
Tiara keluar dari mobil, Sandi juga ikut menemaninya berbelanja. Mereka berbelanja kebutuhan yang sederhana pada umumnya saja.
Seperti ikan, sayur mayur dan beberapa jenis buah-buahan. Saat Sandi membayar belanjaan tersebut pun, dompetnya tidak terkuras.
Ia kemudian membawa hampir seluruh belanjaan. Dia sepertinya tidak ingin membuat istrinya, Tiara merasa kelelahan karena membawa barang-barang tersebut.
Sesampainya dimobil, Sandi memasukkan belanjaan tersebut dikursi belakang. Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan Sandi mulai mengemudikan mobilnya tersebut dengan kecepatan sedang.
Mereka kini sudah sampai dirumah. Suara deruman mobil mereka mengagetkan seisi rumah Tiara.
"Sepertinya ada suara deruman mobil deh didepan rumah pak," kata bu Lilis.
"Iya bu, kira-kira siapa ya?," tanya pak Airlangga.
"Mobil mas Sandi bu yang datang," kata Doni dari teras rumah yang sudah terlebih dahulu keluar.
"Sandi? bukannya masih dibali?," gumam pak Airlangga.
"Iya pak, benar. Lebih baik kita lihat saja ke depan, jangan-jangan anak kita salah," kata bu Lilis.
"Iya bu, ayo!," kata pak Arifin.
__ADS_1
Mereka pun keluar untuk memastikan hal tersebut.
Sandi dan Tiara sudah turun dari mobil. Saat hendak membuka pintu belakang mobil, momen haru terjadi.
Doni memeluk Sandi yang baru keluar dari pintu mobil depan. Ia menunjukkan kegembiraannya saat melihat kakak iparnya datang.
"Hore, mas Sandi datang," kata Doni.
Sandi pun tersentuh dengan pelukan Doni. Doni terlebih dahulu menghampirinya dari pada Tiara yang merupakan kakak kandung Doni.
"Iya dik, mas datang," kata Sandi yang membalas pelukan Doni dan juga mengelus kepala adik ipar satu-satunya itu.
Pelukan mereka terlepas untuk sesaat. Sandi membuka pintu belakang. Ia ingin mengambil barang-barang yang ia dan Tiara bawa sebagai oleh-oleh dari Bali.
Bu Lilis dan pak Arifin keluar rumah. Mereka tidak menyangka bahwa perkataan putranya itu benar adanya bukan sekedar gurauan semata.
"Kalian rupanya, sudah pulang dari Bali? kenapa tidak memberi tahu kepada kami?," tanya pak Arifin.
"Iya pak, soalnya Tiara mau memberi kejutan," kata Tiara.
Sandi meletakkan barang-barang yang ia pegang. Ia kemudian memberikan salam sapa kepada ayah dan ibu mertuanya. Ia mencium kedua punggung tangan orang tua istrinya itu dengan menunjukkan sikap hormat.
__ADS_1
Tiara pun begitu. Ia mencium kedua punggung tangan ibu dan bapaknya dengan pelukan hangat juga.
"Terima kasih ya nak, sudah menyempatkan diri untuk datang ke tempat ibu," kata bu Lilis.
"Memang seharusnya seperti itu bu," kata Sandi.
"Iya nak, ibu sangat bersyukur kalian memelihara sifat seperti ini," kata bu Lilis.
"Hehehe," Sandi tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo kita masuk!," kata bu Sari.
Mereka pun masuk. Sandi mengangkat semua barang-barang belanjaan namun pak Airlangga segera berbagi tugas.
Sandi dan pak Airlangga membawa barang-barang belanjaan tersebut ke dapur.
Mereka kemudian kembali ke ruang tamu. Tiara segera membuatkan kopi panas untuk kedua lelaki terhebat dalam hidupnya itu.
Tiara membawa dua gelas kopi panas diatas nampan. Ia meletakkannya diatas meja.
Doni terlihat melihat-lihat oleh-oleh yang dibawa oleh kakaknya dari Bali.
__ADS_1
"Ini mas, pak, kopinya!," kata Tiara.