Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 144


__ADS_3

Mereka mengobrol perihal bulan madu mereka apa kah menyenangkan atau tidak?. Mereka mengobrol dengan santai tanpa ada jarak.


Tidak lama kemudian, Tiara meninggalkan obrolan bersama ibunya. Hal itu karena mereka harus ke dapur mempersiapkan makan siang.


"Banyak sekali barang belanjaan yang kamu beli nak?," tanya bu Sari.


"Ini permintaan mas Sandi bu, sekalian untuk stok dirumah," kata Tiara.


"Baiklah, ibu sangat senang menerima ini," kata bu Sari.


"Iya bu," kata Tiara.


"Tir," kata bu Sari.


"Iya bu? kenapa?," tanya Tiara.


"Ibu perhatikan kamu kok pucat? kenapa?," tanya bu Sari.


"Hm, masa ia bu?," tanya Tiara.


"Iya Tir, masa ibu bohong sih. Apa kamu kelelahan? atau kamu memang kurang sehat?," kata bu Sari.


"Tidak kok bu, Tiara baik-baik saja," kata Tiara.


Bu Sari tahu kalau anaknya berbicara jujur, ia pun bisa menyimpulkan kalau dia baru "dihajar" Sandi tadi malam.


"Kamu pasti tadi malam begadang dengan suamimu," kata bu Sari memberi sindiran.

__ADS_1


"Begadang? tidak kok bu, Tiara dan mas Sandi tidur cepat tadi malam," kata Tiara.


Sepertinya Tiara tidak paham dengan kiasan yang dikatakan oleh ibunya itu.


"Sepertinya ibu akan segera menimang cucu nih," kata bu Sari.


"Menimang cucu?,'' kata Tiara gelagapan.


"Iya donk," kata bu Sari.


Tiara tersenyum dengan salah tingkah.


Mereka melanjutkan kembali aktivitas memasak mereka.


Sudah hampir satu minggu sejak Sandi marah kepadanya dan meninggalkan Bali. Lisa duduk dibalkon kamarnya. Dia kemudian berinisiatif untuk menghubungi Sandi.


Dia sudah mulai merasa tidak tenang dengan sikap Sandi yang mulai memberikan perhatian lebih kepada Tiara.


Dia takut jikalau Sandi akan jatuh ke pelukan Tiara sepenuhnya. Dia tidak ingin membiarkan hal itu terjadi.


Ia berniat menghubungi Sandi namun sayang panggilan itu tidak masuk karena Sandi sedang menghubungkan ponselnya ke charger.


"Kenapa tidak diangkat sih?,'' Gumam Lisa bertanya.


Makan siang yang disiapkan Tiara dan bu Sari sudah siap dan sudah disajikan diruang meja makan.


Tiara melangkah menuju ruang tamu untuk mengajak ayah dan suaminya makan.

__ADS_1


"Pak, mas, ayo kita makan!," kata Tiara.


Sandi dan pak Arifin pun mengiyakan. Sandi juga memanggil Doni supaya makan siang bersama-sama. Doni pun menurut dengan perintah kakak iparnya itu.


Sire pun tiba, waktu berkunjung Tiara dan Sandi pun sudah berakhir. Sandi dan Tiara bermaksud untuk pulang.


"Kalau begitu kami pulang ya pak, bu," kata Sandi.


"Kenapa langsung pulang? kalian tidak menginap ya?," tanya bu Lilis.


"Maaf bu, besok Sandi harus kerja. Sudah banyak pekerjaan yang sudah menunggu, Tiara pun begitu. Dia sudah lama meninggalkan kegiatan perkuliahannya bu," kata Sandi.


"Baiklah kalau begitu nak, ibu paham," kata bu Lilis.


"Ibu sama bapak tidak apa-apa kan kalau kami pulang sekarang," kata Tiara.


"Tidak apa-apa nak," kata bu Lilis dan pak Arifin.


Disisi lain, Doni merasa sedih karena Tiara dan Sandi tidak menginap seperti waktu yang lalu


"Kakak dan mas Sandi kapan datang lagi?," tanya Doni.


"Kalau nanti mas dan kakakmu memilik waktu luang pasti mas dan kak Tiara akan kembali berkunjung Don," kata Sandi.


"Tapi kapan mas?," tanya Doni.


"Mudah-mudahan secepatnya Don," kata Sandi.

__ADS_1


__ADS_2