Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 94


__ADS_3

"Mas mau minum apa?," tanya Tiara.


"Aku ingin es teh dan air mineral," kata Sandi.


"Baik mas, Tiara akan pesan minumnya," kata Tiara.


Tidak lama minuman tersebut datang. Mereka berdua segera meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaga.


Mereka sudah sangat menikmati acara festival hari ini. Jam tangan Sandi sudah menunjukkan pukul 22:30, Sandi mengajak Tiara untuk kembali ke hotel.


"Ayo kita pulang! sudah malam," kata Sandi.


"Ayo mas, aku juga sudah mulai lelah," kata Tiara.


Mereka berjalan menghampiri mobil. Didalam mobil Sandi mendapat pesan dari Lisa.


"Nomor kamar aku 129, hotel xxx," tulis Lisa dalam pesan singkatnya itu.


Sesampainya di hotel, mereka menaiki lift menuju kamar tidur mereka. Tiba-tiba Sandi teringat sesuatu sebelum tidur.

__ADS_1


"Tir, obat yang diberikan mamah mana?," tanya Sandi.


"Tunggu mas, aku ganti baju dulu," kata Tiara yang sedang mengganti pakaiannya tadi dengan pakaian tidur.


Tiara keluar dari ruang ganti dan mengambil obat yang diminta Sandi tadi. Bukan hanya untuk Sandi saja, ia juga meminum obat untuk dirinya.


Sama seperti malam sebelumnya, mereka kembali melakukan "Hal itu". Setelah lelah melakukannya, mereka pun tertidur.


Jam dinding menunjukkan pukul 07.00, matahari sudah bersinar dengan cerah. Tapi Tiara belum terbangun dari tidurnya. Mungkin karena kelelahan saat mengunjungi festival tadi malam dan juga kelelahan bermain dengan Sandi.


Tidak lama kemudian, ia pun terbangun. Tapi Tiara terkejut karena Sandi tidak berada disisinya. Tiara berfikir mungkin saja Sandi sedang berada dikamar mandi.


Tiara pun penasaran, ia memasuki kamar mandi untuk memastikan apakah Sandi berada didalam kamar mandi atau tidak?.


Tiara melihat tidak ada siapapun didalam kamar mandi tersebut. Dia pun melanjutkan pencariannya ke balkon hotel dan hasilnya pun sama-sama nihil, tidak ada keberadaan Sandi disana. Dia kembali masuk ke dalam kamar.


"Dikamar mandi tidak ada, dibalkon juga tidak ada, jadi kemana mas Sandi perginya?," gumam Tiara bertanya-tanya.


Tiara kemudian melihat ada secarik kertas diatas meja. Tiara pun membaca tulisan yang berada diatas kertas tersebut.

__ADS_1


"Maaf ya Tir, aku sedang ada urusan penting diluar. Aku harus bertemu dengan kolega dan rekan kerja diluar. Sebenarnya aku mau mengajak kamu untuk ikut tapi aku tidak tega membangunkan kamu soalnya kamu tidurnya pulas banget," tulis Sandi dalam kertas tersebut.


"Ternyata mas Sandi lagi keluar, ya sudahlah tidak apa-apa," gumam Tiara.


Tiara merasa tubuhnya lengket. Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dilain sisi, Sandi sudah berada didepan pintu kamar hotel Lisa. Dia berbohong kepada Tiara dalam surat tadi. Dia tidak bertemu dengan kolega maupun rekan kerja. Ia ingin menemui Lisa.


Sandi menekan tombol bel yang berada didepan pintu kamar tapi nampaknya belum ada jawaban. Ia kemudian mengecek ponselnya kembali untuk memastikan apa diaa mendatangi kamar yang benar?.


"Bener kok, nomor kamar ini 129," gumam Sandi.


Dia mencoba memencet tombol bel pintu kamar Lisa untuk sekali lagi.


Tidak lama, seorang perempuan membukakan pintu untuk Sandi. Dia adalah Lisa tentunya. Tapi ia masih terlihat memakai baju handuk.


"Ternyata kamu sayang," kata Lisa.


"Iya donk, siapa lagi?," kata Sandi.

__ADS_1


__ADS_2