Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 112


__ADS_3

"Apa? kenapa bisa seperti itu kejadiannya? lalu kemana Sandi? bagaimana bisa dia tidak ada disaat Tiara dalam keadaan sakit seperti itu?," tanya pak Arifin.


"Ibu tadi sudah berbicara dengan Sandi. Ibu juga memarahi dia karena saking kesalnya ibu. Dia bilang dia memiliki urusan penting yang tidak bisa ditinggali," kata bu Lilis.


"Urusan penting apa bu?," tanya pak Arifin.


"Ibu ya tidak tahulah pak, hanya Sandi yang tahu," kata bu Lilis.


"Lalu bagaimana dengan Tiara? bagaimana perkembangan keadaan dia saat ini Bu?," tanya pak Arifin.


"Ibu juga tidak tahu pak, soalnya Sandi daru tadi belum memberikan informasi mengenai keadaan Tiara. Ini ibu terus menunggu," kata bu Lilis.


"Haduh, betul-betul kacau. Baiklah bu, bapak akan menghubungi Sandi sekarang," kata pak Arifin.


"Iya pak. Kalau perlu tegur dia pak supaya menomor satukan istrinya dari pada hal-hal lainnya," kata bu Lilis.


"Iya bu, nanti bapak akan tegur dan nasihati menantu kita itu," kata pak Arifin.


"Nanti setelah itu kabari ibu ya pak," kata bu Lilis.


"Iya bu, nanti bapak akan meminta Sandi segera menghubungi ibu setelah bapak berbicara dengan dia lewat sambungan telepon ini," kata pak Arifin.

__ADS_1


"Baik pak, ibu akan tunggu informasi dari Sandi," kata bu Lilis.


"Baik bu," kata pak Arifin.


"Oh iya, kenapa bapak telepon ibu?," tanya bu Lilis.


"Oh iya bapak sampai lupa. Begini bu, ada berkas kantor yang diantar kan salah satu karyawan sebentar lagi ke rumah. Bapak minta ke ibu supaya ibu pulang sebentar ke rumah," kata pak Arifin.


"Baiklah pak, ibu akan pulang sekarang," kata bu Lilis.


"Baik bu," kata pak Arifin.


Sambungan telepon pun berakhir.


Pak Arifin tidak lagi menunda-nunda waktu. Dia saat ini betul-betul tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya setelah mendengar bahwa putri tunggalnya sedang sakit.


Saat sedang berbincang-bincang dengan Tiara, Sandi dikagetkan dengan dering ponsel dari ayah mertuanya.


"Siapa mas?," tanya Tiara.


"Bapak Tir," kata Sandi.

__ADS_1


"Sebaiknya mas segera angkat teleponnya," kata Tiara.


"Baik," kata Sandi.


"Halo pak," kata Sandi.


"Halo San, kamu sedang dimana sekarang?," tanya pak Arifin.


"Sedang diklinik pak bersam Tiara," kata Sandi.


"Oh kamu sudah diklinik sekarang. Tadi bapak mendapat telepon dari ibu nak bahwasanya Tiara sedang sakit dan dia tadi pingsan dan akhirnya dibawa ke klinik. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Tiara San? tolong kamu jelaskan pada bapak secara detail!," kata pak Arifin.


"Baik pak. Sebenarnya Tiara ini tadi pingsan saat hendak membeli obat diapotek pak, dan karyawan yang ada diapotek tersebut membawa Tiara ke klinik pak," kata Sandi.


"Lalu kamu kenapa tidak temani Tiara ke klinik?," tanya pak Arifin.


"Maaf pak, Sandi tadi ada urusan penting, urusan bisnis yang sangat mendesak. Jadi pagi-pagi betul Sandi sudah meninggalkan Tiara dalam keadaan terlelap," kata Sandi.


"Sebegitu mendesaknya? apa kamu ada memberi pesan kepada Tiara bahwa kamu akan pergi untuk sesuatu urusan?," tanya pak Arifin seolah-olah menginvestigasi menantu laki-lakinya itu.


"Tidak ada pak," kata Sandi.

__ADS_1


"Astaga nak, kenapa kamu bisa lalai seperti itu? harusnya kamu memberi kabar terlebih dahulu kepada Tiara. Kalau kamu memang merasa segan membangunkan dia dari tidurnya kan ada ponsel," kaya pak Arifin


__ADS_2