
"Tiara pasti sedang mandi," gumam Sandi.
Dia kemudian mengetuk pintu kamar. Tiara ternyata sedang diruang ganti. Mendengar suara ketukan pintu ia pun segera keluar.
Tiara membukakan pintu. Dia kembali lagi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya, ia keluar.
"Mas, tumben sore sekali pulangnya? tidak seperti biasanya," tanya Tiara.
"Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," kata Sandi.
"Oh begitu ya mas," kata Tiara.
"Oh iya, aku ada sesuatu untuk kamu," kata Sandi.
"Apa itu mas?," tanya Tiara.
Sandi mengeluarkan bunga mawar yang ia beli dan memberikannya kepada Tiara.
"Wah, bunga," Tiara nampak gembira menerima bunga pemberian Sandi tersebut.
"Bagaimana? apa kamu suka dengan bunga yang aku berikan ini?," tanya Sandi.
"Suka sekali mas, mas kok bisa tahu sih kalau Tiara suka sekali dengan bunga mawar?,'' tanya Tiara.
"Aku tahu itu dari sahabat dekat kamu?," kata Sandi.
"Sahabat dekatku? siapa mas?," tanya Tiara.
__ADS_1
"Coba kamu tebak,'' kata Sandi.
"Siapa ya? apa mungkin Fira?," kata Tiara.
"Fira? siapa itu Fira? aku tidak mengenalnya," kata Sandi.
"Kalau bukan Fira, jadi siapa donk? apa mungkin Farhan ya mas,?," Tiara mencoba menebak.
"Kamu benar, kok bisa tahu sih," kata Sandi.
"Aku hanya menebak saja mas, mas serius bertemu dengannya?," Tiara bertanya seakan-akan tidak percaya.
"Kamu kenapa bertanya dengan ekspresi seperti itu? ekspresi terkejut?," kata Sandi.
"Hehehe, tidak apa-apa mas," kata Tiara.
"Aku tadi bertemu dengan Farhan ditoko bunga, dia sedang memilih bunga juga, kalau tidak salah sih ia ingin membelikan ibunya bunga karena ibunya juga sangat menyukai bunga," kata Sandi.
"Dia sangat ramah, dia yang menyapaku dahulu. Mungkin karena aku suami kamu dan juga ibu kami bersahabat dengan baik," kata Sandi.
"Begitu ya mas," kata Tiara.
"Kamu sepertinya seperti heran setelah aku mengatakan kalau ia menyapaku dengan baik," kata Sandi.
"Bukan mas, aku senang kalau kalian akrab soalnya setahu aku Farhan susah akrab dengan orang baru," kata Tiara mencari alasan.
"Begitu rupanya, tapi sepertinya pertemanan kalian betul-betul sangat dekat ya sampai-sampai ia tahu apa yang kamu suka?," kata Sandi.
"Ya begitulah mas, kami sudah menjalin pertemanan lebih dari 2 tahun," kata Tiara.
__ADS_1
"Iya deh, aku yakin selama dikampus dia akan menjagamu," kata Sandi.
"Iya mas," kata Tiara tersenyum.
"Kenapa dari tadi aku mencium bau yang sangat wangi?," kata Sandi.
"Mungkin karena wewangian dari lulur yang aku gunakan mas," kata Tiara.
"Kamu luluran?," tanya Sandi.
"Iya mas, aku luluran dengan lulur yang mas beri sewaktu kita dibali," kata Tiara.
"Aku tidak menyangka baunya akan sewangi ini," kata Sandi.
"Iya mas, hehehe," kata Tiara.
"Jangan-jangan kamu memakai lulur ini untuk memancingku ya," kata Sandi dengan senyuman nakal.
"Aku, aku..," Tiara gelagapan dalam menjawab perkataan Sandi.
Sandi tiba-tiba menggendong Tiara ke atas ranjang. Dia mengangkat tubuh Tiara tersebut dengan pelan.
"Mas mau apa?," tanya Tiara.
"Mau apa lagi kalau gak melakukan hal yang menyenangkan bersama kamu sayang,,"Sandi.
"Tapi aku sudah mandi mas, aku tidak mau mandi lagi," kata Tiara.
"Aku akan memandikan kamu sayang kalau itu perlu," kata Sandi.
__ADS_1
"Tapi mas..," Tiara terhenti berkata-kata karena Sand sudah mendekapnya dengan erat sehingga Tiara pun pasrah dengan perlakuan Sandi.