
"Iya deh iya, aku minta maaf," kata Fira.
"Hm," kata Tiara.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi," kata Fira.
"Iya deh. Tadi waktu aku berangkat ke kampus ternyata Farhan sudah menunggu didepan pintu gerbang. Aku tadi pagi diantar suamiku ke kampusnya. Akhirnya, Farhan bertemu dengan suamiku," kata Tiara memberikan penjelasan.
"Haduh, secepat ini ya Farhan tahu tentang kamu yang telah menikah," kata Fira.
"Aku juga tidak menyangka ia bisa tahu secepat ini. Sebenarnya aku juga tidak mau menyembunyikan tentang pernikahanku lama-lama dari Farhan," kata Tiara.
"Benar juga sih yang kamu bilang. Sedalam-dalamnya bangkai dikubur baunya tetap tercium," kata Fira.
"Iya. Sekarang aku harus bagaimana menghadapi Farhan? seperti yang kamu bilang tenpo waktu lalu kalau dia sebenarnya sudah lama menyukaiku," kata Tiara.
"Itu sih aku juga tidak bisa memberikan solusi. Yang jelas, aku yakin Farhan saat ini menyimpan sakit hati yang mendalam," kata Fira.
"Itu adalah hal yang paling aku takutkan, sakit hati Farhan tersebut akan membuat persahabatan kami selama ini hancur," kata Tiara menundukkan wajahnya ke meja.
Fira mendekati Tiara dan memegang bahunya.
"Aku yakin Farhan akan menerima kebenaran ini lambat laun. Kamu hanya perlu menunggu saja bagaimana tindakan Farhan nantinya," kata Tiara.
"Hm, kamu ada benarnya juga, tapi aku rasa aku juga perlu berusaha menjelaskan perasaanku padanya bahwa aku tidak pernah melihatnya sebagai perempuan. Aku lebih menganggap dia sebagai saudara kandungku," kata Fira.
__ADS_1
"Jangan sekarang! itu hanya akan memperdalam rasa kecewa Farhan kepadamu nanti," kata Fira
"Iya juga sih, ah aku sangat bungung," kata Tiara.
"Sudah! yang terbaik saat ini kita hanya perlu melihat bagaimana sikap Farhan kedepannya," kata Fira.
"Aku rasa memang itu yang terbaik ya," kata Tiara.
"Iya, kamu percaya saja padaku!," kata Fira.
Tiara menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Fira.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja siang ini untuk menghibur diri?," kata Fira.
"Iya deh yang sekarang sudah jadi istri orang, sudah jadi menantu juga," kata Fira menyindir.
Tiara tersenyum kecil.
"Terus kamu pulangnya sama siapa? suami kamu pasti masih kerja dikantor," kata Fira.
"Aku naik ...," kata Tiara terhenti.
Bunyi dering panggilan dari ponselnya yang membuat perkataan Tiara terhenti. Panggilan seluler itu berasal dari ibu mertuanya.
"Halo mah," kata Tiara mengangkat telepon.
__ADS_1
"Halo nak, kamu dimana sekarang?," tanya bu Sari.
"Aku masih dikampus mah," kata Tiara.
"Kamu masih ada kelas?," tanya bu Sari.
"Tidak mah, kelas kuliah hari ini sudah selesai. Ini aku akan pulang sekarang mah," kata Tiara.
"Kamu pulang kemana hari ini nak?," tanya bu Sari.
"Aku akan pulang ke rumah mamah," kata Tiara.
"Oh begitu, baguslah nak," kata bu Sari.
"Iya mah," kata Tiara.
"Kamu tunggu saja dikampus ya nak! mamah akan jemput kamu kesana," kata bu Sari.
"Mamah tidak perlu repot-repot jemput aku ke kampus mah," kata Tiara.
"Haduh, tidak apa-apa nak. Ibu mau sekaligus mengajak kamu ke suatu tempat," kata bu Sari.
"Kemana mah?," tanya Tiara.
"Kamu tidak perlu tahu sekarang. Kamu tunggu saja disana! mamah akan jemput kamu. Kamu share lokasi kamu ke mamah ya setelah sambungan telepon ini berakhir," kata bu Sari.
__ADS_1