
"Ia mas, tidak apa-apa. Sepertinya menggunakan kendaraan tradisional juga lebih menyenangkan," kata Tiara.
"Tentu," kata Sandi.
Mereka masih melewati jalanan yang mulai ramai dengan langkah demi langkah. Ditengah-tengah langkah kakinya, Sandi melihat penjual nasi goreng yang mulai ramai dikunjungi oleh pelanggan.
"Tir, kita sarapan paginya disana saja yuk!," kata Sandi menunjuk ke arah penjual nasi goreng.
"Boleh mas," kata Tiara.
Mereka pun memesan dua porsi untuk sarapan pagi.
"Tir, aku mau tanya sesuatu nih," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara.
"Kamu setuju tidak kalau nanti kita tinggal berdua dirumah sendiri. Artinya, kita pindah dari rumah mamah dan papah," kata Sandi.
"Kenapa begitu mas? apa alasan kita pindah dari rumah papah dan mamah?," tanya Tiara merasa heran.
"Kamu tidak perlu kaget begitu. Aku hanya ingin kita belajar membangun rumah tangga sendiri. Lagi pula, bukankah sebaiknya memang seharusnya seperti itu, ketika seorang anak menikah ia harus meninggalkan orang tuanya dan ketika orang tuanya menua ia kembali lagi ke rumah orang tuanya tersebut," kata Sandi.
__ADS_1
"Apa yang mas katakan memang masuk akal sih tapi kalau dipikir-pikir rumah papah dan mamah yang sebesar itu akan sangat terasa sepi kalau hanya ditinggali mamah dan papah," kata Tiara.
"Ia sih, rumah sebesar itu memang akan terasa sangat sepi kalau tanpa kita nantinya," kata Sandi.
"Sebaiknya, mas pikirkan dulu rencana mas ini matang-matang, kalau mas sudah matang ingin melakukanya. Mas harus bicara dulu dengan papah dan mamah. Bagaimana respon mereka?," kata Tiara.
"Baiklah Tir, aku akan memikirkannya secara matang," kata Sandi.
"Ia mas," kata Tiara.
Sebenarnya aku tidak ingin pisah rumah dari papah dan mamah karena mereka akan kesepian kalau tidak ada anak dan menantunya bersama mereka. Tapi ini semua atas saran Lisa kemarin yang mengatakan agar aku sebaiknya pisah rumah dari papah dan mamah supaya kami memiliki waktu yang lebih banyak untuk bersama. Kenapa aku semakin mengikuti keinginan Lisa ya? tanpa memikirkan perasaan orang tuaku dan juga Tiara yang saat ini sudah menjadi istriku. Batin Sandi bertanya-tanya.
"Mas kenapa bingung begitu?," tanya Tiara.
"Oh iya mas," kata Tiara.
Sandi tersenyum
Pesanan nasi goreng dua porsi pun datang. Mereka berdua nampak lahap memakannya karena memang masakan tersebut terasa sangat nikmat dilidah.
Bu Asta pagi ini menghubungi bu Sari untuk membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Halo mbak," kata bu Asta.
"Halo As," kata bu Sari.
"Maaf ya mbak baru hubungi mbak sekarang," kata bu Asta.
"Iya tidak apa-apa," kata bu Sari.
"Malam ini, aku dan mas Andre akan berkunjung ke rumah mbak sekaligus makan malam disana," kata bu Asta.
"Akhirnya, kamu bisa kesini juga. Mbak senang sekali mendengarnya," kata bu Sari.
"Iya mbak, mbak harus memasak masakan yang lezat malam ini," kata bu Asta.
''Iya, kamu tenang saja," kata bu Sari.
"Ok mbak, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan ke mbak," kata bu Asta.
"Baiklah As," kata bu Sari.
"Syukurlah, Asta bisa datang malam ini. Mudah-mudahan ini waktu yang terbaik untuk membahas mengenai perjodohan Lia dan Farhan," gumam bu Sari penuh harap.
__ADS_1
Sesudah sarapan nasi goreng spesial yang mereka pesan tadi. Sandi dan Tiara melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang mereka ingin datangi.