Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 23


__ADS_3

Sandi sudah didepan pintu kamar. Ia hendak membuka pintu kamar namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam. Sandi kemudian mengetuk-ngetuk pintu. Tiara yang sedang berendam didalam bath up kemudian mendengar ada yang mengetuk-ngetuk pintu segera bangkit. Tiara mengambil handuk lalu melilitkan handuk itu ke tubuhnya.


Tiara membukakan pintu. Tiara sedikit kaget dan salah tingkah karena ternyata itu Sandi. Ia tidak menunjukkan seluruh tubuhnya. Ia menutupi tubuhnya dibelakang pintu. Sandi keheranan melihat tingkah laku istrinya itu.


"Kenapa kamu menutup diri dibelakang pintu?," tanya Sandi.


"Aku tadi sedang mandi ketika mas mengetuk pintu kamar. Jadi sekarang tubuhku hanya dibalut dengan handuk mas," kata Tiara.


"Oh, iya aku paham," kata Sandi sembari melewati pintu.


Tiara menutup pintu secara pelan. Tanpa aba-aba, Tiara berlari ke kamar mandi. Sandi menengok ke arah pintu ingin bertanya sesuatu kepada Tiara namun ia kaget karena Tiara sudah tidak berada disana.


Hmm, dasar pemalu. Batin Sandi.


Sandi melepaskan jacket yang ia kenakan dan juga pakaiannya. Kini Sandi sudah telanjang dada. Ia juga akan bersiap untuk membersihkan diri.


Tiara sudah selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian tidur. Tiara menjadi gugup setelah melihat Sandi bertelanjang dada. Ia menundukkan kepalanya dan memalingkan pandangan dari hadapan Sandi.


Tiara duduk dimeja rias. Merias wajah ala kadarnya. Sandi heran kenapa Tiara cuek padanya. Ia bertanya-tanya dalam hati.


"Tir," kata Sandi memanggil Tiara.


"Iya mas," kata Tiara menunduk.


"Kalau dipanggil, kamu harusnya menghadapkan wajahmu kepada orang yang memanggil," kata Sandi.


"Iya mas, maaf," kata Tiara sembari memalingkan wajahnya ke arah Sandi.


"Hmm, gitu donk," kata Sandi.


"Iya mas. Mas mau bilang apa?," tanya Tiara.


"Aku mau mandi Tir. Aku biasanya mandi dengan air hangat. Biasanya asisten rumah tangga yang akan menyiapkannya tapi sekarang, karena aku sudah memiliki istri aku ingin kamu yang menyiapkannya. Bisa kan Tir?," kata Sandi.


"Pasti bisa mas. Itukan memang kewajiban Tiara. Tiara akan menyiapkan air panad untuk mas," kata Tiara tersenyum. Tiara meninggalkan meja rias dan berjalan menuju kamar mandi.


"Sudah selesai mas. Sekarang mas sudah bisa mandi," kata Tiara.


"Baiklah. Terima kasih ya," kata Sandi tersenyum.


"Ia mas, sama-sama," kata Tiara.


Sandi memasuki kamar mandi dan siap untuk mandi. Tidak selang lama, Sandi keluar dari kamar mandi. Sandi hanya dililit oleh sebuah handuk. Tiara salah tingkah setelah melihat suaminya itu keluar dari kamar mandi. Dia kembali menunduk malu untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Sandi yang memperhatikan tingkah Tiara hanya tersenyum kecil.


"Tir," kata Sandi.


"I,ia mas," kata Tiara terbata-bata.


"Tolong siapkan pakaianku!," kata Sandi.


"Baik mas, akan Tiara siapkan," kata Tiara.


Tiara melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Disana banyak pakaian rumahan milik Sandi. Tiara bingung mau memberikan pakaian yang mana untuk dikenakan oleh Sandi.


"Mas, mau pakaian yang mana?," tanya Tiara.


"Pakaian yang itu," kata Sandi sembari menunjukkan pakaian yang ingin ia kenakan.


"Baik mas," kata Tiara mengambil pakaian yang ditunjuk oleh Sandi. Tiara memberikan pakaian itu kepada Sandi dengan menunduk.


"Terima kasih ya," kata Sandi.


"Ia mas," kata Tiara dengan nada datar.


Tiba-tiba Sandi mengangkat dagu Tiara. Tiara kaget.


"Iya mas, maaf," kata Tiara.


"Sebenarnya apa yang membuatmu menunduk sih?,'' tanya Sandi.


"Tidak ada mas," kata Tiara.


"Jangan berbohong! kalau tidak ada alasannya lalu kenapa kamu menunduk? jujur saja!," kata Sandi.


"Aku malu mas karena mas telanjang dada," kata Tiara mengaku.


"Jangan seperti itu, jangan bersikap seperti kita orang asing! kita ini sudah suami istri Tiara. Lalu bagaimana kalau nanti malam kita tidur satu ranjang?," kata Sandi.


"Maaf mas. Aku akan berusaha untuk tidak bersikap malu-malu," kata Tiara.


"Baiklah akan ku lihat nantinya," kata Sandi.


"Mas, mau aku buatkan segelas kopi?," tanya Tiara.


"Iya Tir, tolong buatkan. Aku sebenarnya hendak memintamu membuatkannya untukku," kata Sandi. Tiara tersenyum. Tiara segera membuatkan kopi untuk Sandi.

__ADS_1


Sandi sedang asyik menonton televisi. Ia tidak mendengar ponselnya berdering. Tiara yang mendengar bunyi dering ponsel Sandi segera memberi tahunya kepada Sandi.


"Mas, ponsel mas berbunyi. Coba mas lihat!," kata Tiara mengingatkan.


"Oh iya," kata Sandi. Sandi bergegas mengecek ponselnya. Ternyata panggilan dari kekasihnya, Lisa.


Sandi sangat gugup. Ia takut untuk mengangkat panggilan Lisa. Ia memilih mematikan panggilan itu. Kemudian ia mengirim pesan singkat kepada Lisa.


"Maaf sayang karena aku menolak panggilan kamu. Aku sedang bersama Tiara. Aku akan menghubungi kamu nanti ya," kata Sandi dalam pesan singkat itu.


Lisa yang terlanjur marah karena teleponnya ditolak, ia mengabaikan ponselnya dan memilih berendam untuk segera membersihkan diri.


Sandi kembali melanjutkan aktivitas menonton acara komedi yang ada di televisi. Sandi duduk bersebelahan dengan Tiara yang sudah berada disofa dengan segelas kopi yang ia sediakan.


"Mas, ini kopinya," kata Tiara yang duduk pas bersebelahan dengan Sandi.


"Iya Tir," kata Sandi sambil menyeruput kopi buatan istrinya itu. Mereka sama-sama menikmati acara komedi itu dengan diwarnai tawa yang puas.


Lisa sudah selesai membersihkan diri. Ia kemudian mengecek ponselnya. Dia membaca pesan singkat dari Sandi tadi. Lisa membalas pesan singkat itu.


"Ia tidak apa-apa sayang, aku paham. aku hanya ingin bertanya apa kamu sudah sampai? tapi sekarang semua sudah terjawab dari pesan yang kamu kirim kalau kamu sudah sampai dengan selamat," kata Lisa.


Pesan Lisa itu tidak langsung dibalas Sandi Karena Sandi sedang menikmati acara ditelevisi bersama Tiara.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19:00 malam. Waktu makan malam sudah tiba. Tiara menyadari hal itu.


"Mas, sudah pukul 19:00 malam. Mari kita makan malam!," kata Tiara mengajak Sandi.


"Oh baiklah, mari!," kata Sandi.


Sandi dan Tiara meninggalkan kamar untuk kemudian turun makan malam. Sandi sudah duduk dimeja makan sedangkan Tiara sibuk menyiapkan hidangan untuk disantap. Tiara juga menyediakan ayam bakar pesanan Sandi.


Sandi yang mencium aroma masakan Tiara menjadi terpancing ingin cepat melahap masakan itu.


"Mari mas, silahkan dicicip masakanku!," kata Tiara tersenyum.


"Iya," kata Sandi tersenyum pula.


Sandi mencicipi ayam bakar Tiara. Ayam bakar buatan Tiara itu sangat lezat. Sandi bahkan memuji Tiara.


"Ayam bakar buatan kamu ini sangat lezat Tiara. Dimana kamu belajar memasak seenak ini?," kata Sandi sambil melahap ayam bakar buatan Tiara.


"Terima kasih mas. Aku tidak belajar dari siapa-siapa. Mungkin karena aku terbiasa memasak sedari kecil, jadi nampak lezat," Kata Tiara.

__ADS_1


__ADS_2