Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 116


__ADS_3

"Baik mas, aku tidak akan lama-lama," kata Tiara yang takut dengan ancaman suaminya itu.


Tiara mengambil ponselnya dari tangan Sandi.


Ia melihat memeriksa pemberitahuan pada setiap sosial medianya.


"Tir, kamu jangan update status soal keadaan kamu ya yang sekarang," kata Sandi.


"Kenapa mas?,'' tanya Tiara.


"Aku tidak mau ada yang tahu soal keadaan kamu. Aku takut mereka akan berasumsi yang tidak-tidak," kata Sandi.


"Baik mas, aku tidak akan mengupdate status soal keadaanku sekarang," kata Tiara yang memahami maksud dari suaminya tersebut.


Tiara sudah lumayan lama memainkan ponselnya, dia sampai lupa pesan dari Sandi yang memintanya jangan lama-lama memainkan ponselnya.


Tapi ia masih selamat dari omelan suaminya karena Sandi juga sedang sibuk memainkan ponsel miliknya.


Tiara kemudian menyerahkan kembali ponselnya ke tangan Sandi.


"Mas, ini ponselnya. Aku sudah selesai," kata Tiara.


"Oh baguslah," Sandi meletakkan ponsel Tiara dan ponsel miliknya ke atas meja.


Ia ingin memberikan waktunya untuk membersamai Tiara.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Dokter Risma datang. Ia datang kembali untuk memeriksa kesehatan Tiara.


"Nampaknya sedang mengobrol hal penting ya," kata dokter Risma.


"Tidak kok dok," kata Sandi.


"Begitu ya, baguslah. Saya kira kedatangan saya mengganggu," kata dokter Risma.


"Sama sekali tidak kok dokt," kata Sandi.


"Baguslah kalau tidak menggangu," kata dokter Risma.


"Hehehe," kata Sandi.


"Oh silahkan dok!,'' kata Sandi.


Dokter Risma mulai memeriksa Tiara dengan cermat. Setelah ia memeriksa Tiara ia merasa keadaan Tiara sudah stabil dan bisa pulang siang ini.


"Keadaan mbak Tiara sudah mulai membaik mas, bisa dipastikan siang ini mbak Tiara bisa pulang," kata dokter Risma.


"Wah syukurlah dok, terima kasih banyak ya dok," kata Sandi.


"Iya mas, sama-sama. Tapi mas, mbaknya harus makan siang disni dulu supaya obat yang saya beri dihabiskan disini. Saya akan kasih resep obat yang baru untuk mbak Tiara," kata dokter Risma.


"Oh begitu ya dok. Saya akan mengikuti apa yang dokter katakan jika itu baik untuk istri saya," kata Sandi.

__ADS_1


"Baik mas, terima kasih," kata dokter.


"Iya dok, sama-sama," kata Sandi.


Dokter Risma meninggalkan Sandi dan Tiara.


"Syukur ya mas, aku bisa check out siang ini. Aku sudah mulai jenuh disini padahal baru masuk kemarin pagi," kata Tiara.


"Hehehe, wajar sih. Aku juga sewaktu sekolah SMA pernah demam dan dirawat selama tiga hari dirumah sakit. Dan memang betul-betul sangat membosankan saat dirawat dirumah sakit," kata Sandi.


"Iya mas, memang sangat membosankan disini," kata Tiara.


"Iya Tir,'' kata Sandi.


Siang hari telah tiba, kini waktunya Tiara makan siang. Perawat sudah mengantarkan makan siang Tiara.


Tiara pun makan dengan lahap siang ini karena keadaan tubuhnya sudah stabil dan selera makannya sudah membaik.


Sandi akan memberikan obat setelah istrinya itu menghabiskan semua makanan yang ada dipiring.


Setelah setengah jam seusai meminum obat, Sandi pergi ke ruang administrasi untuk membayar semua biaya rawat Tiara selama diklinik.


Kemudian ia menemui perawat yang menangani Tiara agar melepaskan selang impus yang ada ditangan Tiara.


Perawat pun berjalan bersama Sandi menuju ruang rawat Tiara. Tiara dalam posisi duduk saat ditemui oleh perawat.

__ADS_1


__ADS_2