Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 127


__ADS_3

Tiara sudah membawa ponselnya. Ia mulai memotret lukisan pasir milik Sandi. Setelah mendapatkan foto terbaik dari setiap potretnya, Tiara meng-upload karyanya tersebut ke sosial media.


Dia menulis caption dengan tulisan " you are great my husband ".


Sandi tersenyum melihat Tiara.


Malam pun tiba, Sandi memutuskan makan malam diwarung nasi dekat pantai sebelum kembali ke hotel.


Mereka berdua berjalan bersama -sama menuju warung nasi tersebut.


Farhan dan Fira sudah selesai membuat karya ilmiah untuk lomba yang mereka ikutkan. Mereka juga sudah menyerahkan karya mereka itu. tadi sore.


Saat ini Farhan bersantai dibalkon kamarnya sambil bermain ponsel. Dia juga memainkan laptopnya untuk melihat beberapa film yang akan tayang.


Farhan memang sangat suka menonton film. Saat dia memainkan ponselnya, ia melihat status Tiara disosial media.


Farhan tersenyum dengan ekspresi yang tidak suka.


"Bisa-bisanya Tiara menjadi seperti ini. Betul-betul drama sekali," gumam Farhan.


Dia melewati status Tiara tersebut. Dia memilih melihat sesuatu yang lebih menarik diponsel pintarnya.

__ADS_1


Sesudah makan malam, Tiara dan Sandi kembali ke hotel. Didalam kamar, Sandi meminta Tiara untuk memijatnya.


"Tir, aku merasa sedikit pegal-pegal. Bisa tidak kamu memijatku?," tanya Sandi.


"Bisa mas. Tapi tidak ada minyak urutnya, bagaimana mas?," tanya Tiara.


"Kamu tenang saja. Aku sudah membelinya. Minyak urut itu ada didalam weist bag milikku," kata Sandi.


"Baik mas, aku ambil dulu minyak urutnya," kata Tiara.


"Hm," kata Sandi.


Sandi membuka bajunya. Tiara kembali mendekati Sandi. Dia kaget melihat Sandi membuka bajunya.


"Kamu bilang apa sih Tir? bicaranya ngawur," kata Sandi.


"Lalu kenapa mas buka baju?," tanya Tiara.


"Aku buka baju karena kamu akan memijat badanku. Apa kamu akan memijat badanku dengan minyak itu tapi aku menggunakan baju?," tanya Sandi.


"Hehehe, iya sih mas, maaf deh," kata Tiara.

__ADS_1


"Ya sudah, pijat aku sekarang!," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


Tiara mendekati Sandi dan akan mulai memijatnya. Tapi ia menghentikan upayanya itu.


"Mas, apa tidak lebih baik kalau mas aku pijat diatas ranjang kasur saja. Soalnya supaya mas bisa langsung tidur. Kalau mas aku pijat dikursi entar mas ketiduran, kalau aku bangunkan mas takutnya kebangun," kata Tiara.


"Hm betul juga yang kamu bilang. Baiklah, aku akan pindah dari kursi ke ranjang kamar tidur," kata Sandi.


Sandi beranjak dari kursi tempat ia duduk. Ia berjalan ke arah ranjang kasur kamar tidur. Tiara pun mengikutinya dari belakang.


Sandi menidurkan tubuhnya dengan posisi telangkup. Tiara mulai membalurkan minyak urut yang ada ditangannya ke badan Sandi.


Ia mulai memijat perlahan dengan pijatan yang lembut. Sandi sangat menikmati pijatan istrinya itu. Lama-kelamaan Sandi pun mengantuk dan akhirnya tertidur.


Tiara sudah lebih dari dua puluh menit memijat Sandi. Setelah melihat Sandi sudah terlelap dengan nyenyak. Ia menyudahi pijatannya. Entah karena lelah memijat Sandi, Tiara pun ikut menyusul Sandi tertidur.


Ia meletakkan minyak urut tersebut diatas meja, ia mencuci wajahnya terlebih dahulu.


Sebelum ia tertidur, ia terlebih dahulu membereskan beberapa barang penting sebelum berangkat besok

__ADS_1


Sebelum tidur ia terlebih dahulu memasang alarm supaya ia tidak terlambat bangun besok pagi. Setelahnya ia pun tertidur disamping Sandi.


Mereka berdua nampak terlihat lelah padahal mereka tidak memiliki kegiatan yang menguras tenaga seharian ini.


__ADS_2