
Tiara akhirnya memikirkan sebuah topik yang pas untuk dibicarakan supaya suasana menjadi sedikit lebih cair.
"Mas, kira-kira kapan ya waktu yang tepat untuk kita berbulan madu?," kata Tiara memulai obrolan.
"Hmm, waktu yang tepat adalah dimana kamu memiliki waktu cuti kuliah yang pas dan aku juga memiliki waktu cuti kerja yang pas," kata Sandi.
Tiara yang melihat Sandi merespon pertanyaan yang ia berikan merasa senang karena dia bisa tahu kalau Sandi tidak lagi marah.
"Iya mas, tapi kapan waktu yang pas itu ya?," tanya Tiara balik.
"Hmm, kita lihat saja nanti," kata Sandi.
"Baik mas," kata Tiara.
Obrolan tersebut dirasa Tiara sudah cukup untuk mencairkan suasana. Ia kembali memilih melihat-lihat pemandangan diluar dari kaca jendela sedangkan Sandi kembali fokus menyetir.
Perjalanan yang menghabiskan waktu hampir setengah jam itu pun berakhir. Kini mereka sudah sampai dirumah. Sandi keluar terlebih dahulu keluar, ia membukakan pintu untuk Doni dan Tiara membuka pintu sendiri.
Sandi juga mengambil beberapa barang yang mereka beli yang tidak bisa dibawa oleh Doni.
Sandi mengambil barang tersebut dan berjalan ke dalam rumah. Sandi kaget pintu tertutup dan terali pintu pun ikut tergembok.
"Sepertinya bapak dan ibu belum pulang Tir," kata Sandi.
__ADS_1
"Iya mas, memang sepertinya belum," kata Tiara.
"Jadi bagaimana cara kita masuk ke dalam rumah?," tanya Sandi kebingungan.
"Aku juga bingung mas bagaimana cara masuknya?" kata Tiara.
"Haduh, masih lama tidak bapak dan ibu pulangnya?," tanya Sandi.
"Masih sepertinya mas. Soalnya masih jam 15:00 sore," kata Tiara sembari melihat ke arah jam tangannya.
"Tokonya jauh tidak? lebih baik kita kesana," kata Sandi.
"Tidak jauh sih mas, deket kok," kata Tiara.
"Tidak perlu mas," kata Doni menyela perkataan Sandi.
"Lho, kenapa begitu Don?," tanya Sandi kebingungan.
"Mas tidak perlu khawatir, kita bisa masuk kok sekarang," kata Doni.
"Bagaimana caranya?," tanya Sandi.
Doni tidak menjawab. Ia berjalan menuju pot bunga disamping rumah. Ia mengangkat pot bunga kecil tersebut. Dibawah pot bunga kecil itu ada sebuah kunci. Itu adalah kunci rumah.
__ADS_1
Doni mengambilnya dan memberikannya kepada Sandi.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?," kata Sandi sembari mengelus kepala Doni.
"Hehehe, maaf mas," kata Sandi merasa tidak bersalah.
Sandi membukakan pintu, ia masuk. Tiara dan Doni pun menyusul Sandi masuk.
Sandi segera melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Ia nampak sangat letih, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh dengan tidur. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Tiara membereskan barang-barang yang mereka belanjakan tadi. Doni memasukkan barang belanjaan miliknya ke kamar tidurnya segera.
Tiara yang melihat Sandi sudah mulai terlelap tersenyum. Dia sangat senang melihat apa yang dilakukan Sandi hari ini. Kebaikan Sandi patut untuk diacungi jempol.
Mudah-mudahan mas Sandi selalu seperti ini dan rumah tangga kami semakin harmonis. Batin Tiara.
Tiara keluar dari kamarnya, ia hendak beberes rumah dan menyiram tanaman.
Tidak seperti Tiara, Lisa saat ini sedang berada diruang pemotretan. Disela-sela waktu istirahat, dia menyempatkan waktu untuk menghubungi Sandi.
Sudah dua hari ini aku tidak menerima kabar dari Sandi? kemana dia sebenarnya? biasanya kalau sehari saja aku tidak ada kabar, dia pastia akan kecarian. Batin Lisa.
Lisa pun memutuskan mengeluarkan ponsel pintarnya dan menghubungi Sandi. Panggilan seluler tersebut masuk. Akan tetapi, ponsel Sandi hanya berdering.
__ADS_1