Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 11


__ADS_3

Sandi keluar dari mobilnya.


"Ternyata mas Sandi, saya kira siapa?," kata pak Arifin.


"Ia pak, ini saya," kata Sandi. Ia menyalam dan mencium punggung tangan calon ayah mertuanya itu.


"Memangnya Tiara tidak bilang ya pak?, bahwasanya saya akan datang menjemput dia," tanya Sandi.


"Dia bilang kok mas, tapi baru saja. Saya kira mas Sandi akan datang secepat ini," kata pak Arifin. Sandi tersenyum.


"Silahkan masuk mas Sandi," kata pak Arifin.


"Iya pak. Pak, panggil saja Sandi, tidak perlu pakai mas," kata Sandi meminta.


"Baik mas, eh, maksud saya Sandi," kata pak Arifin. Sandi tersenyum. Mereka berdua berjalan bersama memasuki rumah.


Diruang tamu rumah, bu Lilis sudah menunggu.


"Mas Sandi ternyata. Ayo, silahkan masuk mas!," kata bu Lilis.


"Terima kasih bu," kata Sandi sembari mencium kedua punggung tangan calon mertuanya itu.


"Mau dibuatkan apa mas Sandi?," tanya bu Lilis.


"Panggil nama saja bu, tidak usah pakai mas," kata Sandi tersenyum.


"Oh, baiklah kalau begitu nak Sandi," kata bu Lilis. Sandi tersenyum.


"Secangkir kopi saja bu," kata Sandi.


"Baik, ibu buat dulu ya San," kata bu Lilis.


"Iya bu," kata Sandi tersenyum. Bu Lilis meninggalkan obrolan dan pergi ke dapur.


"Oh iya pak, Tiaranya mana?," tanya Sandi.


"Dia sedang dikamar San, sedang berdandan, supaya terlihat cantik didepan kamu," kata pak Arifin. Mendengarnya, Sandi menjadi salah tingkah. Ia hanya membalasnya dengan tertawa kecil.


Tidak lama kemudian, bu Lilis membawakan secangkir kopi untuk Sandi.


"Ini nak, silahkan diminum!," kata bu Lilis.


"Iya bu, terima kasih," kata Sandi. Sandi mencicipi kopi buatan bu Lilis.


Tidak berselang lama, Tiara membuka pintu kamar. Dia memasuki ruang tamu. Sandi yang melihat Tiara berdecak kagum dengan kecantikannya. Tampilan riasan wajah yang sederhana dan gaun yang tepat, membuat kecantikan Tiara tampak sempurna.


Ini mah jauh lebih cantik dari Lisa. Betul-betul sempurna. Batin Sandi tanpa mengedipkan mata.

__ADS_1


Tiara duduk didekat ibunya. Sandi masih fokus mengarahkan pandangannya kearah wajah Tiara. Pak Arifin yang memperhatikan Sandi terlihat tersenyum.


"Ehem," pak Arifin membuat suara batuk kecil.


Suara batuk itu menyadarkan Sandi dari tatapan tajamnya. Sandi menjadi salah tingkah untuk kedua kalinya.


"Ini kalian foto preweddingnya jauh tidak San?," tanya pak Arifin.


"Tidak kok pak, hanya setengah jam dari sini. Kami akan melakukan foto prewedding di Experience photo studio pak," kata Sandi.


"Baguslah, berarti tidak terlalu jauh. Kenapa kamu memilih disana San?" tanya pak Arifin.


"Karena photo studio ini sangat direkomendasikan pak oleh teman-teman saya yang sudah menikah," kata Sandi.


"Berarti photo studio itu memang berkualitas ya San," kata pak Arifin.


"Betul pak," kata Sandi tersenyum.


Obrolan itu berlanjut dengan santai. Bahkan diselingi dengan canda tawa. Sandi melihat ke arah jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 09:00.


"Mohon maaf pak,bu, sepertinya kami harus berangkat, soalnya sudah pukul 09:00," kata Sandi.


"Oh iya tidak apa-apa. Malah bagus, sebaiknya kalian berangkat sekarang, supaya tidak terlambat," kata pak Arifin.


"Iya pak, kami akan berangkat. Pamit ya pak, bu," Sandi izin pamit. Kembali mencium kedua punggung tangan kedua calon mertuanya itu.


Didalam mobil keduanya canggung. Diam tanpa sapa. Sandi fokus dalam menyetir, Tiara fokus menikmati pemandangan yang dilewati.


Sandi curi pandang ke Tiara. Ia melirik Tiara sesekali. Karena kaca pintu mobil yang terbuka sedikit, membuat rambut Tiara berkibas. Akibat kibasan tersebut, Sandi semakin merasa kagum dengan kecantikan Tiara.


Agar tidak merasa canggung, Sandi menawarkan Tiara minuman.


"Kamu mau minum?" tanya Sandi menawarkan sebotol minuman dingin yang ia beli sebelum sampai ke rumah Tiara.


"Makasih mas," kata Tiara menerima pemberian Sandi. Tiara meminumnya.


"Tiara," kata Sandi.


"Iya mas, kenapa?," tanya Tiara.


"Apakah kamu siap menjalani rumah tangga ini kelak bersamaku?," tanya Sandi. Tiara menjadi terkejut mendengarnya.


"Insyaallah mas, kalau tujuannya baik hasilnya akan baik," kata Tiara. Sandi terenyuh.


Entah apa yang ada didalam pikiran Sandi?, tiba-tiba dia ingin mengungkapkan isi hatinya bahwa dia hanya mencintai Lisa. Pernikahan ini semata-mata hanya keterpaksaan saja.


Tetapi ia ragu-ragu mengungkapkan perasaan itu terhadap Tiara. Dia tidak ingin Tiara malah tersakiti dengan kata-katanya nanti.

__ADS_1


"Tiara, kamu sudah punya pacar?," tanya Sandi.


"Tidak punya mas," kata Tiara.


"Kamu jangan bohong," kata Sandi.


"Tidak mas, aku memang tidak punya pacar. Bapak melarangku pacaran selama menempuh pendidikan ini," kata Tiara.


"Kenapa begitu?, apa alasannya?," tanya Sandi.


"Bapak ingin aku fokus menyelesaikan pendidikan yang ku jalani mas," kata Tiara.


"Karena itu rupanya. Alasan yang sangat bagus jika itu penyebabnya Tiara," kata Sandi.


"Ia mas, aku juga memaklumi sifat protektif bapak terhadapku," kata Tiara. Sandi tersenyum.


"Kalau mas sendiri?, apa sudah melupakan mantan pacar mas?" tanya Tiara.


"Maksud kamu Lisa?," kata Sandi.


"Ia mas. Maaf ya mas, aku tanya begini,".kata Tiara.


"Tidak apa-apa, aku masih belum bisa melupakannya. Terlalu banyak kenangan yang kami ciptakan bersama," kata Sandi.


"Iya mas, tidak apa-apa. Itu hanya masa lalu mas," kata Tiara.


"Kamu tidak masalah dengan itu?," tanya Sandi.


"Tidak kok mas, itu perjalanan hidup mas Sandi. Lagi pula mas juga kan sudah mengakhiri hubungan dengan dia," kata Tiara.


"Ia Tiara," kata Sandi.


Maafkan aku Tiara, aku tidak bisa berterus terang. Kalau aku berterus terang, bisa-bisa kamu membatalkan pernikahan ini. Itu membuat papahku marah besar. Aku tidak mau itu terjadi. Kalau nantinya kamu tersakiti, aku siap menanggung risikonya. Batin Sandi.


Disela-sela perjalanan, Tiara menyempatkan diri membuka ponselnya. Iseng-iseng menghibur diri, Tiara membuka aplikasi what's appnya. Melihat berbagai jenis status dikontaknya. Tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat status milik Farhan. Dalam status itu dengan jelas menunjukkan bahwa posisi Farhan sekarang sedang berada diexprience photo studio. Tempat yang akan dituju Sandi dan Tiara.


Tiara semakin tidak tenang. Tapi untuk lebih tahu jelasnya apa tujuan Farhan disana?, ia mengomentari status itu.


"Kamu sedang apa disana?," tanya Tiara. Tiara semakin panik sebab Farhan belum membalas juga.


"Aku cuma mau ambil poster untuk coffee shop aku Tir, memangnya kenapa?," kata Farhan. Tiara sedikit lega mendengarnya.


"Oh, cuma ngambil itu?, tidak ada urusan lain?" tanya Tiara.


"Tidak ada Tir, ini aku malah mau pulang," kata Farhan.


Syukurlah, Farhan sudah mau pulang. Batin Tiara menjadi tenang.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Tir kamu tanya begitu," tanya Farhan. Tiara tidak membalasnya langsung. Dia menutup aplikasi what's app miliknya setelah mendengar pesan Farhan yang terakhir.


__ADS_2