Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 34


__ADS_3

Tiara kemudian melihat sebuah gambar pulau yang indah pada lembar paket tersebut. Pulau tersebut terletak di Bali.


"Bagaimana Tir? kamu mau pilih bulan madu dimana?," tanya Sandi.


"Aku mau bulan madu disini mas," kata Alya menunjuk gambar pada paket.


"Itu kan di Bali," kata Sandi.


"Iya mas, sepertinya akan sangat menyenangkan untuk berbulan madu disini," kata Tiara.


"Hm, baiklah. Aku pun menyukai tempat ini," kata Sandi.


"Mas sudah pernah kesini ya sebelumnya?," tanya Tiara.


"Iya, aku pernah kesini. Tepatnya ketika aku duduk di bangku sekolah menengah atas," kata Sandi.


"Begitu ya mas. Pasti mas memiliki pengalaman yang sangat indah disini," kata Tiara.


"Iya Tir. Banyak tempat yang indah disini," kata Sandi.


"Aku jadi tidak sabar untuk segera pergi berbulan madu ke pulau bali ini mas," kata Tiara.


"Iya," kata Sandi tersenyum.


"Tapi mas," kata Tiara.

__ADS_1


"Tapi kenapa?," tanya Sandi.


"Mas tidak apa-apa berbulan madu disini?," kata Tiara.


"Memangnya kenapa kalau kita berbulan madu disini,?" tanya Sandi.


"Ya mas kan sudah pernah kesini sebelumnya. Aku berfikir bahwa nanti mas tidak memiliki kesan yang mengagumkan untuk dikenang," kata Tiara.


"Tidak apa-apa. Aku kan bilang tempat ini indah," kata Sandi.


"Begitu ya mas. Terima kasih ya mas," kata Tiara.


"Iya Tir," kata Sandi. Tiara masih tersenyum-senyum sendiri karena perasaannya yang masih merasa gembira.


"Kak, mas, ayo makan malam!," kata Doni mengajak.


"Iya dek," kata Tiara. Sandi dan Tiara beranjak dari ranjang.


Bu Sari dan pak Airlangga juga akan menikmati makan malam mereka.


"Mah, kenapa Sandi dan Tiara tidak turun juga dari kamar mereka?," tanya pak Airlangga yang tidak melihat putra dan menantunya.


"Mereka tidak ada dirumah sekarang pah," kata bu Sari.


"Tidak dirumah? kemana memangnya mereka mah?," tanya pak Airlangga.

__ADS_1


"Mereka mamah suruh menginap dirumah Tiara pah. Sudah saatnya Sandi harus mendekatkan diri dengan mertuanya," kata bu Sari.


"Bagus itu mah. Papah senang mamah memiliki ide seperti itu," kata pak Airlangga.


"Iya pah. Ayo kita lanjut makan pah!," kata bu Sari.


"Iya mah," kata pak Airlangga.


Usai makan malam, Tiara dan Sandi kembali ke kamar. Mereka nampaknya cukup lelah hari ini. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menidurkan tubuh mereka yang letih itu.


Sandi sudah mulai terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Tiara belum. Namun, ketika Sandi terlelap tubuhnya berbalik dan memutar tanpa ia sengaja dan sadari yang kini posisinya memeluk tubuh Tiara.


Tiara pun terkaget. Akan tetapi, Tiara segera menyadarinya. Bahwa Sandi sedang berada dalam kondisi tidur yang nyenyak. Dia pun tidak menepi, dia membiarkan suaminya itu memeluknya.


Tiara kemudian memandangi wajah suaminya tersebut dengan pandangan yang teduh dan lembut. Dia melihat ketampanan Sandi. Dia tersenyum. Tiara kemudian mengelus wajah Sandi dengan perlahan.


...Aku berharap kamu memang jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku. Batin Tiara....


Tiara kemudian perlahan menutup matanya. Lama kelamaan, Tiara pun terlelap dalam tidurnya.


Matahari pagi menyingsing, Tiara membangunkan Sandi. Sandi pun segera terbangun. Hari ini hari libur, Tiara ingin mengajak Doni pergi berlibur ke taman raya. Tiara sudah berjanji kepada adik bungsunya itu.


"Mas, aku sudah siapkan air hangat untuk mas mandi," kata Tiara.


"Iya Tir," kata Sandi. Sandi segera membuka pakaiannya. Tapi tidak dengan celananya. Karena Sandi masih belum terbuka kepada Tiara.

__ADS_1


__ADS_2