
Ternyata pesan itu datang dari kekasihnya, yaitu Lisa. Lisa mengirimkan semua foto pernikahan Tiara dengan Sandi.
"Jadi ini ternyata alasan kamu tidak mau menikah dengan aku San? hebat sekali kamu ya. Dengan mudahnya kamu mencari perempuan lain dan menghianati aku. Aku tidak mengira kamu sejahat itu," kata Lisa.
Pesan itu membuat Sandi merasa bersalah. Dia tidak menyangka bahwa Lisa mengetahui hal itu secepat ini. Sandi merasa kacau.
Ia mencoba menghubungi Lisa mesti didepan Tiara. Untung saja Tiara tidak tahu siapa yang sedang Sandi hubungi dan juga panggilan Sandi tidak diangkat. Hal itu beralasan karena ternyata Lisa sedang mengemudi. Lisa bosan menunggu didepan rumah Sandi. Ia memutuskan meninggalkan rumah Sandi dengan rasa putus asa.
Sandi kemudian terus menerus mengulangi panggilannya. Namun hasilnya tetap sama. Lagi-lagi panggilan Sandi tidak diangkat oleh Lisa. Tiara menjadi bingung melihat perilaku suaminya yang nampak tidak tenang dan dalam kecemasan.
"Mas, kenapa sepertinya mas tidak tenang dan terlihat mengkhawatirkan sesuatu?,", tanya Tiara. Sandi kaget. Dia seperti tidak sadar bahwa Tiara memperhatikannya dari tadi.
"Tidak apa-apa, aku hanya mendapatkan pesan dari orang kepercayaanku. Dalam pesan itu, dia mengatakan bahwa proyek yang sedang kami kerjakan bermasalah," kata Sandi berbohong.
"Oh, iya mas, aku paham," kata Tiara.
Sandi merasa semakin gelisah tidak tenang. Jujur, dia belum siap kalau harus berpisah dari Lisa, kekasihnya itu. Sandi membuka layar ponselnya, membuat pesan kepada Lisa.
"Sayang, dimana kamu sekarang? aku mau ketemu sama kamu. aku akan jelasin semuanya. apa yang terjadi sekarang tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku mohon sayang, mengertilah! bahwa aku hanya mencintaimu!," kata Sandi dalam pesan itu.
Pesan Sandi itu langsung terbaca oleh Lisa.
"Untuk apa kamu menggangguku lagi San? apa kamu belum puas menyakiti aku? apa kamu belum puas menyakiti aku?," kata Lisa dalam pesan.
"Sayang, bukan begitu, kamu salah mengerti. Aku mohon sayang beri tahu aku dimana posisi kamu sekarang? supaya aku kesana. aku akan jelasin semuanya. aku mohon sayang," kata Sandi.
__ADS_1
"Aku tidak perlu lagi mendengar penjelasan apapun dari kamu!. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot mencari keberadaan aku dimana sekarang," kata Lisa. Pesan itu terbaca oleh Sandi. Sandi merasa mulai putus asa. Kesalah pahaman Lisa sudah begitu dalam.
"Sayang, izinkan aku menemui kamu. Aku ingin kita bicara empat mata," kata Sandi. Lisa hanya membaca pesan Sandi tanpa membalasnya.
Sandi merasa semakin kacau. Didalam kekacauan itu, dia justru mendapat ide. Ia melacak keberadaan Lisa melalui sebuah aplikasi. Aplikasi itu dapat mencari keberadaan Lisa ketika Lisa sedang terhubung dengan jaringan internet.
Tidak perlu lama aplikasi itu bekerja. Keberadaan Lisa sekarang sudah diketahui.
Ia sekarang sedang berada dirumahnya.
Sandi tersenyum usai mengetahui keberadaan Lisa. Ia melepaskan jasnya. Mengambil jacket kulit untuk dikenakan. Karena angin malam akan menusuk pori-pori kulit.
Tanpa memperdulikan keberadaan Tiara, ia meninggalkan Tiara dalam balutan gaun pengantin. Tiara bingung.
"Aku mau pergi keluar sebentar. Aku mau menyelesaikan masalah proyek pembangunan yang bermasalah," kata Sandi.
"Ya sudah mas hati-hati," kata Tiara bersedih.
Sandi keluar dari kamar. Dia keluar dari rumah melalui pintu belakang. Berjalan menuju garasi dan menyalakan mobil. Setelahnya, ia menancapkan gas mobil dengan kecepatan tinggi.
Sandi kini sampai didepan rumah Lisa. Lisa hanya tinggal sendiri dirumah itu untuk sementara ini sebab asisten rumah tangga sedang pulang kampung. Pintu gerbang terlihat tertutup. Dia turun dari mobil. memencet tombol pintu gerbang.
Sandi berkali-kali memencet pintu gerbang, namun tidak ada tanda-tanda Lisa keluar untuk membuka pintu gerbang. Sandi mengirimkan pesan. Mengatakan dia sedang menunggu didepan pintu gerbang rumah Lisa. Membaca pesan Sandi itu, Lisa tetap tidak bergeming.
Tiara merasa bersedih didepan cermin. Dia menatap dirinya yang masih dalam balutan gaun pengantin didepan cermin. Meskipun dia menikah dengan laki-laki yang belum ia kenal sebelumnya, ia sudah mulai merasa nyaman dengan Sandi semenjak pertemuan mereka saat melakukan pre-wedding. Tentu Tiara merasa sedih, karena dimalam pertama pernikahannya, ia tidak bisa menghabiskan malam ini bersama Sandi.
__ADS_1
Tiara mulai melepaskan semua perhiasan yang melekat pada dirinya. Melepaskannya secara perlahan satu persatu. Ia kemudian melepaskan gaun pengantin yang ia kenakan. Bersedia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hujan pun datang. Tetapi Sandi masih setia menunggu Lisa keluar dari rumah. Dia menelepon Lisa, namun panggilannya ditolak. Sandi mulai merasa menggigil. Namun dia tidak menyerah. Ia tetap hujan-hujanan diluar.
Ternyata Lisa memperhatikan Sandi dari balkon kamarnya. Ia merasa kasihan Sandi berada disana.
Haduh, kenapa Sandi biarin dirinya kehujanan gitu diluar? Apa mungkin ada sesuatu tentang pernikahan itu yang mau dia sampaikan ke aku?. Melihat keseriusnya seperti itu pasti dia masih cinta sama aku. Bagaimana sekarang ya? apa aku tetap membiarkan dia? atau turun ke bawah dan biarkan dia jelasin semuanya?. Batin Lisa bingung.
Usai mandi, Tiara melihat Hujan yang semakin deras. Membuat Tiara merasa gelisah. Ia khawatir Sandi kenapa-kenapa diluar sana. Ia mencoba menelpon Sandi. Sandi melihat panggilan Tiara dilayar ponselnya. Karena fokus dengan Lisa, ia menolak panggilan Tiara.
"Aku sedang rapat dengan para karyawan," kata Sandi berbohong dalam pesan what's app. Tiara senang membaca pesan Sandi yang menandakan bahwa dia baik-baik saja.
"Baik mas, aku mengerti," kata Tiara. Sandi membaca pesan balasan Tiara dan mengabaikannya. Sandi semakin merasa tubuhnya mulai bergetar dan lemah karena guyuran hujan deras dan juga angin malam kencang. Lisa yang melihat Sandi semakin tidak tahan dan merasa sangat bersalah jikalau Sandi kenapa-kenapa.
Lisa memutuskan keluar dari rumah. Dia menghampiri Sandi kebawah dan membuka pintu gerbang. Dia memeluk Sandi. Baru kali ini ada ketulusan hati darinya.
"Sayang," kata Sandi menatap wajah Lisa. Lisa hanya menatap Sandi dengan tatapan yang sedih. Kini mereka berdua saling menatap dibawah guyuran hujan. Wajah Sandi mulai nampak pucat berat. Lisa semakin khawatir. Ia membopong Sandi kedalam rumah. Dia membawa Sandi ke dalam kamarnya. Ia membuka jacket dan pakaian Sandi. Dia mengambilkan sweater hangat dan memakaikannya ke Sandi.
Lisa turun ke dapur untuk membuatkan teh jahe untuk diminum oleh Sandi. Lisa membawa minuman itu ke kamarnya. Meminumnya ke mulut Sandi. Setelahnya Sandi mulai merasa baikan.
Sandi merasa sudah waktunya ia menjelaskan kebenaran yang sebenarnya terjadi.
"Sayang," kata Sandi.
"Kamu jangan banyak bicara dulu. Aku akan mendengarkan penjelasan kamu nanti. Tenang saja!. Sebaiknya kamu tidur saja dulu supaya tubuh kamu baikan," kata Lisa. Sandi tersenyum dan menggenggam erat tangan Lisa lalu pergi tidur.
__ADS_1