Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 132


__ADS_3

"Siapa yang kamu ajak bicara tadi ditelepon?," tanya Sandi.


"Mamah mas," kata Tiara.


"Serius? bukan laki-laki yang kedua kan?," kata Sandi mengulang gurauannya.


"Ih mas ini, laki-laki yang mana sih," kata Tiara.


"Hahaha, aku bercanda," kata Sandi tertawa terbahak-bahak.


Tiara menunjukan ekspresi wajah manyun. Ia kesal karena gurauan Sandi itu.


Sandi memperhatikan raut wajah Tiara.


"Iya-iya, aku minta maaf ya. Aku cuma bercanda," kata Sandi mengusap rambut Tiara lembut.


Tiara jadi takluk. Ia tersenyum.


Sandi duduk didekat Tiara. Ia melihat semua barang-barang sudah selesai dibereskan Tiara.


"Apa kamu sudah betul-betul memasukkan semua barang-barang kita?," tanya Sandi.


"Sudah mas, sudah aku bereskan," kata Tiara.


"Tidak ada yang tertinggal kan?," tanya Sandi.


"Setahu Tiara tidak ada sih mas. Sudah Tiara masukkan semua dengan hati-hati dan teliti," kata Tiara.


"Iya baguslah. Jangan sampai kaya kasus obat kamu itu ya," kata Sandi.

__ADS_1


"Iya mas, kalau kali ini Tiara yakin tidak ada yang tertinggal," kata Tiara.


"Iya deh, baiklah," kata Sandi.


"Mas sudah bilang ke orang yang jemput kita untuk datang tepat waktu kan?," tanya Tiara.


"Sudah. Dia akan datang tepat waktu," kata Sandi.


"Iya mas, Tiara takut kita ketinggalan pesawat," kata Tiara.


"Hm, khawatir kamu berlebihan. Oh iya, kamu sudah bilang ke ibu belum kalau kita akan pulang?," tanya Sandi.


"Belum mas, aku hanya memberi tahu mamah soal kepulangan kita hari ini," kata Tiara.


"Kenapa kamu tidak memberi tahu ibu juga soal kepulangan kita,?" tanya Sandi.


"Kenapa begitu Tir?," tanya Sandi.


"Aku ingin membuat kejutan untuk ibu mas. Ibu pasti akan sangat suka," kata Tiara.


"Oh itu alasannya. Lalu kenapa kamu tidak membuat kejutan untuk mamah juga?," tanya Sandi.


"Mamah pasti akan tahu sendiri dari papah mas. Karena papah kan tahu jadwal kepulangan kita," kata Tiara.


"Iya juga sih," kata Sandi.


"Iya mas, hehehe. Mas, Tiara mau sampaikan sesuatu boleh tidak?," tanya Tiara.


"Mau menyampaikan apa?," tanya Sandi.

__ADS_1


"Mas, aku ingin sekali mas memanggilku dengan panggilan yang lebih mesra bukan hanya sebatas nama," kata Tiara mengungkapkan keinginannya.


Sandi heran kenapa Tiara menjadi meminta keinginan seperti itu?.


"Kamu mau dipanggil apa?," tanya Sandi.


"Dipanggil apa saja mas? panggilan sayang dan mesra dari suami untuk istri pada umumnya," kata Tiara.


"Hm, begitu ya. Tunggu aku pikirkan. Bagaimana kalau aku panggil kamu dengan sebutan "sayang". Kan itu sangat sederhana tapi terdengar manis dan romantis," kata Sandi.


"Iya mas, aku suka dengan panggilan itu," kata Tiara.


"Baiklah, aku akan memanggil kamu dengan sebutan itu tapi tidak dihadapan papah dan mamah, dihadapan bapak dan ibu juga," kata Sandi.


"Baik mas, Tiara paham," kata Tiara tersenyum.


"Hanya itu permintaanmu sayang?," tanya Sandi dengan panggilan baru untuk istrinya itu.


"Iya mas," kata Tiara.


"Apa kamu begitu senang aku panggil sayang?," tanya Sandi.


"Tentu mas," kata Tiara.


Mereka melanjutkan obrolan lain yang lebih santai. Tidak terasa jam tangan Sandi sudah menunjukkan pukul 09:00. Sandi sudah mendapat panggilan dari supir mobil sewaannya.


"Tir, supir yang menjemput kita sudah ada didepan," kata Sandi.


"Kalau begitu kita sebaiknya turun sekarang mas," kata Tiara.

__ADS_1


__ADS_2