
"Maksud kamu, kamu mau nembak Tiara jadi pacar kamu?," tanya Fira.
"Iya, kamu benar. Pada saat itu, aku berfikir sudah saatnya aku menyatakan perasaan sukaku padanya namun hasilnya nihil," kata Farhan.
"Iya Han, aku tau betul dengan perasaan kamu sekarang," kata Fira.
"Iya Fir, terima kasih," kata Farhan.
"Iya Han, sama-sama. Lalu, bagaimana sekarang perasaan kamu? apa sudah baikan?," tanya Fira.
"Sekarang sih sudah membaik, aku akan coba untuk menerima kenyataan yang ada. Mungkin Tiara mungkin bukan jodohku," kata Farhan.
"Iya Han, syukurlah kalau akhirnya kamu bisa menerima kenyataan ini secara perlahan," kata Fira.
"Iya, lagi pula sebenarnya mamah aku juga sedang menjodohkan aku dengan seorang perempuan," kata Farhan.
"Siapa Han?," tanya Fira yang merasa sedih mendengarnya.
"Aku juga belum mengenal sosok gadis yang akan dijodohkan mamahku itu. Kata mamahku, dia adalah anak dari mendiang sahabatnya," kata Farhan.
"Oh begitu ya? lalu apa kamu menerima perjodohan ini?," tanya Fira.
"Aku sih menerima saja tapi kan belum sepenuhnya. Lagi pula orang tuaku tidak memaksakan kehendaknya, semua tergantung padaku dan gadis itu. Jika kami menyetujui perjodohan ini, artinya kami akan terikat didalam pernikahan yang sah," kata Farhan.
__ADS_1
"Begitu rupanya? aku berharap yang terbaik saja Han," kata Fira.
Aku kira setelah Tiara menikah aku akan lebih mudah mendapatkan hati kamu. Ternyata sekarang ada masalah baru lagi yang menghalangi keinginanku untuk bisa memiliki kamu Han. Batin Fira merasa sedih setelah mendengar penjelasan Farhan tentang perjodohan itu.
"Terima kasih Fir," kata Farhan.
Tidak lama dosen pun datang untuk mengajar. Fira dan Farhan mengakhiri percakapan mereka.
Sandi dan Tiara masih terlihat diam satu sama lain karena kejadian tadi malam. Sepertinya mereka masih malu dan segan satu sama lain.
Namun Tiara sepertinya tidak bisa menahan rasa laparnya, mau tidak mau dia harus berbicara duluan.
"Mas, aku lapar nih. Sarapan kita bagaimana? mau mau minta pelayan hotel mengantarkannya kesini atau mas mau ambil sendiri kesana?," tanya Tiara.
"Ya sudah mas pesan saja ke pelayannya untuk mengantarkannya ke kamar kita saja mas," kata Tiara.
"Baiklah, aku akan memesannya," kata Sandi.
Bu Sari terlihat santai pagi ini ditaman rumah yang berdekatan dengan kolam renang keluarga. Dia menyempatkan diri untuk menghubungi bu Asta, tantenya Aprilia.
"Halo mbak," kata bu Asta.
"Halo As, kamu bagaimana kabarnya sekarang? tiba-tiba mbak rindu, hehehe," kata bu Sari.
__ADS_1
"Aku baik mbak, mbak sendiri bagaimana kabarnya sekarang?," tanya bu Asta.
"Mbak alhamdulilah, baik-baik saja," kata bu Sari.
"Syukurlah mbak," kata bu Asta.
"Kamu sekarang lagi dimana ini As?," tanya bu Sari.
"Aku lagi dikantor mbak, memangnya kenapa?," tanya Asta.
"Gitu ya? kamu kapan berangkat ke Amerika untuk nengokin Lia yang mau wisuda?," tanya bu Sari.
"Mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi lah mbak, memangnya kenapa mbak?," tanya bu Asta.
"Tidak apa-apa, sebenarnya ada yang mau mbak ingin bicarakan dengan kamu As," kata bu Sari.
"Apa mbak?," tanya bu Asta.
"Bagaimana kalau kamu dan Andre datang buat makan malam nanti dirumah mbak?," kata bu Asta.
"Memang harus tatap muka ya mbak untuk membicarakannya?," tanya bu Asta.
"Iya As, ini hal yang sangat penting. Mbak harap sih kamu bisa datang nanti malam," kata bu Sari.
__ADS_1