Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 135


__ADS_3

Petugas hotel datang untuk membantu Tiara dan Sandi membawa barang-barang mereka ke bawah. Petugas mendapat pemberitahuan dari pihak administrasi bahwa Tiara dan Sandi akan check out pagi ini.


Tiara, Sandi dan petugas hotel bergotong royong membawa barang-barang milik Sandi dan Tiara.


Mereka sudah sampai dibawah. Petugas dan supir bekerja sama memasukkan barang-barang bawaan itu ke dalam bagasi.


"Terima kasih banyak ya mas atau bantuannya," kata Sandi kepada petugas hotel.


"Iya mas, sama-sama. Sudah kewajiban kami," kata petugas hotel.


Tiara dan Sandi memasuki mobil sedangkan petugas kembali memasuki hotel.


Mobil mulai berjalan meninggalkan hotel secara perlahan. Tiara nampak sedih ketika meninggalkan hotel.


"Sayang, kamu kenapa murung begitu?," tanya Sandi.


Tiara mendengar Sandi memanggilnya sayang merasa membaik. Sepertinya Sandi sudah mulai terbiasa dengan hal itu.


"Aku hanya sedikit sedih mas, hotel ini memberikan kenangan yang indah selama kita disini," kata Tiara.


"Kenangan indah? kenangan apa maksudnya?," tanya Sandi yang belum sepenuhnya paham dengan perkataan Tiara.

__ADS_1


"Begini mas, aku merasa sangat dekat dengan mas Sandi untuk pertama kalinya ditempat ini. Aku juga merasa menjadi istri pertama kali ditempat ini. Kalau dirumah, kita susah sekali untuk sedekat seperti disini karena kesibukan masing-masing. Itu maksudnya mas," kata Tiara menjelaskan panjang lebar kepada Sandi.


"Benarkah? kalau memang begitu yang kamu rasakan, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku akan berusaha untuk menjadi sosok suami yang lebih baik lagi, aku janji," kata Sandi.


"Maaf ya mas. Aku tidak bermaksud membuat dikte atas mas," kata Tiara.


"Iya sayang, aku paham," kata Sandi memeluk Tiara dan mengusap rambutnya.


"Terima kasih mas," kata Tiara.


"Hm," kata Sandi dengan anggukan.


Supir yang melihat keromantisan mereka merasa iri. Ia jadi ingin cepat-cepat menikah.


Tidak lama kemudian, mereka sampai dibandara. Sesudah sampai dibandara, supir menurunkan barang-barang mereka.


Sandi dan Tiara membawa barang-barang tersebut sendiri ke dalam. Sambil menunggu keberangkatan pesawat yang hanya menghitung menit saja, mereka menikmati mie instan.


Sandi nampaknya ingin mengikuti tindakan istrinya. Ia mengupload dua mie instan yang mereka makan ke sosial media kemudian mengunggahnya dengan kata-kata "Sambil menunggu pesawatnya fly, makan mie instan dulu, hehehe". Begitulah tulus Sandi dalam statusnya.


Selvi, kakak Sandi yang kebetulan sedang bermain ponsel dimeja kerjanya jadi reflek setelah melihat status adiknya disosial media.

__ADS_1


"Tumben kamu buat status San? biasanya jarang sekali," tulis Selvi.


Tapi sayang, pesan Sandi itu tidak langsung digubris Sandi karena ia fokus pada mie instan didepannya


Selvi kembali membaca tulisan Sandi yang memberi tahukan keberadaannya dibandara.


Ia pun kembali mengirimkan pesan balasan atas status adik satu-satunya itu.


"Kamu mau kemana? dengan siapa?," tulis Selvi.


Selvi merasa penasaran, ia pun segera menghubungi ibunya karena pesannya tidak langsung dibalas oleh Sandi.


Ia pun menghubungi bu Sari.


"Halo mah," kata Selvi.


"Iya Selv, tumben kamu menghubungi mamah pagi-pagi begini?," tanya bu Sari.


"Selvi hanya rindu mamah. Mamah apa kabar?," tanya Selvi basa basi sebelum ia mempertanyakan pertanyaannya kepada Sandi.


"Mamah alhamdulilah baik nak, kamu apa kabarnya sayang?," tanya bu Sari.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau mamah baik-baik saja. Selvi juga baik kok mah," kata Selvi.


__ADS_2