
"Soal Farhan? soal apa Fir?," tanya Tiara.
"Sebenarnya aku sudah sejak lama menyukainya Tir," kata Fira.
"Apa? kamu menyukai Farhan?," tanya Tiara kaget.
"Bisa gak sih pelan-pelan ngomongnya," kata Fira emosi sembari menutup mulut Tiara.
"Ya aku kan kaget," kata Tiara.
"Tapi jangan gitu juga donk," kata Fira.
"Sejak kapan kamu menyukai Farhan?," tanya Tiara.
"Sejak awal-awal masuk kuliah," kata Fira.
"What? udah lama sekali donk," kata Tiara.
"Hehehe," Fira cengengesan.
"Hm, aku sih senang kalau kamu menyukai Farhan. Dia seorang laki-laki yang baik dan tulus hati soalnya," kata Tiara.
"Iya sih kamu benar tapi seperti yang aku bilang tadi Tir, Farhan sukanya sama kamu bukan samaku," kata Fira.
"Kamu kan sudah tahu juga jawaban yang ku berikan kalau aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Farhan," kata Tiara.
__ADS_1
"Iya Tir, terima kasih ya," kata Fira.
"Kamu sabar saja Fir, mungkin untuk saat ini Farhan memang belum menyukaimu tapi untuk kedepannya kita kan tidak tahu bagaimana? jangan-jangan dia besok malah menyukaimu," kata Tiara.
"Mudah-mudahan saja Tir," kata Fira.
"Iya sama-sama," kata Tiara.
"Terima kasih ya kamu sudah mendengarkan curhatku," kata Fira memeluk hangat tubuh Tiara.
"Iya sama-sama," kata Tiara membalas pelukan Fira.
Setelah mengingat percakapannya dengan Fira dikala itu Tiara merasa sedih. Tiara berharap persahabatannya dengan Farhan akan tetap berjalan dengan baik.
Kini Tiara tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur ranjang tepat disamping suaminya. Ia nampak tertidur pulas.
Sebelum pergi mereka sempatkan untuk sarapan pagi terlebih dahulu. Mereka sarapan dengan ditemani nasi goreng dan telur dadar.
"Sering-sering kesini ya nak Sandi dan kamu Tir," kata bu Lilis.
"Iya bu, akan kami usahakan," kata Sandi.
"Baiklah nak. Ibu juga pingin ...," kata bu Lilis tidak meneruskan kata-katanya.
"Pingin apa bu?," tanya Tiara.
__ADS_1
"Ibu pingin cucu," kata bu Lilis.
Mendengar ucapan ibu mertuanya itu Sandi pun tersedak. Tiara yang melihatnya segera mengambil beberapa lembar tisu dan segelas air.
Bu Lilis dan pak Arifin terkejut begitu juga dengan Doni.
Sandi membersihkan makanan yang terdapat dibibirnya. Ia juga meminum segelas air putih yang diberi oleh istrinya.
"Kamu tidak apa-apa nak?," tanya bu Lilis.
"Tidak apa-apa kok bu. Saya baik-baik saja," kata Sandi.
"Kamu sampai tersedak seperti itu setelah mendengar apa yang ibu katakan. Ada yang salah ya dengan ucapan ibu sebelumnya," kata bu Lilis.
"Tidak kok bu, tidak ada yang salah. Saya hanya reflek saja," kata Sandi.
"Begitu ya? syukurlah," kata bu Lilis.
"Saya dan Tiara akan mencoba dan berusaha mewujudkan keinginan ibu tadi," kata Sandi.
Seketika mata Tiara terbelalak mendengar ucapan Sandi itu. Sandi menghadapkan wajahnya ke arah Tiara dengan senyuman, Tiara juga membalas senyuman itu dengan perasaan gugup.
Apa mas Sandi betul-betul serius dengan ucapannya tadi. Batin Tiara bertanya-tanya.
Sandi dan Tiara pamit pergi pada pak Arifin dan bu Lilis. Mereka mencium punggung kedua tangan orang tua tersebut.
__ADS_1
Doni pun mencium kedua punggung tangan Sandi dan Tiara yang hendak meninggalkan rumah. Saat mencium kedua punggung tangan Sandi, Doni tiba-tiba menangis.
Sandi pun terkejut. Ia segera menundukkan tubuhnya.