Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 158


__ADS_3

Lisa memasuki cafe. Ia memesan dua es kopi.


Setelah memesan es kopi, ia menghubungi Sandi.


"Kamu sudah sampai mana sayang?," Lisa bertanya.


"Sabar sayang, sepuluh menit lagi aku sampai," kata Sandi.


"Ok deh sayang. Aku sudah pesan dua gelas es kopi nih untuk kita, kamu cepetan datang ya," kata Lisa.


"Baik sayang," kata Sandi.


Bu Sari dan pak Airlangga memutuskan untuk pulang karena hari mulai petang.


"Kami pulang dulu ya Rik," kata bu Sari.


"Iya deh mbak, hati-hati dijalan ya mbak, mas," kata bu Rika kepada bu Sari dan pak Airlangga.


"Iya Rik, terima kasih untuk hari ini," bu Sari mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Iya mbak, sama-sama," kata bu Rika.


Dilain sisi, Sandi kini sudah berada dicafe tempat Lisa menunggu. Sandi datang tepat waktu. Sandi yang melihat Lisa segera memeluknya.


"Aku rindu sekali padamu sayang," kata Sandi.


"Belum juga ada seminggu, kamu sudah merindu saja," kata Lisa.

__ADS_1


"Ya wajar donk aku merindu," Sandi melepaskan pelukannya dari Lisa.


"Apa yang kamu rindukan dari aku sayang?," Lisa bertanya sembari mendudukkan dirinya dikursi.


"Semua yang ada pada diri kamu," Sandi merayu.


"Iya deh, aku juga rindu sama kamu. Rindu dengan semua yang ada pada diri kamu," Lisa membalas rayuan Sandi.


Mereka tersenyum-senyum sendiri.


"Sayang, aku ingin memberikan sesuatu untuk kamu," kata Sandi.


"Apa itu sayang?," tanya Lisa.


Sandi mengeluarkan cincin yang ia beli tadi ditoko perhiasan.


Lisa tersenyum.


"Astaga, cincin ini indah sekali sayang. Tentu aku menyukai hadiah ini," kata Lisa.


"Serius? syukurlah kalau kamu menyukai hadiah pemberianku ini," kata Sandi tersenyum.


"Kalau begitu kamu donk yang harus pasangin cincin ini ke jari aku," kata Lisa.


"Iya sayang, aku akan memasangkannya untuk kamu," kata Sandi.


Ia pun memasangkan cincin tersebut dijari manis tangan kiri Lisa. Cincin itu nampak cocok dan indah untuk dipandang.

__ADS_1


Sandi dan Lisa pun menghabiskan waktu mereka sampai malam dicafe tersebut.


Pak Airlangga dan bu Sari kini sudah sampai dirumah. Tiara yang sedang duduk diteras memandangi bunga-bunga indah milik bu Sari segera berdiri saat melihat kedua mertuanya pulang.


"Tiara kira acaranya sampai malam pulangnya pah, mah," kata Tiara.


"Tidak kok sayang, malahan tadi sebenarnya kami bisa pulang lebih awal," kata bu Sari.


"Lalu kenapa tidak pulang mah?," tanya Tiara.


"Mamah merasa tidak enak dengan tante Rika soalnya mereka tadi mengajak kami untuk makan," kata bu Sari.


"Oh begitu ya mah," kata Tiara.


Bu Sari mengangguk.


"Mamah sama papah ke kamar dulu ya, soalnya mau mandi, sudah gerah sekali Tir," kata bu Sari.


"Iya pah, mah," kata Tiara.


Mereka meninggalkan Tiara sendiri diteras. Tiara masih memiliki keinginan untuk menikmati bunga-bunga indah yang berada tepat didepan pandangannya.


Sandi yang mulai merasa lapar mengajak Lisa untuk makan malam bersama disebuah restauran merah. Mereka pun beranjak dari cafe tersebut.


Makan malam tiba, Tiara hanya makan malam sendiri karena kedua mertuanya sudah kenyang dan tidak memiliki selera untuk makan.


Tiara merasa khawatir karena Sandi belum juga pulang jam segini. Ia kemudian mengambil ponselnya yang terletak diatas meja makan. Menekan nomor telepon Sandi.

__ADS_1


__ADS_2