
Tiara datang dengan sebuah nampan dengan secangkir kopi diatasnya. Dia meletakkan gelas yang berisi kopi tersebut diatas meja.
"Ini mas, kopinya. Silahkan mas minum!," kata Tiara.
Sandi mengangguk dengan disertai senyuman manis. Tiara pun duduk dikursi dan ikut bergabung dalam obrolan santai itu.
Lisa terlihat melamun dibalkon kamarnya. Lamunan tersebut menandakan dia sedang memikirkan sesuatu.
Kenapa sekarang aku merasa sangat takut kehilangan Sandi? apa aku sudah mulai mencintai dia?. Batin Lisa.
Dulu aku hanya mengincar hartanya saja. Aku tidak pernah menganggap dia sebagai kekasihku. Akan tetapi sekarang, aku sudah mulai merasa sendiri dan merasa sepi tanpa kehadirannya. Aku sepertinya betul-betul sudah mencintai Sandi. Batin Lisa dengan diiringi tetesan air mata. Nampak penyesalan yang mendalam dalam diri Lisa.
Walaupun sekarang Sandi sudah menikah, itu bukan penghalang bagiku untuk tetap bersama dia. Toh, Sandi juga tidak mencintai perempuan itu. Ini saatnya memperjuangkan cintaku kepada Sandi. Batin Lisa tersenyum.
Pak Arifin sudah pulang dari bekerja. Ia kemudian disambut oleh bu Lilis, Sandi dan Tiara. Sandi dan Tiara mencium kedua punggung tangan pak Arifin.
"Lho, kalian datang rupanya," kata pak Arifin.
"Ia pak. Maaf ya pak, baru sekarang sempatnya main ke sini," kata Sandi.
"Tidak apa-apa nak. Ayo duduk lagi!," kata pak Arifin.
__ADS_1
"Kenapa baru pulang pak? apa bapak banyak kerjaan dikantor?," tanya Sandi memulai obrolan dengan ayah mertuanya tersebut.
"Ya begitulah nak, semenjak bapak naik posisi menjadi kepala cabang, sekarang pekerjaan bapak tidak lagi seperti dulu. Sekarang jam kerja dan lingkup kerjanya sudah bertambah," kata pak Arifin.
"Iya pak, aku paham," kata Sandi.
Pak Arifin menghabiskan waktu dengan Sandi mengobrol Sedangkan bu Lilis dan Tiara melanjutkan pekerjaan mereka untuk memasak makan malam.
Maghrib pun tiba. Tiara memanggil Sandi ke kamarnya. Sandi pun berjalan ke kamar Tiara.
"Mas, mas sebaiknya mandi supaya jangan terlalu malam mandinya," kata Tiara.
"Tapi mas," kata Tiara.
"Kenapa Tir?," tanya Sandi kaget.
"Dirumah ini tidak ada baju ganti untuk mas pakai," kata Tiara.
"Oh, itu rupanya. Tidak usah takut, aku sudah membeli baju saat perjalanan kesini tadi," kata Sandi.
"Gitu ya mas, baguslah," kata Tiara.
__ADS_1
Sandi memasuki kamar mandi. Tiara menunggu dikamar. Karena rumah Tiara ini tergolong rumah yang sederhana, jadi kamar mandi dan kamar tidur terpisah letaknya.
Usai mandi, Sandi kembali ke kamar untuk bersalin pakaian. Tiara kemudian berganti posisi, kini Ia yang ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sandi dan Tiara kini duduk berdua diatas ranjang. Mereka mengobrol hal-hal yang biasa diobrolkan, seperti pekerjaan Sandi dikantor hari ini. Namun Sandi tampak berdiri dari ranjang. Ia mengambil sesuatu didalam tas kerjanya. Itu adalah pilihan paket wisata bulan madu yang diberikan ayahnya tadi pagi melalui sekretaris.
Sandi menyerahkan paket itu kepada istrinya. Tiara masih bingung, ia bertanya-tanya didalam hati. Apa yang diberikan oleh Suaminya itu?.
"Apa ini mas?," tanya Tiara.
"Itu adalah paket tour dan wisata bulan madu yang diberikan papah tadi pagi kepadaku," kata Sandi.
"Oh begitu ya mas," kata Tiara.
"Ia Tir, papah mau kita berbulan madu. Ini adalah hadiah pernikahan papah untuk kita," kata Sandi.
"Semua pilihan paketnya mahal-mahal ya mas," kata Tiara tersenyum.
"Ya begitulah," kata Sandi dengan nada datar.
Tiara melihat-lihat paket tersebut dengan membuka tiap lembarannya.
__ADS_1