Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 79


__ADS_3

"Ia Rik, Sandi juga kuliah di Amerika, akan tetapi universitas mereka berbeda," kata bu Sari.


"Dia kuliah ambil jurusan apa mbak?," tanya bu Rika.


"Kedokteran Rik," kata bu Sari.


"Wah, bagus juga jurusan yang dia ambil ya mbak," kata bu Rika.


"Begitulah Rik," kata bu Sari.


"Kira-kira kapan ya mbak kita bisa bertemu Lis?," tanya pak Faris.


"Mungkin sekitar tiga mingguan lagi deh, soalnya Asta juga akan berangkat ke Amerika untuk menghadiri acara wisuda Lia," kata bu Sari.


"Wisuda? kok cepet bgt mbak, perasaan umur Lia kan cuma beda tiga hari dengan Farhan dan juga Farhan lebih tua lagi dari pada Lia," kata bu Rika.


"Oh itu karena Asta terlalu cepat memasukkan Lia ke sekolah dasar dulu," kata bu Sari.


"Oh pantas saja," kata bu Rika.


"Kalau Farhan sekarang sudah semester brp?," tanya bu Sari.


"Sebentar lagi dia mau wisuda kok mbak, cuma dia ada praktik lapangan dulu dari perkuliahannya sebelum lulus," kata bu Rika.


"Gitu ya Rik, baguslah," kata bu Sari.

__ADS_1


"Jadi waktu yang terbaik untuk mempertemukan Farhan dan Lia adalah kita harus sabar menunggu kedatangan Lia dari Amerika nanti donk mbak," kata bu Rika.


"Iya Rik, aku akan menghubungi kalian jika nanti Lia sudah pulang kesini. Kalau perlu, kami akan berkunjung kesana," kata bu Sari.


"Baguslah mbak, aku berharap kita akan mendapatkan yang terbaik nantinya," kata bu Rika.


"Amin ya Rik," kata bu Sari.


Malam semakin larut, jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:30, Farhan dan keluarganya pun pamit pulang kepada bu Sari.


"Mbak, sudah larut malam nih, kalau begitu kami pulang dulu ya," kata Rika.


"Haduh, karena asyik mengobrol, sampai lupa lihat jam," kata bu Sari.


"Iya mbak, hehehe. Terima kasih ya mbak untuk makannya dan juga untuk semuanya pokoknya," kata bu Rika.


"Ok deh mbak, aku tunggu," kata bu Rika.


Farhan dan orang tuanya meninggalkan rumah Sandi dengan ditandai suara deruman mobil yang hilang dengan perlahan.


Sandi dan Tiara kembali ke kamar mereka dan begitu pula dengan bu Sari dan pak Airlangga.


"Apakah semuanya sudah kamu persiapkan dengan baik Tir?," tanya Sandi.


"Sudah mas, semuanya sudah aku persiapkan," kata Tiara.

__ADS_1


"Baguslah?," kata Sandi.


"Tapi aku merasa deg-degan mas sekarang," kata Tiara.


"Deg-degan kenapa kamu Tir?," tanya Sandi.


"Aku belum pernah naik pesawat sebelumnya mas, aku takut," kata Tiara.


"Takut kenapa coba?," tanya Sandi keheranan.


"Takut jatuh mas pesawatnya. Aku lihat dibeberapa portal berita kalau pesawat jatuh itu biasanya korbannya gak ada yang selamat," kata Tiara menjelaskan kerisauannya.


"Hm, itu namanya kamu over thinking, kamu tidak perlu berfikir terlalu jauh seperti itu. Santai saja!," kata Sandi menasihati.


"Baik mas, aku tidak akan berfikir terlalu jauh seperti itu," kata Tiara.


"Iya deh, bagus kalau begitu," kata Sandi.


Tiara berdiri dari ranjang kamar dan mengambil kotak obat yang ada diatas meja belajarnya.


Sandi memperhatikan tindakan Tiara itu. Tiara juga mengambil segelas air putih.


"Kamu minum apa Tir? kamu sedang sakit ya?," tanya Sandi.


"Aku baik-baik saja kok mas, ini vitamin kesehatan dan kecantikan wanita yang mamah berikan tadi siang untukku," kata Tiara.

__ADS_1


"


__ADS_2