Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 86


__ADS_3

Sandi membukakan pintu untuk pelayan hotel.


"Ini mas, pesanannya," kata pelayan hotel.


"Oh iya mbak, terima kasih," kata Sandi.


Pelayan hotel meninggalkan kamar setelah mengantarkan pesanan Sandi sedangkan Sandi kembali masuk ke kamar.


Didalam kamar Mandi Tiara nampak merengut karena ternyata kimono handuk yang ia pakai terlalu pas ukurannya membuat lekukan tubuhnya nampak dengan jelas.


"Haduh, kenapa kekecilan begini kimono handuknya? aku tidak mungkin meminta mengambilkan kimono handuk milikku yang ada didalam koper, aku takut mas Sandi akan marah," gumam Tiara.


Tiara tidak mau pusing dibuat kimono handuk tersebut, dia akhirnya keluar. Sandi melihat ke arah Tiara. Dia menjadi salah tingkah setelah melihat lekukan tubuh istrinya dengan jelas tapi dia tidak menunjukkan sikapnya itu. Ia bersikap biasa saja.


Tiara kemudian mengambil pakaiannya yang ada didalam koper dan dengan terburu-buru memakainya.


Tiara sekarang duduk dikursi berhadap-hadapan dengan Sandi.


"Tir, tadi aku nelpon mamah, kata mamah ibu dari tadi menghubungi ponsel kamu tapi tidak kamu angkat. Sekarang lebih baik kamu segera hubungi ibu. Sepertinya ibu ingin menanyakan apakah kita sudah sampai atau belum?," kata Sandi.


Tiara membuka ponselnya. Bukan hanya panggilan ibunya yang tidak dia angkat akan tetapi panggilan dari ibu mertuanya pun tidak diangkat juga.


"Mamah juga menghubungi aku mas," kata Tiara.


"Kamu tidak perlu menghubungi mamah, soalnya aku sudah bicara sama mamah tadi. Mamah cuma mau tanya apakah kita sudah sampai apa belum?," kata Sandi.

__ADS_1


"Baiklah mas, aku akan menghubungi ibu," kata Tiara.


Tiara pun menghubungi ibunya.


"Halo bu," kata Tiara.


"Halo Tir, kenapa dari tadi ibu hubungi kamu tidak kamu angkat?," tanya bu Lilis.


"Maaf bu, aku ketiduran, soalnya Tiara letih sekali," kata Tiara.


"Begitu? ya sudah tidak apa-apa nak. Semuanya lancar kan? tidak ada halangan suatu apapun tadi saat diperjalanan?," tanya bu Lilis.


"Alhamdulillah mah, tidak ada halangan suatu apapun tadi," kata Tiara.


"Syukurlah," kata bu Lilis.


"Sandi ada tidak disitu? ibu mau berbicara dengan dia," kata bu Lilis.


"Ada kok bu, mas Sandi ada didekat Tiara," kata Tiara.


Tiara meminta Sandi untuk berbicara dengan ibunya.


"Halo bu," kata bu Lilis.


"Halo bu," kata Sandi.

__ADS_1


"Bagaimana tadi perjalanannya?,'' tanya bu Lilis.


"Alhamdulillah lancar kok bu, ini sekarang kami berdua sudah ada dihotel," kata Sandi.


"Syukurlah nak, ibu cuma mau bilang tolong kamu jaga Tiara dengan baik ya!," kata bu Lilis.


"Itu pasti bu. Tanpa ibu minta pun Sandi pasti akan menjaga Tiara karena dia sekarang adalah istri Sandi," kata Sandi.


Tiara yang mendengar dengan jelas ucapan Sandi tersebut pun tersenyum dengan manis.


"Terima kasih ya nak, ibu sangat bahagia mendengar ucapan nak Sandi," kata bu Lilis.


"Iya bu," kata Sandi.


''Kalau begitu selamat bersenang-senang disana ya nak," kata bu Lilis.


"Hehehe, ibu bisa saja," kata Sandi.


Setelah panggilan tersebut, Sandi berbicara dengan Tiara.


"Tir, kamu kan sekarang lagi kuliah, apa kamu tidak apa-apa kalau hamil nantinya?," tanya Sandi.


Tiara terdiam sejenak.


"Tidak apa-apa kok mas, lagi pula aku kan hamil dalam pernikahan yang sah jadi tidak akan jadi tekanan bagiku," kata Tiara.

__ADS_1


"Benarkah? baguslah kalau begitu. Aku terus memikirkan permintaan mamah soal keinginannya memiliki cucu dari kita berdua," kata Sandi.


__ADS_2