
"Baik mas," kata Tiara.
"Kalau begitu kamu tunggu sebentar ya!," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara.
Sandi meninggalkan Tiara sendiri dikamar rawat. Ia pergi untuk memanggil dokter. Saat ia keluar kamar, ia bertemu lagi dengan perawat yang mengantarkan dirinya ke kamar rawat Tiara tadi pagi.
"Mbak," kata Sandi memanggil.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?," tanya perawat.
"Begini mbak, istri saya sudah sadar. Jadi dokter Risma yang menangani istri saya berpesan jika istri saya sudah siuman agar memanggil beliau," kata Sandi.
"Oh begitu ya mas, baik mas," kata perawat.
Sandi kembali masuk ke kamar rawat. Tiara heran kenapa Sandi sangat cepat kembali?.
"Mas, kenapa mas cepat sekali?," tanya Tiara.
"Aku tadi bertemu perawat yang menangani kamu. Dia akan segera memanggilkan dokter Risma. Kita tunggu saja sebentar lagi," kata Sandi.
__ADS_1
"Baik mas," kata Tiara.
Langkah seseorang terdengar diluar pintu kamar rawat Tiara. Ia membuka pintu. Ternyata perawat tadi yang ditemui Sandi. Ia terlihat membawa sesuatu dikedua tangannya.
Itu adalah sarapan pagi milik Tiara. Dokter Risma memesan kepada perawat agar memberikan sarapan tersebut kepada Tiara karena perut Tiara memang kosong sejak dirawat tadi pagi.
"Ini mbak, sarapan paginya. Dokter Risma mengatakan kalau perut mbak kosong sejak tadi pagi dirawat. Jadi saya bawakan sarapan ini supaya stamina mbak semakin pulih dan membaik," kata perawat.
"Baik mbak, terima kasih banyak," kata Sandi.
"Iya mas, sama-sama. Sebentar lagi dokter Risma akan kesini untuk memeriksa keadaan mbak setelah dokter memeriksa pasien yang lain," kata perawat.
"Baik mbak, kami akan menunggu beliau," kata Sandi.
Perawat meninggalkan Sandi dan Tiara untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
Sandi mengambil nasi dan lauk pauk yang disediakan oleh klinik. Ia membantu Sandi untuk duduk agar ia dapat mengkonsumsi makanan yang akan diberikan oleh Sandi dengan baik
"Kamu harus makan. Makannya harus banyak ya supaya cepat sehat," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara.
__ADS_1
Sandi mengambil suapan pertama untuk Tiara. Dia menyuapi Tiara dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa tidak ada rasanya mas nasi ini dan lauk pauknya?," kata Tiara mengeluh.
"Iya donk. Makanan disinikan sama seperti makanan dirumah sakit. Tidak berasa dan hambar. Tapi makanan ini sangat sehat dan direkomendasikan untuk orang sakit seperti kamu sekarang," kata Sandi.
"Tapi mas, aku sama sekali tidak memiliki selera untuk makan makanan ini," kata Tiara.
"Pokoknya harus dipaksakan," kata Sandi.
Sandi terus memaksa Tiara supaya makan. Tiara berulang kali menolak tapi Sandi tidak kehabisan akal. Dia terus membujuk Tiara dan akhirnya Sandi berhasil. Makanannya pun habis dimakan.
Beberapa saat setelahnya, Dokter Risma datang untuk memeriksa keadaan Tiara. Bu Risma senang melihat pasiennya itu menghabiskan sarapan pagi yang sudah disiapkan.
"Begitu donk, makanannya dihabiskan," kata dokter Risma.
"Iya dok, sebenarnya saya tidak selera tapi mas Sandi terus memaksa saya untuk makan sarapannya jadi saya menurut saja," kata Tiara.
"Oh begitu rupanya, bagus mas, sudah membuat istrinya memakan semua sarapannya," kata dokter Risma.
"Iya dok, saya sangat sabar untuk membujuk istri saya ini," kata Sandi menyindir Tiara.
__ADS_1
Tiara pun merasa tersindir dan menatap sinis sejenak kepada Sandi.
"Hehehe, bisa saja masnya. Kalau begitu saya akan memeriksa mbak Tiara sekarang," kata dokter Risma.