
Selamat membaca...
***
"Aku pergi. " Ucap Zeny sambil berlalu dihadapan kedua pria itu.
Saat sampai di pintu keluar Tiba tiba tangan Zeny ditarik oleh seseorang.
"Eehh? "
"Biarkan aku mengantarmu. " Ucap Revan sembari menarik tangan Zeny menuju mobil.
"Huh, kalau tidak dipaksa pengkhianat itu, aku tidak mau bersamamu. " Ucap Revan dalam hati karena ia kesal dengan Aris yang sangat suka memaksanya.
"Apa maumu huh?! " Tanya Zeny.
"Aku hanya mau mengantarkanmu ketujuan, kemana kau akan pergi? "
"Hmm, sepertinya pria ini berguna juga. " Batin Zeny sambil tersenyum sinis kearah Revan.
"Antar aku ke perusahaan MVC. " Perintah Zeny.
"Baiklah." Ucap Revan terpaksa lalu mengantar Zeny ke perusahaan Yang ditujunya.
Sesampainya disana Zeny langsung turun dan berlari tanpa mengucapkan terima kasih. Ia berlari melewati koridor membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang.
"Semoga masih sempat. " Gumamnya.
Zeny memasuki lift dan memencet angka 45.Setelah sampai keatas ia langsung bergegas keluar lift dan memasuki ruangan sekretaris perusahaan itu.
BRAKK
"Hei! Siapa kau?! " Tanya seorang wanita dengan nada tinggi.
Wanita itu terlihat cantik dan elegan. Matanya hitamnya sangat indah, bibirnya Yang tipi merah merona, hidung Yang mancung, kulit putih mulus dan tinggi serta rambut sebahu Yang bergelombang membuat ia tampak seperti malaikat. Zeny mengagumi wanita itu beberapa detik hingga wanita itu kembali berbicara.
"Hei, aku bertanya kepadamu! "
"Ah, maaf maaf. Aku kesini mau interview."
"Huh? Interview? " Tanya wanita itu sambil menyengir kuda.
"Apa kau tidak tahu jam berapa ini?! Interview sudah ditutup! Lagipula kami tidak bisa mempekerjakan wanita lamban sepertimu ini! Walau aku hanya pengganti beberapa hari tetapi aku tahu mana pekerja Yang cocok! " Ucap wanita itu sambil menatap Zeny dengan tatapan membunuh.
"Ah baiklah, terima kasih! " Zeny langsung pamit meninggalkan ruangan itu, ia menahan air matanya agar ia tidak dianggap wanita lemah. Zeny keluar dari lift dan langsung memanggil taksi.
__ADS_1
"Kemana non? " Tanya supir taksi.
"Ke cafe 05 pak! "
Setelah sampai di cafe Zeny langsung memberikan upah kepada sang supir lalu masuk ke cafe. Kemudian ia menelepon Dira untuk bertemu dengannya di cafe karena ia ingin mencari pekerjaan baru.
"Halo? Dir, Lo bisa ke Cafe 05 ga? Gue butuh. " Ucap Zeny sambil menahn tangisnya. Sejak dijalan menuju cafe ia berusaha tetapi tegar, ia menahan air matanya agar tidak membasahi wajah mulusnya itu.
"Lo kenapa Zen?! Bentar bentar gue kesana! " Ucap Dira dengan panik karena ia khawatir dengan Zeny.
Dira langsung beranjak keluar rumah dan menyetir mobilnya dengan kecepatan Yang lebih cepat. Setelah beberapa Lama menyetir akhirnya Dira sampai ke tempat Yang dituju. Selesai memarkirkan mobilnya Dira langsung bergegas masuk kedalam Cafe. Dira mengedarkan pandangannya ke setiap sudut Cafe untuk menemukan Zeny, tetapi Zeny tidak terlihat dimana pun.
Pukk..
Seseorang menepuk pundak Dira. Sontak Dira pun terkejut dan langsung beteriak.
"Aaahhhh. "
Kemudian karena terlalu dekat dengan orang itu, Dira mundur kebelakang tetapi ia tersandung kakinya sendiri dan terjatuh.
"Ups, tertangkap. " Ucap pria itu kepada Dira sambil memegang pinggang Dira.
Dira pun langsung mendorong pria tersebut.
"Siapa kau?! " Tanya Dira.
"Oh. Mau apa kau ha? " Tanya Dira sambil menatap pria itu dengan selidik.
"Kau temannya kan? Kau tahu dimana dia? " Tanya lelaki yang bernama Glen itu.
Ketika hendak menjawab, Dira teringat kepada perkataan Zeny waktu dirumah sakit. Zeny mengatakan bahwa ia dan Jihan harus merahasiakan keberadaam Zeny. Alasannya cukul simple yaitu karena Zeny tidak mau anggota keluarganya melapor kepada orang tuanya.
"A-aku... Aku tidak tau! " Ucap Dira dengan gugup.
Mendengar pernyataan Dira membuat Glen menyengir sambil mendekat kearah Dira. Dira pun berusaha mundur agar bisa menjauh dari Glen tetapi saat ini ia tidak bisa kemana mana. Ruang pergerakannya dikunci rapat oleh Glen. Kini Dira hanya bisa menerima nasib akan di introgasi oleh glen.
"Benarkah? Lalu mengapa kau begitu gugup? "Tanya Glen sambil memegang dagu Dira.
Dira tidak tahan melihat kelakuan Glen, ia melepaskan diri dengan cara menggigit tangan Glen. Glen Yang kesakitan itu pun lengah. Ia tidak mengetahui bahwa Dira baru saja keluar Cafe. Glen Yang menyadari Dira kabur langsung mengejar Dira.
"Aku harus bisa kabur. Lebih baik ke arah mobil. " Gumam Dira sembari melihat kebelakang untuk memastikan Glen masih mengejarnya atau tidak.
Dira tidak memperhatikan jalan didepannya sehingga ia menabrak seorang wanita. Dira terkejut, begitu pula dengan wanita itu. Minumannya tumpah. Lalu Dira mengangkat kepalanya dan dia bertemu dengan..
"Zeny?! "
__ADS_1
"Dira? "
Ucap mereka bersamaan. Mereka sama sama terkejut, tetapi Zeny Yang lebih terkejut karena ekpresi Dira sangat panik.
"Ada apa ra? "Tanya Zeny.
"Lu ikut gue dulu. " Ucap Dira sembari memegang pundak Zeny.
"Lu baik baik aja kan? "
"Ikut gue! " Ucap Dira sembari menarik tangan Zeny.
Dira terlalu kuat memegang tangan Zeny sehingga Zeny meringis kesakitan dibuatnya.
"Hisss! Lu kenapa sih?! " Tanya Zeny karena dia kesal dengan Dira.
Zeny tidak tahu apa Yang membuat sahabatnya itu begitu panik. Selama ini saat bersama Jihan dan Dira, hanya Diralah orang Yang paling tenang dan jarang sekali panik.
"Hmm kemana tu orang? " Gumam Glem sembari melirik kekiri dan kekanan. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Dira. Kemudian ia menangkap sosok Yang dicarinya sedari tadi. Ia langsung berlari kearah Dira.
Dira melihat Glen berlari kearah mereka langsung berusaha membujuk Zeny untuk berlari, tetapi anak itu tetapi tidak mau, Zeny sangat keras kepala sekali. Dan tiba-tiba...
"Hai. "
Suara itu membuat Zeny terkejut sedangkan Dira hanya bisa menghela napas.Zeny terdiam sejenak kemudian perlahan-lahan memutar badannya kebelakang.
"Kau! " Zeny sangat terkejut karena tidak percaya pada apa Yang ia lihat. Itu sepupunya Glen. Zeny berusaha kabur tetapi Glen menahan Zeny dengan menarik rambut Zeny.
"Ahhh! Kejam sekali kau, lepaskan rambutku! " Ucap Zeny sembari berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman Glen.
"Kenapa kau kabur?" Tanya Glen dengan wajah datar.
"Dasar bocah, bukan urusanmu! Lepaskan aku arghh! " Jawab Zeny sembari menendang Glen.
"Itu urusanku! Ikut aku! " Paksa Glen kemudian menarik Zeny kedalam Cafe. Zeny meronta-ronta untuk berusaha kabur tetapi tidak bisa. Glen memiliki tenaga Yang cukup kuat.
"Haish mereka ini.. " Gumam Dira sambil menghela napasnya kemudian mengikuti Glen Dan Zeny masuk kedalam cafe.
***
Hai semua...
Suka kan? Kalo suka ama novel aku kasih likenya dongg... Jangan pelit yah wkwkwkw.
Author bakalan lebih sering lagi kalo kalian kasih imun buat aku.
__ADS_1
Makasih.. ❤❤