Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 123


__ADS_3

"Syukurlah mbak, kalau mbak sudah memberitahu mereka kalau Asta sedang menyelesaikan pendidikannya," kata Asta.


"Iya As, cepat atau lambat, pasti nanti Lia dan Farhan akan bertemu dan mengenal satu sama lain," kata bu Sari.


"Iya mbak, mudah-mudahan saja," kata bu Asta.


Mereka melanjutkan obrolan itu dengan berbagai topik-topik lain sampai malam sudah larut.


"Mbak, malam sudah semakin larut nih. Sepertinya sudah waktunya kami pulang," kata bu Asta.


"Kenapa terburu-buru sekali?," tanya bu Asta.


"Haduh, malam kan sudah mulai larut mbak," kata bu Asta.


"Bagaimana kalau kalian menginap disini saja?," kata bu Sari menawarkan.


"Maaf mbak, bukannya tidak mau. Besok ada rapat penting di perusahaan jadi kami harus berangkat lebih awal besok," kata bu Asta.


"Kalau itu alasannya, tidak apa-apa kalau begitu. Ya sudah mbak dan mas Airlangga akan mengantarkan kalian berdua ke depan," kata bu Sari.


"Iya mbak, mari!," kata bu Asta.


Mereka bersama-sama melangkah keluar.

__ADS_1


"Kalian berdua hati-hati ya dijalan!," kata bu Sari.


"Iya mbak," kata pak Andre dan bu Asta secara bersamaan.


Mobil bu Asta perlahan meninggalkan kediaman Sandi.


Pak Airlangga dan bu Sari memutuskan untuk langsung ke kamar. Rasa kantuk berat telah menguasai mereka berdua.


Pagi kembali menyingsing, Tiara dan Sandi sudah duduk dikursi dengan ditemani minuman panas favorit masing-masing.


Hari ini Sandi dan Tiara akan mengunjungi toko buku terdekat. Itu permintaan dari Tiara. Karena waktu bulan madu mereka akan berakhir hari ini, Tiara memilih mengajak Sandi ke sebuah tempat yang bermanfaat.


Dirinya ingin membeli buku bacaan yang ia sukai. Buku perkuliahan dan buku-buku menarik lainnya. Sandi pun menerima dengan baik gagasan istrinya itu.


Mereka sudah berada ditoko buku saat ini. Tiara mulai memilih-milih buku yang ia ingin beli


"Kamu lihat buku apa?," tanya Sandi.


"Buku tentang ibu hamil mas," kata Tiara.


Sandi terdiam untuk beberapa saat ketika Tiara mengatakan hal tersebut.


"Kamu tertarik dengan buku itu?," tanya Sandi.

__ADS_1


"Iya mas, aku boleh ambil tidak?," tanya Tiara


"Boleh sekali, ambil saja kalau kamu suka," kata Sandi.


"Terima kasih mas," kata Tiara.


"Hm," kata Sandi memberi jawaban dengan singkat.


"Mas sendiri sudah beli buku belum?," tanya Tiara.


"Sudah, tapi baru dua," kata Sandi.


"Buku apa mas?," tanya Tiara.


"Buku tentang managemen bisnis dan kewirausahaan saja," kata Sandi.


Mereka kembali melanjutkan pencarian buku-buku yang mereka ingin lihat. Tiara tiba-tiba berhenti lagi setelah melihat buku yang berjudul sangat menarik bagi Tiara.


Judul buku itu adalah ''cara membangun rumah tangga yang kokoh,". Tiara mengambil buku itu. Kira-kira Tiara sudah memilih Belasan buku sedangkan Sandi baru 5.


Tiara merasa itu sudah cukup. Dia takut banyak membeli buku kalau akhirnya tidak sempat untuk dibaca. Yang ada hanya membuang-buang duit saja.


"Apa buku ini sudah cukup?," tanya Sandi.

__ADS_1


"Aku rasa sudah mas, beli banyak juga takut tidak terbaca," kata Sandi.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga sudah cukup dengan buku-buku yang aku beli ini. Sekarang lebih baik kita pergi ke kasir untuk membayar buku-buku yang kita ambil ini. Setelah itu kita mencari restauran yang paling tepat untuk makan siang," kata Sandi.


__ADS_2