Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 157


__ADS_3

Sandi melihat sebuah cincin yang ia anggap pas untuk Lisa. Ia kemudian menawarnya. Betul-betul mengagetkan, harga cincin tersebut sebesar 20,000,000 rupiah.


Namun bagi Sandi hal itu mudah. Penghasilannya jauh dari harga cincin tersebut.


Ia kemudian mengeluarkan kartu debitnya, lalu membayar cincin tersebut.


"Cincin ini akan diberikan kepada siapa mas?," tanya karyawan toko.


"Kepada kekasih saya mbak, sebagai hadiah," kata Sandi.


"Oh begitu ya mas," kata karyawan toko.


Sandi mengangguk.


Setelah semuanya selesai, Sandi meninggalkan toko perhiasan.


Sepupu Fira pun izin pulang. Fira dan sepupunya secara bersamaan dengan Sandi meninggalkan toko perhiasan tersebut.


Dalam perjalanan, Sandi menghubungi Lisa. Panggilan tersebut segera terangkat oleh Lisa.


"Halo sayang, kamu lagi dimana?," Sandi mempertanyakan posisi Lisa saat ini.


"Aku lagi ada acara sayang. Aku jadi bintang iklan dari salah satu produk perusahaan," Lisa memberi penjelasan.


"Apa kamu masih sibuk sekarang?," tanya Sandi.


"Tidak sih sayang, acaranya sudah selesai. Aku sebentar lagi akan pulang," kata Tiara.

__ADS_1


"Serius? aku jemput kamu sekarang ya? aku ingin ketemuan sama kamu sekarang," kata Sandi.


"Lho, bukannya kamu masih banyak pekerjaan dikantor hari ini?," Lisa merasa heran karena Sandi ingin mengajak dirinya bertemu.


"Ia sih, tapi pekerjaanku dikantor sudah tidak begitu banyak, oleh karenanya aku bisa bertemu kamu hari ini," kata Sandi.


"Wah, terima kasih ya sayang atas waktunya," kata Lisa.


"Iya sayang, sama-sama. Sekarang kamu tinggal share saja lokasi kamu sekarang agar aku bisa menjemput kamu," kata Sandi.


"Jangan sayang!," Lisa melarang Sandi mendatanginya.


"Lho, kenapa sayang? apa kamu tidak ingin aku jemput?," Sandi bertanya-tanya.


"Bukan begitu sayang, tapi papah dan mamah kamu sedang berada disini," kata Lisa.


"Sepertinya papah dan mamah kamu jadi tamu penting deh, soalnya tadi duduknya dijajaran kursi VIP lho," kata Lisa.


"Baiklah sayang kalau begitu, jadi sebaiknya aku menjemput kamu dimana sayang?," tanya Sandi.


"Aku akan share lokasi cafe terdekat dari sini," kata Lisa.


"Baik sayang, aku tunggu ya!," kata Sandi.


"Iya sayang," kata Lisa.


Lisa kemudian menghubungi supir pribadinya untuk menjemputnya. Sebelum ia keluar dari kantor Faris, ia terlebih dahulu meminta izin.

__ADS_1


Setelahnya, ia kemudian turun. Supir pribadinya sudah menunggu diluar. Ia pun memasuki mobil.


"Non, langsung pulang atau mau diantar kemana?," tanya supir pribadi.


"Mas antar saya ke cafe cemara," kata Lisa.


"Cafe cemara non? saya tidak pernah dengar, saya juga belum pernah ke kafe itu non," kata supir pribadi Lisa.


"Cafenya sudah dekat-dekat sini kok, 5 menitan lagi ke depan," kata Lisa.


"Baik non," kata supir pribadi Lisa.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai dicafe cemara yang dimaksudkan oleh Lisa.


Lisa kemudian mengirimkan Sandi lokasi cafe cemara tersebut. Sandi yang sedang memainkan ponselnya pun segera mendapat pesan dari Lisa. Ia membukanya.


"Ternyata tidak jauh, hanya sekitar 20 menit dari tempatku berada," gumam Sandi.


Sandi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mas, saya ada janji dengan seseorang. Jadi mas boleh pulang!," kata Lisa.


"Serius non?," tanya supir pribadi.


"Ia mas, mobilnya silahkan mas bawa ya," kata Lisa.


"Baik non, saya paham," kata supir pribadi.

__ADS_1


Lisa keluar dari mobil. ia menggunakan masker. Ia tidak ingin publik mengetahui tentang keberadaannya.


__ADS_2