
Mereka kini sudah sampai dipusat perbelanjaan. Sandi mengajak Tiara untuk makan malam dahulu. Tiara pun menurut.
Makan malam kali ini tidak spesial hanya makan malam biasa seperti sebelum-sebelumnya tapi apa yang akan diberikan oleh Sandi nanti mungkin akan menjadi sangat istimewa.
Sesudah makan malam Sandi mengajak Tiara ke bagian penjualan untuk fashion wanita.
"Mas kenapa bawa aku kesini?," tanya Tiara.
"Aku ingin kamu belanja pakaian yang kamu suka dan barang-barang yang lain," kata Sandi.
"Apa mas? belanja barang-barang yang aku suka?," tanya Tiara yang merasa kaget melihat perlakuan Sandi.
"Iya, kenapa? kamu tidak mau?," tanya Sandi.
"Tentu aku mau mas, tapi aku takut merepotkan mas. Mas juga nanti akan keluar biaya," kata Tiara.
"Kamu tahu tidak aku ini siapa kamu?," tanya Sandi.
"Mas Sandi suamiku," kata Tiara.
__ADS_1
"Itu kamu tahu, lalu kenapa kamu takut merepotkan aku?," tanya Sandi.
"Aku tahu mas Sandi tidak mudah dalam mencari uang. Mas yang membelanjakan aku seperti ini pasti akan mengeluarkan banyak uang," kata Tiara.
Sandi menggeleng-gelengkan kepalanya merasa heran dengan sifat istrinya yang penuh pengertian dan tidak enak hati.
"Kamu harusnya tidak perlu merasa seperti itu. Lagi pula memang sudah kewajibanku untuk menafkahi kamu lahir dan batin. Memberikan yang terbaik. Itu kan janji yang aku harus tepati saat aku menikahimu," kata Sandi.
Tiara merasa sangat terharu atas ucapan suaminya tersebut. Ia menitikkan air mata.
"Kenapa kamu menangis? apa ada yang salah dengan perkataanku tadi? atau ada perkataanku yang menyakiti hati kamu?," tanya Sandi yang merasa seperti bersalah setelah melihat Tiara menitikkan air mata.
"Jadi itu alasannya, aku kira aku salah. Terima kasih Tir, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu," kata Sandi sembari mengusap air mata Tiara dan memeluknya untuk sesaat.
"Sekarang ayo kita pilih pakaiannya!," kata Sandi.
Tiara melihat banyak sekali pakaian yang bagus dan menarik perhatiannya. Ia memilihnya dan mencobanya diruang ganti. Sandi memilih duduk dikursi tunggu.
Tiara keluar dan membawa beberapa paper bag yang berisi pakaian yang ia pilih.
__ADS_1
Katanya tidak enak hati, ini malah keenakan namanya. Batin Sandi.
"Kamu sudah selesai belanjanya?," tanya Sandi.
"Sudah mas," kata Tiara dengan ekspresi riang gembira.
Sandi kemudian membayar belanjaan Tiara dan meninggalkan tempat tersebut.
"Katanya tadi tidak enak hati aku belanjakan, kalau begini namanya keenakan," kata Sandi melihat ke arah paper bag yang sedang dibawa oleh Tiara.
'Hehehe, habisnya semua pakaiannya bagus-bagus sih mas. Aku jadi pingin beli," kata Tiara.
"Hm, iya deh, Tidak apa-apa. Aku malah senang sekali sebenarnya kalau kamu mau aku belanjakan," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara tersenyum.
Mereka kemudian melanjutkan langkah kaki mereka menuju tempat penjualan tas dan sepatu.
Tiara nampak banyak sekali membawa barang belanjaan. Saat sibuk memilih tas yang ingin ia beli Sandi menyempatkan sesuatu ke tempat penjualan perhiasan.
__ADS_1
Ia ingin membelikan seuntai kalung emas untuk Tiara. Sejak awal menikah, hanya cinta cincin pernikahan yang melekat dijari Tiara tanda pernikahan mereka yang diberikan Sandi.