
Farhan dan Amran pun hilang dari pandangan Tiara dan Fira.
"Tir, kenapa kamu berbohong tadi kepada Farhan?," tanya Fira.
"Kamu tadi dengar sendirikan? kalau Farhan berniat mengantarkan aku ke rumah," kata Tiara.
"Lalu, apa yang salah?," tanya Fira.
"Haduh Fir, aku sudah menjadi istri orang lain. Aku yakin kamu paham tanpa aku harus menjelaskannya secara detail," kata Tiara.
"Astaga, iya Tir aku paham. Aku lupa tentang pernikahan kamu. Maaf ya," kata Fira.
"Hm, iya deh," kata Tiara.
"Jadi kamu mau diantar kemana sekarang?," tanya Fira.
"Aku mau diantar ke rumahku saja!," kata Tiara.
"Kenapa? gak ke rumah baru kamu saja?," tanya Fira.
"Aku rindu pada bapak, ibu dan adikku," kata Tiara.
"Baiklah," kata Fira.
Fira mengambil kunci motor didalam tasnya.
"Ayo naik!," kata Fira.
"Baik Fir," kata Tiara. Fira menancapkan gas sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Ditengah-tengah perjalanan Tiara meminta Fira untuk berhenti. Tiara ingin membelikan ice cream dan buah-buahan untuk adik dan orang tuanya.
Mereka hanya butuh seperempat jam lebih untuk sampai ke rumah Tiara. Jarak rumah Tiara dengan universitas mereka memang dekat.
Bu Lilis sedang mempersiapkan makan siang didapur. Doni asyik menonton televisi. Doni yang terlebih dahulu mendengar suara motor didepan rumah segera membukakan pintu.
Doni nampak sangat senang karena suara motor tadi adalah tanda kedatangan kakaknya. Doni kemudian berlari dengan cepat. Doni kemudian memeluk erat tubuh kakaknya.
"Kakak sudah lama sekali tidak datang ke rumah kita," kata Doni.
"Maaf ya dek, kakak kan sudah menikah. Jadi sekarang sudah punya rumah sendiri. Itu artinya, kakak sudah tidak bisa kesini terus," kata Tiara.
"Ya deh kak, tidak apa-apa. Ayo masuk kak!," kata Doni.
"Tunggu dek. Kamu salim dulu sama kak Fira!," kata Tiara.
"Iya kak," kata Doni. Doni mencium punggung tangan Fira. Fira mencubit pipi Doni.
"Ini ambil ice cream sama buah-buahan yang kakak beli tadi," kata Tiara menyerahkan ice cream dan buah-buahan tersebut ke tangan Doni. Doni sumringah menerima pemberian kakaknya itu.
"Terima kasih ya kak," kata Doni.
__ADS_1
"Iya dek," kata Tiara mengusap kepala Doni.
Mereka bertiga memasuki rumah bersama-sama.
"Siapa yang datang Don?," tanya bu Lilis melangkah keluar dari dapur yang juga ikut mendengar suara motor tadi.
Belum sempat Doni menjawab, bu Lilis mengetahui jawaban akan pertanyaannya sendiri.
"Lho, anak perempuan ibu," kata bu Lilis memeluk Tiara.
"Ada Fira juga," kata bu Lilis. Fira mencium kedua punggung tangan ibu Lilis. Bu Lilis juga memeluk hangat Fira.
Fira dengan keluarga Tiara memang sudah dekat sejak lama. Persahabatan Tiara dan Fira sudah dimulai sejak mereka menginjak bangku pendidikan sekolah menengah pertama.
"Pas sekali kalian datang, ibu sedang memasak untuk makan siang. Mari kita makan sama-sama!," kata bu Lilis.
Mereka melangkah bersama ke dapur. Dimeja sudah tersedia hidangan makanan sederhana. Mereka memakan makanan tersebut dengan lahap.
"Bagaimana masakan ibu Fir? enak tidak?," tanya bu Lilis.
"Enak sekali bu," kata Fira memuji.
"Kalau memang enak, makannya yang lahap ya nak," kata bu Lilis.
"Baik bu," kata Fira.
Setelah makan siang, bu Lilis mengajak Tiara dan Fira mengobrol santai diruang tamu. Obrolan santai itu ditemani oleh teh hangat.
"Alhamdulillah bu, semuanya berjalan dengan lancar," kata Tiara.
"Syukurlah, mudah-mudahan kalian cepat wisudanya," kata bu Lilis.
"Iya bu, amin," kata Tiara dan Fira dengan kompak.
"Oh iya bu, aku mau tanya nih. Kenapa sih aku tidak diundang ketika pernikahan Tiara kemarin?," tanya Fira.
"Kamu sudah tahu kalau Tiara sudah menikah nak?," tanya bu Lilis.
"Iya bu, Fira sudah tahu. Fira tahu langsung dari pengantin perempuannya," kata Fira.
"Oh, baguslah nak jika kamu mengetahui hal itu dari Tiara langsung," kata bu Lilis merasa lega.
"Kenapa aku tidak diberi tahu bu?," tanya Fira untuk kedua kali.
"Karena pernikahan Tiara itu mendadak, ibu takut mengundang banyak orang yang akhirnya diketahui umum. Nantinya akan menjadi gosip," kata bu Lilis.
"Oh begitu ya bu. Kalau itu jawabannya Fira menerimanya. Itu hal wajar bu," kata Fira.
"Terima kasih ya nak untuk pengertiannya," kata bu Lilis.
"Sama-sama bu," kata Fira tersenyum.
__ADS_1
Mereka melanjutkan obrolan itu dengan berbagai topik.
Lisa merasa tidak nyaman menunggu kedatangan Sandi.
"Kenapa lama sekali Sandi datang?," kata Lisa menggerutu.
Lisa tidak sabar. Ia memutuskan menghubungi Sandi. Sebelum ia menekan menu panggilan, suara bel yang berada digerbang berbunyi.
Lisa membatalkan niatnya menghubungi Sandi. Ia terlebih dahulu keluar dari rumah untuk melihat siapa yang menekan tombol bel?. Tidak disangka, ternyata orang yang menekan tombol bel tadi adalah Sandi, orang yang Lisa tunggu-tunggu.
"Kenapa lama sekali datangnya sayang?," tanya Lisa sambil membukakan pintu gerbang.
"Maaf sayang, aku tadi harus menyelesaikan beberapa pekerjaan tadi. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu sampai sore. Jadi aku menyelesaikan pekerjaan itu agar aku tidak perlu ke kantor lagi nantinya," kata Sandi.
"Begitu ya sayang. Baiklah, aku paham. Ayo kita masuk ke dalam! kamu pasti sudah lapar," kata Lisa.
"Ayo sayang kita masuk!," kata Sandi.
Lisa menuntun Sandi menuju dapur. Diatas meja sudah tersedia hidangan makanan yang dimasak langsung oleh Lisa.
"Ayo sayang, kamu cicipi masakanku!," kata Lisa.
"Ok sayang," kata Sandi.
Karena keasyikan mengobrol, Fira lupa waktu. Ia sudah terhitung dua jam dirumah Tiara. Fira harus mengantar ibunya sore ini untuk sesuatu urusan. Fira tersadar setelah dengan tidak sengaja menatap jam dinding yang tergantung pada dinding ruang tamu.
"Maaf bu, Tir, aku harus pulang nih," kata Fira.
"lho, kenapa buru-buru sekali?," tanya Tiara.
"Apa? buru-buru? aku sudah dua jam disini Tir," kata Tiara.
"Hm, biasanya kamu mau sampai maghrib baru pulang," kata Tiara menyindir.
"Hm," Fira menampakkan wajah kesal. Bu Lilis yang melihatnya tersenyum dengan diselingi tawa kecil.
"Tumben nak kamu pulangnya cepat sekali?," tanya bu Lilis.
"Sebelum berangkat kuliah tadi, mamah berpesan minta diantarkan sore ini untuk sesuatu urusan bu," kata Fira.
"Ya sudah nak, kamu lebih baik sekarang pulang," kata bu Lilis.
"Baik bu. Kalau begitu aku pulang dulu ya," kata Fira.
"Iya nak, hati-hati!. Antar Fira sampai depan Tir!," kata bu Lilis.
"Baik bu," Tiara beranjak dari kursi. Dia berjalan bersama Fira ke depan rumah.
"Hati-hati dijalan ya," kata Tiara.
"Ok Tir," kata Fira. Fira menghidupkan sepeda motornya. Dia meninggalkan rumah Tiara dengan lambaian tangan. Lama-kelamaan Fira menghilang dari pandangan Tiara.
__ADS_1