Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 142


__ADS_3

"Nak, apa kamu dan Sandi sudah menghabiskan obat yang mamah beri kemarin?," tanya bu Sari.


"Belum mah, tapi kamu sudah meminumnya," kata Tiara.


"Bagaimana efeknya?," tanya bu Sari.


"Tiara merasa efek yang aneh mah, setiap meminum obat yang mamah berikan itu, badan Tiara merasa gerah," kata Tiara.


"Hal itu wajar sih nak, kan semua obat memiliki efek yang berbeda-beda," kata bu Sari.


"Iya sih mah," kata Tiara.


"Artinya mamah akan cepat-cepat punya cucu donk nih," kata bu Sari.


Tiara tersenyum dan ia memegang kedua tangan ibu mertuanya itu.


"Mamah doa kan saja yang terbaik ya, Tiara dan mas Sandi akan berusaha memberikan yang terbaik. Kami juga sudah berkomitmen untuk berusaha mewujudkan impian sederhana mamah itu," kata Tiara.


Bu Sari segera mengerti maksud menantunya itu. Ia pun memeluk Tiara hangat.


"Ia nak, mamah pasti akan berdoa yang terbaik untuk kamu. Mamah doa kan supaya kamu dan Sandi segera memiliki keturunan. Mamah juga akan sabar menanti untuk itu," kata bu Sari memberi dukungan.


"Ia mah, terima kasih," kata Tiara.


"Kalau begitu mari kita makan malam, sudah saatnya jam makan malam tiba," kata bu Sari.

__ADS_1


"Iya mah, mari," kata Tiara.


Bu Sari turun ke bawah sedangkan Tiara kembali ke kamarnya untuk mengajak Sandi makan malam.


"Mas, ayo kita makan malam, mamah dan papah sudah menunggu diruang makan," kata Tiara.


"Baiklah," kata Sandi.


Mereka berdua turun bersama-sama.


"Mah, besok Sandi dan Tiara akan berkunjung tempat mertua Sandi. Papah dan mamah mau ikut?," tanya Sandi.


"Untuk sementara ini, kalian berdua saja dulu yang berkunjung tempat pak Arifin nanti papah dan mamah akan menyusul dilain waktu," kata pak Airlangga.


"Iya nak, ada urusan penting diluar," kata bu Sari.


"Baiklah kalau begitu mah," kata Sandi.


Mereka kembali melanjutkan makan malam mereka.


Keesokan paginya, Sandi dan Tiara sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Tiara.


"Kamu jangan lupa oleh-oleh yang kita beli dari Bali untuk bapak, ibu dan Doni," kata Sandi.


"Ia mas, aku tidak lupa. Aku sudah mempersiapkannya dan kita siap membawanya sekarang," kata Tiara.

__ADS_1


Mereka turun menuju mobil. Tidak seperti kemarin-kemarin dimana mereka menggunakan supir, kali ini Sandi sendiri yang menjadi supirnya.


Disisi lain, bu Lilis bertanya-tanya kenapa putranya tidak berangkat sekolah dan suaminya tidak berangkat kerja.


"Don, apa kamu tidak sekolah?," tanya bu Lilis.


"Sekarang kan tanggal merah, semua instansi pendidikan pasti liburlah bu," kata pak Arifin.


"Oh begitu ya pah? baru tahu ibu kalau sekarang tanggal merah," kata bu Lilis.


"Sekarang memang tanggal merah bu, oleh karena itu aku tidak berangkat ke sekolah. Kemarin ibu guru sudah memberi tahu kan tentang hal ini,'', kata Doni.


"Hm, iya deh. Jadi bapak ikutan libur kerja ya?," tanya bu Lilis.


"Iya bu," kata pak Arifin.


"Kalau begitu gantian donk hari ini bapak yang jaga toko," kata bu Lilis.


"Boleh juga, tapi bentar lagi berangkatnya mah," kata pak Arifin.


"Iya pak, tidak apa-apa," kata bu Lilis.


Dalam perjalanan Tiara meminta Sandi untuk berhenti dipasar, ia ingin membeli ikan dan beberapa bahan kebutuhan memasak lainnya.


Sandi pun menurut dan memarkirkan mobilnya dipinggir.

__ADS_1


__ADS_2