Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 67


__ADS_3

Sari terkejut mendengar perkataan dari Anita.


"Kenapa kamu bilang seperti itu Nit, tidak baik," kata Sari menasihati.


"Aku bermimpi ketemu papah Sar dan papah mengajak aku ke suatu tempat," kata Nita.


Papah Nita, pak Arman memang sudah meninggal. Ia kembali ke Tuhan saat Nita mengandung 7 bulan.


Sari terdiam mendengar perkataan Nita tersebut.


"Intinya Sar, aku ingin kamu menyampaikan surat ini jika aku kenapa-kenapa," kata Nita.


"Baik Nit," kata Sari.


"Sar, tolong ambilkan bayiku, aku ingin melihat wajahnya. Aku baru sekali melihat wajah putriku itu setelah aku melahirkannya," kata Nita.


"Baiklah, aku akan meminta Arief untuk membawa bayi kecilmu itu kesini" kata Sari.


Sari beranjak dari kursi dan keluar untuk menemui Arief. Tidak lama, Sari bertemu dengan Arief, anehnya ia bersama seorang perempuan.


Dia ternyata adalah Asta, adik perempuan Arief. Dia adalah satu-satunya saudara kandung Arief.


"Ini siapa Ar," tanya Sari yang merasa asing dengan kehadiran Asta.


"Dia adalah Asta, adik perempuanku dan juga satu-satunya saudara kandung yang aku punya," kata Arief.


"Oh begitu, pantas saja aku merasa asing," kata Sari.

__ADS_1


"Oh iya, kenapa kamu meninggalkan Anita sendiri dikamar rawat sendiri?," tanya Arief.


"Nita tiba-tiba memintaku supaya menemui kamu. Dia ingin kamu membawa bayi kalian ke kamar rawatnya, ia sangat ingin melihat wajahnya," kata Sari.


"Baiklah, kalau begitu," kata Arief.


Asta dan Sari kembali ke kamar rawat Nita dan Arief mengambil bayinya diruang rawat bayi.


Asta dan Sari memasuki kamar rawat Nita, mereka mendekati Nita.


"Bagaimana keadaan mbak sekarang?," tanya Asta.


"Kamu ternyata As, kamu bisa lihat keadaan mbak yang sekarang semakin lemah," kata Nita.


"Iya mbak, aku dapat melihatnya," kata Asta.


"Astaga, kenapa kakak berbicara seperti itu?," kata Asta yang kaget mendengar perkataan kakak iparnya tersebut.


"Entah kenapa kakak merasa hidup kakak tidak akan lama lagi," kata Nita.


"Jangan berkata seperti itu kak, tidak baik," kata Asta.


"Entah kakak ipar kamu ini As, dari tadi bicara tentang ajal terus. Mbak juga sudah nasihati tadi untuk tidak berbicara seperti itu," kata Sari.


Nita tersenyum.


Pintu kamar rawat Nita tiba-tiba terbuka, ternyata Arman yang sedang menggendong bayinya yang masuk.

__ADS_1


Nita kembali tersenyum.


"Kamu harus kuat ya sayang, lihat ada anak kita yang harus kita perjuangkan," kata Arief.


"Iya mas," kata Nita.


"Kamu mau tidak menggendong bayi kita?" kata Arief.


"Iya mas, aku mau menggendong bayi kita," kata Nita.


Nita menggendong bayinya cukup lama. Ia beberapa kali mencium bayi kecilnya itu dengan senyuman dan air mata.


"Sayang, tadi perawatnya berpesan untuk tidak terlalu lama membawa Lia," kata Arief.


"Baiklah mas, aku sudah merasa puas sekarang," kata Nita.


Arief membawa bayinya tersebut kembali ke ruang perawatan bayi. Nita yang melihat bayinya perlahan meninggalkannya pun mulai bersedih hati.


"Kamu tidak perlu berfikir terlalu berlebihan. Fokus saja untuk kesembuhan kamu. Perbanyak istirahat dan tidur yang cukup," kata Sari.


"Iya Sar," kata Nita.


Setelah mengembalikan Lia ke ruang perawatan bayi, Arief kembali ke kamar rawat Nita.


"Kalian berdua pasti belum makan siang, kalian sebaiknya makan siang dulu. Aku kan menjaga Nita," kata Arief.


"Baik kak, aku dan mbak Sari akan ke kantin rumah sakit untuk makan siang," kata Asta.

__ADS_1


__ADS_2