
"Apa obat-obatan itu baik dikonsumsi secara rutin?," tanya Sandi.
"Kata mamah sih aman mas, soalnya mamah pesan obat ini dari dokter kepercayaan mamah sendiri," kata Tiara.
"Ya sudah, kalau mamah memang bilang begitu ya kita tinggal mengikuti apa yang dikatakan mamah saja," kata Sandi.
"Iya mas. Mas, aku mau sampaikan sesuatu boleh tidak?," tanya Tiara.
"Boleh donk. Kamu mau menyampaikan apa?,"
"Mas, sebenarnya mamah bukan hanya memberikan vitamin kesehatan dan kecantikan tapi mamah juga memberikan vitamin dan obat-obat herbal untuk membantu kesuburan wanita dan juga mempercepat proses kehamilan mas," kata Tiara.
Sandi kaget mendengar ucapan dari Tiara.
"Apa? mamah memberikan obat-obatan herbal agar kamu cepat hamil?," tanya Sandi.
"Iya mas, mamah memberikan obat-obatan itu dengan harapan agar aku cepat mengandung bayinya," kata Tiara.
"Mamah pasti sudah sangat ingin menimang cucu pertamanya. Mamah hanya bisa berharap dengan kita untuk saat ini," kata Sandi.
"Iya mas, mas benar, jadi kita harus bagaimana?," tanya Tiara dengan nada yang polos.
Ternyata makin kesini makin sulit juga. Keinginan mamah juga bukan hal yang salah, itu memang sudah seharusnya mamah memiliki cucu dari kami. Batin Sandi.
"Maksud kamu tentang memiliki anak?," tanya Sandi balik.
__ADS_1
"Iya mas, bagaimana?," tanya Tiara lagi.
"Kapan kamu memiliki kesiapan untuk melakukannya denganku," tanya Sandi.
"Melakukan apa mas?," tanya Tiara lagi.
"Kenapa kamu masih bertanya kita melakukan apa? apa aku harus mengatakannya? kamu benar-benar sangat polos," kata Sandi.
"Maksud mas melakukan hubungan suami istri ya?," tanya Tiara.
"Itu akhirnya kamu paham," kata Sandi.
Tiara gelagapan mendengar perkataan Sandi tersebut.
"Aku belum pernah melakukannya mas, jadi aku masih takut," kata Tiara.
"Iya mas," kata Tiara.
"Kita bisa melakukannya kalau kamu sudah siap, jangan memaksa diri," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara.
Apa yang baru saja aku katakan? kenapa aku mengatakannya secara spontan? ah, sudahlah, lagi pula hal itu memang biasa dilakukan orang yang sudah menikah. Aku juga kasihan lihat mamah yang sudah beberapa kali bicara tentang cucu ke aku dan Tiara. Mungkin selama nanti kami dibali, kami bisa melakukannya dengan bebas tanpa ada gangguan. Batin Sandi.
"Ya sudah Tir, kita lebih baik istirahat sekarang. Biar besok tubuh kita merasa segar saat bangun pagi," kata Sandi.
__ADS_1
"Baik mas," kata Tiara.
Pagi pun tiba, matahari menyingsing kembali.
Tiara dan Sandi kini sudah berada diruang tengah bersama bu Sari dan juga pak Airlangga.
"Apa semuanya sudah kamu siapkan dengan baik Tir? tidak ada yang ketinggalan kan?," tanya bu Sari.
"Tidak ada kok mah," kata Tiara.
"Kalian mau berangkat sekarang?," tanya pak Airlangga.
"Sebentar lagi lah pah," kata Sandi.
"Baiklah, kalau begitu papah duluan ke kantor ya, ada rapat pagi ini. Kalian hati-hati nanti dijalannya. Kabar-kabari papah dan mamah kalau kalian sudah sampai," kata pak Airlangga.
"Baik pah," kata Sandi.
"Baik pah," kata Tiara juga.
Farhan terlihat santai hari ini dirumah. Bu Rika heran melihatnya.
"Han, kamu tidak berangkat kuliah hari ini?," tanya bu Rika.
"Hari ini kuliah tidak ada jam kuliah mah," kata Farhan.
__ADS_1
"Hm, begitu ya?," kata bu Rika.
"Oh iya mah, Farhan mau tanya sesuatu nih," kata Farhan.