Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 43


__ADS_3

Tapi Doni masih menguap. Nampaknya dia masih belum puas dengan tidur siangnya hari ini. Dia tertidur dipangkuan Sandi. Sandi pun memangku adik iparnya itu dengan hati-hati.


Pak Arifin tersenyum melihat Doni tertidur dipangkuan Sandi.


"Sepertinya Doni sudah sangat akrab denganmu San," kata pak Arifin.


"Iya begitulah pak, saya senang dengan pendekatan Doni yang begitu cepat dengan saya," kata Sandi.


"Iya nak, bapak juga ikut senang melihatnya," kata pak Arifin.


Sandi pun membalas perkataan pak Arifin dengan senyuman.


Tiara keluar dari dapur bersama ibu Lilis. Tiara meminta ibunya duduk dikursi. Ia memasuki kamar tidurnya mengambil sesuatu. Ia mengambil barang belanjaan yang ia dan Sandi belikan untuk bapak dan ibunya.


Tiara membawanya keluar dan meletakkan barang-barang tersebut diatas meja. Bu Lilis merasa heran dengan enam paper bag yang diletakkan diatas meja oleh Tiara.


Bu Lilis bertanya-tanya apa sebenarnya isi dari paper bag itu?.


"Apa isi paper bag ini nak?," tanya bu Lilis.

__ADS_1


"Ini pakaian bu, yang kami belikan untuk ibu dan bapak saat jalan-jalan tadi siang. Lebih tepatnya mas Sandi yang belikan," kata Tiara.


"Ya Allah, terima kasih banyak ya nak. Terutama untuk nak Sandi yang sudah membelikan pakaian-pakaian ini untuk kami. Ibu merasa sangat senang untuk perhatian kalian berdua kepada kami," kata bu Lilis.


"Iya bu," kata Tiara mengelus tangan ibunya.


"Terima kasih ya San atas pemberianmu ini. Bukan dari nilai barangnya tapi perhatian dan niat besar kamu itu yang membuat kami merasa sangat senang," kata pak Arifin.


"Iya pak, sama-sama. Sandi juga berharap bisa terus berusaha berbuat baik kepada bapak dan ibu sebagai menantu," kata Sandi.


"Niat kamu itu sungguh luar biasa nak," kata bu Sari.


Bu Lilis membalas Sandi dengan anggukan yang disertai dengan senyuman.


"Sudah sore, kenapa Doni masih tertidur pulas seperti itu dipangkuan nak Sandi?," kata bu Lilis yang baru menyadari jika Doni tertidur dipangkuan Sandi.


"Kami sampai sudah sore tadi bu sekitar pukul 15:00. Jadi, Doni langsung tertidur. Karena waktu tidurnya masih begitu singkat, dia masih mengantuk," kata Tiara.


"Sekarang sudah pukul 17:30 sore Tir, adik kamu sudah punya waktu tidur yang sangat cukup. Sekarang banguni adikmu Tir! supaya dia mandi dan makan malam setelah itu belajar. Waktu ujian sebentar lagi, nilai ujian tengah semesternya kemarin menurun," kata bu Lilis dengan disertai omelan.

__ADS_1


Pak Arifin hanya diam memperhatikan istrinya yang mulai kambuh penyakit mengomelnya.


"Baik bu, Tiara akan membangunkan Doni," kata Tiara.


"Don, Don, bangun dek. Ayo bangun! sudah sore. Ayo mandi!," kata Tiara membangunkan adiknya sambil memukul-mukul pelan pipinya.


Doni pun menggeliat imut. Tiara tertawa kecil. Tiara mengulangi lagi caranya membangunkan adiknya. Lama-kelamaan Doni pun terbangun dari tidurnya. Dia duduk sebentar.


Doni pun melangkahkan kakinya yang terasa masih berat ke kamar mandi.


"Ya sudah, karena kita punya dua kamar mandi ibu akan mandi duluan ya. Nanti yang lain pada nyusul supaya kita nanti makan malam bersama," kata bu Lilis.


Bu Lilis meninggalkan mereka. Ia juga hendak bebersih diri.


"Bapak mandi terlebih dahulu saja," kata Sandi setelah melihat Doni keluar dari kamar mandi.


"Baiklah nak, bapak akan mandi terlebih dahulu," kata pak Arifin sejalan dengan Sandi.


Melihat ayah mertuanya beranjak dari kursi Sandi pun ikut beranjak.

__ADS_1


__ADS_2