Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 148


__ADS_3

"Tapi tidak sepenuhnya salah kamu sayang, aku juga terlalu dikuasai oleh emosional pribadiku," Sandi mengakui kesalahan yang ada dalam dirinya.


"Iya deh sayang, aku senang kita bisa berbicara dengan akrab dipagi yang indah ini," kata Lisa.


"Aku juga sayang," kata Sandi.


"Kalau begitu kapan nih kita bisa bertemu? aku sudah sangat merindukan kamu," Lisa bertanya.


"Kalau hari ini aku tidak bisa sayang. Soalnya pekerjaanku dikantor sudah menumpuk dan tidak bisa ditinggal," kata Sandi.


"Jadi kapan donk bisanya? kalau besok bisa tidak sayang?," tanya Lisa.


"Aku juga tidak bisa memastikan apakah aku bisa atau tidak besok bertemu dengan kamu?," kata Sandi.


"Hm, ya sudah kamu kabari saja kapan bisanya kamu bisa bertemu dengan aku?," kata Lisa.


"Baiklah sayang kalau begitu, aku akan segera mengabari kamu secepatnya kalau aku memiliki waktu luang," kata Sandi.


"Iya sayang, aku tunggu," kata Lisa.


"Kamu tidak marah kan kita tidak bisa bertemu sekarang?," tanya Sandi.

__ADS_1


"Tidak kok sayang, aku tidak apa-apa. Aku paham kondisi kamu. Santai saja," kata Lisa.


"Syukurlah kalau kamu paham, aku takut kita bertengkar lagi," kata Sandi.


"Hehehe, iya sayang. Aku akan berusaha supaya kita tidak bertengkar lagi," kata Lisa.


"Iya sayang," kata Sandi.


Panggilan tersebut berakhir. Sandi kembali melanjutkan pekerjaannya.


Hubungan Sandi dan Lisa sudah mulai membaik seperti sebelumnya.


Yang terpenting Sandi tidak lagi marah kepadaku dan hubungan kami sudah membaik seperti sebelumnya," gumam Lisa merasa bahagia.


Sandi kembali melanjutkan pekerjaannya. Saat ia mulai lelah, sesekali ia memainkan ponselnya. Ia tidak sengaja melihat pembaharuan status yang dibuat oleh Tiara.


Tiara memotret dirinya yang sedang berada didalam kelas. Ia memotret dirinya dengan senyum manis.


Aku tidak mengerti sebenarnya dengan diriku. Bagaimana bisa aku mencintai dua wanita dengan satu hati?. Batin Sandi bertanya-tanya.


Hubungan Sandi dan Tiara dari hari ke hari memang semakin dekat dan romantis. Hal itu membuat benih-benih cinta tumbuh didalam hati Sandi. Ia mulai mencintai Tiara.

__ADS_1


Oleh karenanya, dia sudah menganggap Tiara sebagai istrinya sepenuhnya. Sandi hanya pasrah melihat nanti apa yang terjadi kedepannya.


Dilain sisi, bu Asta dan pak Andre sudah berada diamerika untuk menghadiri acara wisuda Lia.


"Lia rindu sekali sama om sama tante," kata Lia memeluk pak Andre dan bu Asta yang baru saja sampai diapartement pribadi milik Lia.


"Tante juga sangat merindukan kamu nak, sungguh sangat merindukan kamu," kata bu Asta.


Mereka berpelukan satu sama lain untuk melepas rasa rindu. Lia kemudian mengajak bibik dan pamannya itu makan siang.


Lia membawa mereka ke salah satu restauran. Mereka memesan makanan yang mereka suka.


"Tan, Lia sebenarnya rindu sekali dengan masakan tante. Kalau disini Lia tidak bisa mencicipi makanan yang berbau khas Indonesia," kata Lia.


"Hm, nanti tante masakin semua masakan yang kamu suka, bagaimana?," tanya bu Asta.


"Tentu Lia mau tan," kata Lia merasa gembira.


"Meskipun kamu sudah lama tinggal diamerika dan berbaur dengan orang-orang disini yang jauh berbeda kultur dan bahasa dengan kita, kamu masih fasih ya berbahasa Indonesia," kata pak Andre.


"Ya begitulah om, bagaimana lagi, aku kan sudah mendarah daging dengan Indonesia," kata Lia.

__ADS_1


__ADS_2