Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 36


__ADS_3

"Iya kak," kata Doni mengiyakan nasihat kakaknya.


Permainan lempar gelang dimulai.


"Kamu pingin apa Tir hadiahnya?," tanya Sandi.


"Aku pingin selimut itu mas," kata Tiara dengan jari yang menunjuk pada selimut tersebut.


"Baiklah, kamu perhatikan baik-baik ya! aku akan mendapatkan selimut itu untukmu," kata Sandi.


"Baik mas, aku akan memperhatikan dengan seksama," kata Tiara.


Sandi melemparkan gelang pertama dan langsung berhasil. Tiara yang melihatnya merasa gembira. Tiara pun bertepuk tangan riuh. Sandi geleng-geleng dan tersenyum angkuh tanda berbangga diri.


Petugas wahana pun menyerahkan hadiah selimut tersebut kepada Tiara.


"Kamu mau apa lagi? aku masih punya 2 gelang lagi ini," tanya Sandi.


"Sayangnya hadiah yang cocok untukku hanya ini mas, yang lainnya lebih cocok untuk anak-anak," kata Tiara dengan ekspresi manyun.


"Hmm, ya sudah. Doni, Don," kata Sandi memanggil Doni.


"Iya mas, kenapa?," kata Doni yang juga sedang asyik bermain. Karena jaraknya yang dekat dengan Sandi dan Tiara, mereka bisa berkomunikasi dengan jelas.

__ADS_1


"Kamu kesini sebentar dek!," kata Sandi.


"Tapi Doni tanggung mas mainnya," kata Doni.


"Cuma sebentar kok, kamu bisa melanjutkan permainan yang kamu sedang mainkan itu nanti," kata Sandi.


"Baiklah mas, aku akan kesitu," kata Doni.


Doni berjalan menuju Sandi.


"Memangnya ada apa mas?," tanya Doni.


"Sini dek!," kata Sandi sembari memegang bahu Doni dan mengelus kepalanya.


"Nah, sekarang kamu pingin apa nih dari semua hadiah yang ada didepan ini?," tanya Sandi.


"Belum tentu dek. Mas Sandi akan berusaha mendapatkannya untuk kamu dengan melempar gelang pada lingkaran hadiah tersebut," kata Tiara menjawab pertanyaan Sandi.


"Gitu ya kak, baiklah aku akan memilih mobil remote itu mas," kata Doni menunjuk hadiah yang ia inginkan.


"Baiklah, mas akan berusaha mendapatkan mobil remote itu untuk kamu dek," kata Sandi.


"Iya mas," kata Doni tersenyum menunggu.

__ADS_1


Sandi mencoba lemparannya. Entah karena terlalu semangat atau karena hal lainnya, lemparan kali ini tidak semujur lemparan yang pertama tadi. Kali ini lemparan Sandi gagal.


Doni yang melihatnya nampak kecewa. Sandi memperhatikan raut wajah Doni. Ia mengelus kepala Doni dengan lembut.


"Kamu tenang ya dek, mas masih punya 1 gelang lagi untuk dimainkan," kata Sandi menghibur.


"Iya mas, tidak apa-apa. Mudah-mudahan sekali ini berhasil," kata Doni.


Sandi tersenyum.


Sandi mencoba lemparannya yang ketiga. Ia berharap lemparan ini berhasil seperti lemparan pertama tadi. Lemparan yang ketiga ini ternyata berhasil. Doni pun bertepuk tangan riuh, Tiara pun ikut bertepuk tangan. Sandi tersenyum gembira tapi kali ini bukan senyuman angkuh seperti sebelumnya.


Untuk kedua kalinya, petugas wahana memberikan hadiah, tapi kali ini bukan ke tangan Tiara tapi ke tangan Sandi. Doni nampak senang ia memegang erat-erat hadiah mobil remote itu. Doni teringat ia belum menyelesaikan permainan yang ia mainkan sebelumnya. Ia menyerahkan mobil remote tersebut ke tangan Tiara. Tiara dan Sandi kaget.


"Kenapa dek? Doni tidak suka hadiahnya ya?," tanya Sandi.


"Bukan begitu mas, ketika mas memanggilku tadi, aku kan masih sedang memainkan permainanku mas," kata Doni.


"Oh, iya yah. Mas kira kamu tidak suka sama hadiahnya," kata Sandi.


"Tidak kok mas, aku suka sekali dengan hadiahnya," kata Doni.


"Baguslah dek," kata Sandi.

__ADS_1


"Aku kesana lagi ya mas," kata Doni hendak melanjutkan permainannya.


"Ia dek," kata Doni.


__ADS_2