meskipun dengan tatapan serius.


Bu Lilis dan Tiara kini duduk berdua dimeja ruang tamu.


"Kenapa kamu tadi pulang kesininya dengan Fira? bukan dengan suamimu?," tanya Lisa.


"Itu karena mas Sandi masih kerja bu. Mas Sandi biasanya akan pulang sore dari kantor," kata Tiara.


"Benarkah nak? kamu tidak sedang berbohong kan?," kata bu Lilis.


"Astaga, tentu tidak bu. untuk apa Tiara berbohong kepada ibu," kata Tiara.


"Siapa tahu kamu berantem sama suamimu?," kata bu Lilis.


"Tidak kok bu, Tiara tidak berantem dengan mas Sandi," kata Tiara.


"Syukurlah kalau begitu," kata bu Lilis tersenyum.


"Mas Sandi sangat baik padaku. Mas Sandi juga sosok orang yang lemah lembut bu," kata Tiara.


"Benarkah? ibu sangat senang dan bersyukur sekali mendengarnya," kata bu Lilis.


"Iya bu. Mudah-mudahan mas Sandi tetap seperti itu selamanya," kata Tiara.


"Iya nak," kata bu Lilis.


Rasa gembira nampak jelas diwajah bu Lilis mengetahui bahwa putrinya diperlakukan dengan baik oleh menantu laki-lakinya.


Bu Sari nampak asyik memainkan ponsel pintarnya. Tidak sengaja ia melihat jam pada layar ponsel yang menunjukkan pukul 15:00 sore. Bu Sari teringat pada menantunya yang belum pulang. Ia kemudian berinisiatif untuk menghubungi Tiara melalui sambungan telepon seluler.


Saat asyik berbincang dengan bu Lilis, ponsel Tiara berbunyi. Panggilan itu berasal dari bu Sari. Tiara mengangkat panggilan tersebut.


"Halo mah," kata Tiara.

__ADS_1


"Halo nak," bu Sari.


"Iya mah, ada apa mamah menghubungiku?," tanya Tiara.


"Mamah hanya ingin tahu kenapa kamu belum pulang? apa jadwal kuliah kamu sangat padat hari ini?" tanya bu Lilis.


"Tidak kok mah, Tiara sekarang sedang berada dirumah Tiara," kata Tiara.


"Benarkah? syukurlah nak. Siapa teman kamu dirumah sekarang?," tanya bu Sari.


"Ibu dan Doni mah. Soalnya bapak belum pulang kerja," kata Tiara.


"Doni? siapa Doni itu?," tanya bu Sari.


"Adik ku mah," kata Tiara.


"Oh, adik kamu doni namanya," kata bu Sari


"Iya mah," kata Tiara.


"Baiklah nak, ibu akan meminta Sandi untuk menjemput kamu nanti," kata bu Sari.


"Iya mah, terima kasih ya mah," kata Tiara.


"Iya nak," kata bu Sari.


"Boleh?," kata bu Sari.


"Boleh sekali donk mah. Mamah ngomong ya, Tiara akan sambungkan," kata Tiara.


"Iya nak," kata bu Sari.


Tiara memberikan ponselnya kepada bu Sari untuk berbicara dengan ibu mertuanya. Mereka pun mengobrol banyak hal. Sampai akhirnya, bu Lilis yang mengakhiri sambungan telepon tersebut.


Keheningan telah dirasakan oleh Sandi dan Lisa usai menonton film horor yang berakhir. Entah apa yang terjadi? tiba-tiba Lisa dan Sandi saling menatap kuat satu sama lain. Tatapan itu semakin dekat.


Wajah Sandi mulai mendekati wajah Lisa. Bibir mereka pun semakin berdekatan. Bahkan, sudah berpaut satu sama lain. Sandi dan Lisa pun menikmati ciuman panas itu. Itu adalah ciuman yang dilakukan oleh mereka pertama kali sejak menjalin hubungan.


Ketika ciuman itu semakin liar, semuanya terhenti karena bunyi dering ponsel Sandi yang mengakibatkan mereka berdua terkejut. Bunyi nada dering itu adalah pertanda akan adanya panggilan seluler yang masuk. Sandi pun mengecek panggilan itu sedangkan Lisa menggigit bibir bawahnya.


"Mamah?," kata Sandi. Sandi kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Halo mah," kata Sandi.


"Halo San, dimana kamu sekarang nak?," tanya bu Sari.


"Dikantor mah, kenapa memangnya mah? tumben mamah bertanya seperti itu kepada Sandi?," kata Sandi berbohong.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang. Hanya saja, mamah mau kasih tahu kamu kalau Tiara sedang dirumahnya sekarang. Jadi mamah ingin kamu menjemputnya nanti ya. Kalau tidak, kamu menginap saja disana," kata bu Sari.


"Kalau menjemput Tiara sih pasti Sandi akan laksanakan. Tapi, kalau harus menginap dirumah Tiara Sandi belum bisa mengiyakan deh mah," kata Sandi.


"Kenapa begitu nak? apa yang salah kalau kamu menginap disana malam ini sayang?," tanya bu Sari.


"Sandi masih canggung mah, belum terbiasa," kata Sandi.


"Karena itu nak, kamu harus mendekatkan diri dengan mereka. Mereka juga kan orang tua kamu sekarang," kata bu Sari.


"Tapi mah, Sandi," kata Sandi terhenti.


"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Kamu harus menginap disana,'' kata bu Sari.


"Aku tidak memiliki baju ganti mah, bagaimana?," kata Sandi mencari alasan lagi.


"Haduh, kamu bisa beli nanti ketika perjalanan ke rumah Tiara. Begitu saja repot," kata bu Sari.


"Iya deh mah, Sandi akan kesana nanti," kata Sandi.


"Oh iya, satu lagi nak," kata bu Sari.


"Haduh, apa lagi sih mah?," tanya Sandi menggerutu.


"Kamu bawa sesuatu ya kesana. Kamu bawa makanan atau buah-buahan atau kue. Apalah yang menurut kamu cocok," kata bu Sari.


"Iya mah, Sandi pasti akan bawa buah tangan kesana," kata Sandi.


"Ok sayang, makasih ya. Kamu hati-hati dijalan ya nanti! mamah tutup teleponnya," kata bu Sari.


"Ok mah," kata Sandi. Sandi menutup sambungan teleponnya dengan bu Sari.


Lisa memandang Sandi dengan senyuman kecil. Sandi paham itu kode bahwa Lisa merasa tidak nyaman.


"Maaf ya sayang, aku harus menuruti perintah mamah," kata Sandi.


"Tidak apa-apa kok sayang. Aku juga paham kamu melakukan ini juga supaya hubungan kita tidak diketahui mereka. Walaupun sebenarnya aku cemburu, tapi untuk kebaikan kita berdua aku siap menahan kecemburuanku," kata Lisa.


"Terima kasih ya sayang, kamu betul-betul kekasihku yang terbaik. Aku semakin sayang kepada kamu," kata Sandi. Sandi memeluk Lisa dengan erat.


"Meluknya jangan terlalu erat-erat donk sayang. Aku susah bernafas nih," kata Lisa dengan tawa kecil.


"Iya-iya, aku akan lepas pelukannya," kata Sandi.


Lisa tersenyum.


Ya sudah, aku pergi dulu ya sayang.

__ADS_1


__ADS_2