
Pak Airlangga dan bu Sari menatap satu sama lain.
"Kami betul-betul minta maaf ya As. Kami lalai," kata bu Sari.
Pak Airlangga menundukkan wajahnya saat mendengar perkataan bu Sari.
"Tidak apa-apa mbak. Tidak ada lagi yang perlu disesali. Semua kan sudah terjadi," kata bu Asta.
"Apa kamu marah As kepada kami?," tanya bu Sari.
"Tentu tidak mbak. Aku hanya kecewa pada diriku yang terlambat untuk bertukar pikiran dengan mbak soal perasaan Lia selama ini," kata bu Asta.
"Syukurlah As kamu tidak menaruh rasa kecewa dengan mbak. Mbak ini kan sahabat terdekat kakak iparmu dulu. Dan juga, di detik-detik terakhir nafas hidupnya mbak berada tepat disampingnya. Wasiat yang ia tinggalkan itu betul-betul seperti amanah yang begitu besar yang harus mbak jaga dan mbak laksanakan," kata bu Sari.
"Iya mbak. Asta mengerti akan hal itu. Sekarang bagaimana dengan Lia ya mbak? Asta benar-benar bingung untuk menghadapi dia nanti saat wisudanya di Amerika dan saat dia pulang ke Indonesia," kata bu Asta.
"Kejujuran itu yang terpenting As. Kamu ceritakan yang sebenarnya. Masalah wasiat mendiang ibunya dan juga keinginan kami sebagai orang tua Sandi," kata bu Sari.
__ADS_1
"Asta pasti akan berusaha untuk jujur menjelaskan semua yang terjadi kepada Lia mbak," kata bu Asta.
"Baguslah kalau begitu As, aku yakin kamu bisa melakukannya," kata bu Sari.
"Iya mbak," kata bu Asta.
"Oh iya, mbak lupa mau cerita. Hampir dua minggu yang lalu, Faris dan Rika berserta putranya juga datang kesini untuk bersilaturahmi sekaligus makan malam seperti yang kita lakukan saat ini," kata bu Sari.
"Benarkah mbak? sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka berdua," kata bu Asta.
"Iya As, putra mereka sangat tampan. Mirip sekali dengan Faris. Bak pinang dibelah dua. Orangnya juga ramah dan memiliki tata krama yang tinggi," kata bu Sari.
"Kalau begitu, sifatnya tidak jauh ya mbak dengan papahnya," kata bu Asta.
"Begitulah As," kata bu Sari.
"Apa kedatangan mereka kesini hanya berkunjung semata atau ada hal lain yang mau dibicarakan mbak?," tanya bu Asta.
__ADS_1
"Mereka datang kesini untuk membicarakan masalah surat wasiat mendiang Anita As," kata bu Sari.
"Serius mbak?," tanya bu Asta.
"Serius donk As, mereka datang untuk membicarakan hal tersebut karena memang sudah waktunya untuk mendekatkan Farhan dengan Lia," kata bu Sari.
"Oh nama anak laki-laki mereka itu Farhan ternyata ya mbak," kata bu Asta.
"Iya As, namanya Farhan," kata bu Sari.
"Apakah itu inisiatif dari mas Faris dan mbak Rika atau inisiatif mbak Sari sendiri?," tanya bu Asta.
"Itu inisiatif mereka As. Mereka ingin sekali mewujudkan keinginan terakhir mendiang Anita," kata bu Sari.
"Baiklah mbak, aku akan berusaha juga untuk mewujudkan impian mbak Nita itu. Tapi aku harap jangan ada paksaan dan tekanan kepada Lia ya mbak atas perjodohan itu," kata bu Asta.
"Itu pasti. Mbak adalah orang pertama yang akan menolak perjodohan itu jika Lia merasa tertekan dan menolak perjodohan itu. Mbak berjanji," kata bu Sari.
__ADS_1
"Iya mbak, Asta senang kalau mbak Sari sudah berkata seperti itu," kata Asta.
"Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Lia As. Mbak memang memberi tahu mereka jika Asta sedang berada diluar negeri untuk menyelesaikan pendidikannya," kata bu Sari.