Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 25


__ADS_3

"Oh begitu ya. Kakak setuju dengan pilihan kamu itu San," kata Elviana.


"Iya kak," kata Sandi.


"Ok ya San, kalau begitu kakak tutup teleponnya," kata Elviana.


"Ia kak," kata Sandi.


Komunikasi mereka berakhir dengan ditandai dengan sambungan yang telepon yang diputus.


Sandi memandang Tiara. Dia bingung, kenapa Tiara terlihat biasa saja walaupun ia berkomunikasi dengan seorang wanita.


"Tir, kamu tidak bertanya siapa yang menghubungiku?," tanya Sandi.


"Aku merasa segan mas untuk menanyakannya," kata Tiara.


"Hm, yang menghubungiku barusan itu adalah kakakku," kata Sandi.


"Kakak mas?," tanya Tiara.


"Ia, kakakku. Kakak kandungku. Yang artinya kakak ipar kamu Tir," kata Sandi.


"Benarkah mas? lalu kenapa kakak mas tidak hadir dalam pernikahan kita waktu itu?," tanya Tiara.


"Itu karena papah dan mamah tidak memberitahu kak Elvi," kata Sandi.


"Kenapa papah dan mamah tidak memberitahu mbak Elvi tentang pernikahan kita? apa alasannya mas?," tanya Tiara.


"Alasannya adalah papah dan mamah mau mempercepat pernikahan kita," kata Sandi.


"Apa kehadiran mbak Elvi dapat menghambat waktu pernikahan kita ya mas?," tanya Tiara.


"Ia begitulah Tir. Kalau kakakku diberitahu tentang pernikahan kita sudah pasti dia yang menentukan tanggal pernikahan kita Tir," kata Sandi berbohong.


"Kenapa bisa begitu mas?," tanya Tiara.


"Karena jika kakakku hadir dalam pernikahan kita, kita lah yang harus menyesuaikan jadwalnya. Kakakku sudah cukup lama diluar negeri karena alasan pekerjaan dan bisnis, dan juga dia itu super sibuk. Susah sekali mencuri waktu miliknya. Itu karenanya kakakku jarang sekali pulang ke Indonesia," kata Sandi.


"Begitu ya mas alasannya. Aku mengerti mas," kata Tiara.


"Ia Tir," kata Sandi tersenyum.


Nampaknya Tiara percaya dengan apa yang aku katakan. Maafkan aku Tir, sebenarnya kak Elvi ingin aku menikahi Lia. Tapi aku tidak mungkin memilihnya karena aku tidak mencintainya. Aku hanya menganggap dia sebagai sahabat. Akunya mencintai Lisa saja!.


Siapa Lia sebenarnya? Lia adalah sahabat Sandi sejak kecil. Mereka tumbuh dewasa bersama. Bahkan mereka menempuh pendidikan disekolah yang sama. Baik dari SD sampai SMA. Namun ketika mereka memasuki kuliah, mereka memilih universitas yang berbeda tetapi satu negara. Mereka menempuh kuliah di Amerika.


Berbeda dengan Sandi, Lia masih melanjutkan pendidikan kedokterannya di Amerika.


"Mas, aku sudah mulai mengantuk, aku tidur duluan tidak apa-apa kan mas?," tanya Tiara meminta izin.

__ADS_1


"Tentu boleh, kamu tidur saja duluan!," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


"Hm," kata Sandi.


Tiara pun segera beranjak tidur karena ia besok harus kembali kuliah. Sandi masih sibuk dengan ponselnya.


Pak Airlangga dan bu Sari sudah kembali ke rumah dari urusan mereka.


"Kemana tuan muda dan nona muda mbak?," tanya pak Airlangga kepada salah satu asisten rumah tangga.


"Tuan muda dan nona muda sudah berada dikamar mereka tuan," kata asisten rumah tangga.


"Benarkah? pukul berapa tuan muda pulang tadi?," tanya pak Airlangga.


"Pukul 17:00 sore tadi tuan," kata asisten rumah tangga.


"Baiklah, kamu boleh kembali beristirahat," kata pak Airlangga.


"Baik Tuan, terima kasih Tuan," kata asisten rumah tangga.


"Iya," kata pak Airlangga mengangguk tersenyum.


Pak Airlangga dan bu Sari kemudian pergi ke kamar mereka untuk beristirahat karena malam sudah mulai larut.


Pagi pun tiba, alarm yang sudah diatur oleh Tiara berbunyi membuat Tiara terbangun. Tiara ingin beranjak dari ranjang, namun ketika ia ingin menggerakkan tubuhnya, ia merasa tubuhnya terasa berat. Ternyata tubuh Tiara kini tengah dipeluk erat oleh Sandi. Kaki Tiara terkunci karena kaki Sandi menindih kedua kakinya. Kedua tangan Sandi memeluk Tiara seperti bantal guling sehingga tubuh Tiara benar-benar terkunci.


Tiara mencoba melepaskan pelukan Sandi tapi Sandi memeluk tubuh Tiara semakin erat.


"Mas, aku ingin beranjak," kata Tiara.


"Ya sudah beranjak saja!," kata Sandi.


"Aku tidak bisa beranjak mas, mas mengunci pergerakanku," kata Tiara.


"Iya iya," kata Sandi melepaskan pelukan eratnya.


Tiara kini merasa bebas. Dia juga sudah bisa bernafas dengan lega. Seperti biasa, Tiara akan membasuh wajahnya dan kemudian turun ke dapur untuk membantu Asisten rumah tangga memasak sarapan pagi. Bu Sari juga sudah berada di dapur.


"Kamu sudah bangun nak?," tanya bu Sari.


"Iya mah," kata Tiara.


"Apakah kamu dengan Sandi tidur nyenyak semalam?," tanya bu Sari.


"Nyenyak kok mah," kata Tiara.


"Hm, apa kalian sudah..?," tanya bu Sari menghentikan kata-katanya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Sudah apa mah?," tanya Tiara balik.


"Apa mamah harus menanyakannya lebih detail?," kata bu Sari.


"Tiara kurang paham maksud mamah barusan," kata Tiara.


"Maksud mamah, apa kamu dengan Sandi sudah melakukan apa yang dilakukan oleh suami istri pada umumnya untuk mendapatkan keturunan?," tanya bu Sari. Wajah Tiara langsung memerah bak tomat.


"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mamah. Aku malu mah," kata Tiara menundukkan kepalanya.


"Kenapa harus malu nak? mamah ingin sekali menimang cucu. Mamah ingin kalian segera memberikannya kepada mamah," kata bu Sari.


"Iya mah. Tiara dan mas Sandi pasti akan selalu mengusahakannya," kata Tiara.


Haduh, apa yang baru saja aku katakan kepada mamah? kenapa aku begitu berani mengatakannya. Batin Tiara menggerutu.


"Syukurlah nak, mamah senang sekali mendengarnya jika kalian berusaha mewujudkan keinginan mamah," kata bu Sari.


"Ia mah," kata Tiara tersenyum.


Mereka asyik mengobrol dengan berbagai obrolan santai hingga waktu tidak terasa.


"Mah, semuanya kan sudah selesai. Tiara mau naik ke atas untuk membangunkan mas Sandi," kata Tiara.


"Ia nak," kata bu Sari tersenyum mengiyakan.


Tiara pun berjalan menuju kamar tidur. Saat tiba dikamar, Tiara terlebih dahulu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air panas yang akan digunakan Sandi membersihkan diri.


Ia kembali ke ranjang usai menyiapkan air panas. Ia membangunkan Sandi. Sandi menggeliat lucu. Tiara sampai tertawa kecil. Rambut Sandi nampak acak-acakan namun ia tetap terlihat tampan.


Percobaan pertama Tiara untuk membangunkan Sandi tidak berhasil. Tiara mencoba percobaan kedua.


"Mas, bangun mas! sudah pagi," kata Tiara.


"Pukul berapa sekarang?," tanya Sandi.


"Pukul 06:00 pagi mas," kata Tiara.


Sandi pun bangun dari tidurnya. Ia menyadari hari ini adalah hari kerja. Matanya masih samar-samar. Ia juga masih menguap.


"Mas mau aku buatkan kopi?," tanya Tiara.


"Iya Tir, tolong buatkan," kata Sandi.


"Iya mas," kata Tiara. Tiara menyeduh segelas kopi untuk suaminya itu. Tiara membawakan kopi seduhannya itu kepada Sandi. Sandi mengambilnya dari tangan Tiara.


"Mas, aku sudah siapkan air panas untuk mandi mas pagi ini," kata Tiara.


"Ia Tir, aku mengerti," kata Sandi tersenyum. Tiara juga membalas Sandi dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


__ADS_2