Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 44


__ADS_3

Tiara pun membereskan barang-barang belanjaan yang dibelinya tadi dari atas meja dan juga gelas-gelas kopi yang telah diminum.


Makan malam pun disajikan, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19:00 malam. Semuanya sudah duduk dikursi masing-masing.


Mereka memilih lauk pauk sederhana kesukaan mereka. Mereka nampak lahap menyantap hidangan makanan tersebut.


Setelah makan malam, semuanya pun kembali ke kamar masing-masing kecuali pak Arifin dan bu Lilis yang terbiasa menonton acara televisi dimalam hari sebelum beranjak tidur.


"Mas, mulai bulan depan aku akan melaksanakan PPL perkuliahan," kata Tiara memberitahu.


"Benarkah? baguslah kalau begitu," kata Sandi.


"Lalu bagaimana dengan bulan madu kita mas," kata Tiara dengan nada polos.


"Hm, kita akan berbulan madu sebelum kamu memulai tugas PPL perkuliahan dari kampus tentunya," kata Sandi.


"Apa ada waktu nanti mas?," tanya Tiara.


"Kita akan percepat waktu berangkatnya Tir. Kamu usahakan saja jadwal kamu. Aku tidak memiliki banyak pekerjaan untuk dua minggu kedepan ini," kata Sandi.


"Baiklah mas, besok aku akan meminta izin kepada dosen mas," kata Tiara.

__ADS_1


"Baiklah, mudah-mudahan kamu mendapatkan izin. Soalnya kamu sudah tidak memiliki waktu senggang lagi," kata Sandi.


"Iya mas, mudah-mudahan," kata Tiara.


"Aku sudah mulai mengantuk Tir, aku tidur duluan ya," kata Sandi.


"Iya mas," kata Tiara.


Sandi pun meletakkan kepalanya diatas bantal sedangkan Tiara masih harus menyelesaikan sedikit tugas perkuliahannya yang belum sempat ia selesaikan kemarin.


Ia membuka laptopnya dan mulai mengerjakan tugas. Setiap tombol laptop berbunyi, hal itu menandakan Tiara perlahan-lahan mengerjakan tugas makalah perkuliahan.


Sudah empat puluh lima menit Tiara menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas makalah itu, kini matanya mulai mengantuk meminta tidur.


Ia pun menutup laptopnya dengan menekan tombol close down. Tapi tiba-tiba ia menghentikan gerakan jarinya yang hendak menekan tombol tersebut.


Dia fokus melihat foto wallpaper pada layar laptop. Foto wallpaper itu adalah foto ia bersama Farhan ketika mereka berlibur ke puncak saat awal-awal masuk universitas.


Tiara seketika tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan Farhan. Ia menitikkan air mata tanpa ia sadari.


Tiara sangat senang memiliki seorang Farhan disisinya sebagai sahabat. Dia tidak akan pernah lupa dengan semua kebaikan dan bantuan Farhan kepadanya.

__ADS_1


Tiara merasa sangat takut dirinya akan kehilangan Farhan jikalau ia tahu bahwa Tiara sudah menikah dengan pria lain. Dia pun sudah mengetahui dari Fira bahwa Farhan menyukai dirinya.


Ia mengetahui hal tersebut sekitar tiga bulan lalu saat dirinya sedang berjalan-jalan ditaman kota bersama Fira.


"Tir, kamu tahu sesuatu tidak?," tanya Fira.


"Tahu apa Fir?," tanya Tiara balik.


"Ya kalau sebenarnya ada laki-laki yang menyukai kamu," kata Tiara.


"Haduh, kamu tidak usah bercanda begitu Fir," kata Tiara.


"Bercanda? siapa yang bercanda? aku serius mengatakannya," kata Fira.


"Hm, ya sudah kalau kamu serius. Memangnya siapa laki-laki yang menyukai aku?," tanya Tiara.


"Dia adalah orang yang kamu kenal dan dia juga kuliah disini," kata Fira.


"Laki-laki yang ku kenal? dan dia kuliah diuniversitas ini juga?," kata Tiara mencoba menerka-nerka.


"Iya Tir," kata Fira.

__ADS_1


"Ada banyak laki-laki yang ku kenal diuniversitas kita ini," kata Tiara.


"Baiklah, aku tidak akan membuatmu penasaran dan menerka-nerka," kata Fira.


__ADS_2