Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 09


__ADS_3

"Oh, itu begini pak, Sandi ingin putus baik-baik dengan Lisa tanpa merugikan satu sama lain. Sandi juga beranggapan bahwa, jika publik mengetahui putusnya hubungan mereka, maka media akan terus mengganggu Sandi pak. Sandi tidak mau hal itu akan berimbas pada karier dan pekerjaannya," kata pak Airlangga menjelaskan.


"Begitu ya pak, alasannya memang sangat bisa diterima. Syukurlah kalau begitu pak, saya senang sekali mendengarnya," kata pak Arifin.


"Iya pak, saya juga begitu, saya sangat senang ketika mendengar langsung pernyataan itu dari Sandi pak," kata pak Airlangga.


Sandi geleng-geleng kepala melihat papahnya, dia tidak menyangka bahwa papahnya pandai berbohong.


"Lalu bagaimana pak?, apa bapak masih ragu dengan kelanjutan pernikahan putra putri kita?," tanya pak Airlangga.


"Tentu tidak pak, tentu pernikahan itu akan tetap berlanjut," kata pak Arifin teguh.


"Baiklah pak, saya senang mendengar pernyataan bapak," kata pak Airlangga.


"Iya pak," kata pak Arifin.


"Sebenarnya saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak, sekaligus saja saya bahas pada sambungan telepon ini pak," kata pak Airlangga.


"Perihal apa pak ya pak?," tanya pak Arifin.


"Tentang pre-wedding Sandi dan Tiara pak," kata pak Airlangga.


"pah," kata Sandi menolak. Pak Airlangga hanya mengedipkan mata.


"Pre-wedding pak?, oh iya ya pak, saya tidak terpikirkan sampai kesitu," kata pak Arifin. Tiara merasa kaget dengan obrolan bapaknya dengan pak Airlangga.


"Iya pak, biar lebih modern, pernikahan anak kita yang hanya sekali dilakukan ini, harus memiliki banyak dokumentasi," kata pak Airlangga.


"Betul juga pak, baiklah pak, kapan pre-wedding itu dilaksanakan pak?," tanya pak Arifin.


"Begini pak, ada baiknya bapak tanyakan Tiara apakah dia bersedia?," tanya pak Airlangga.


"Sudah pasti pak Tiara bersedia, dia sekarang duduk disamping saya pak, dia mendengar semua apa yang kita obrolkan pak," kata pak Arifin.


"Baiklah kalau begitu pak, bagaimana jika pre-wedding Sandi dan Tiara dilaksanakan pada hari sabtu ini pak?, karena Sandi libur bekerja diakhir pekan," tanya pak Airlangga.


"Tunggu saya tanya Tiara pak!," kata pak Arifin.

__ADS_1


"Bagaimana Tiara?, kamu bisa tidak melaksanakan pre-wedding bersama Sandi hari Sabtu ini pak," tanya pak Arifin menghentikan komunikasi selulernya sejenak.


Tiara bingung mau menjawab pertanyaan bapaknya itu. Bu Lilis mencubit tangan Tiara dan melototi Tiara. Tiara kaget dan spontan menjawab.


"Bisa pak," kata Tiara. Pak Arifin tersenyum.


"Kata Tiara bisa pak," kata pak Arifin.


"Syukurlah pak, mengenai waktu dan tempatnya, Sandi akan memberikan informasinya langsung pada Tiara. Mohon bapak berikan kepada saya nanti nomor what's app milik Tiara, nanti saya beri kepada Sandi, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan mudah," kata pak Airlangga.


"Ide yang sangat bagus sekali itu pak, saya akan mengirimkan nomor what's app Tiara," kata pak Arifin.


"Baiklah pak, saya tunggu pak. Kalau begitu saya tutup teleponnya, selamat pagi pak, assalamualaikum," kata pak Airlangga mengakhiri sambungan teleponnya.


"Baiklah pak, walaikumsalam," kata pak Arifin.


"Haduh pah, kenapa papah bilang kalau aku udah lama putus dengan Tiara?" tanya Sandi kecewa.


"San, ini papah lakukan sebagai jawaban atas permintaanmu tadi malam, untuk kamu tidak perlu melakukan jumpa pers dihadapan media. Dan juga itu cara papah meyakinkan keluarga Tiara atas keraguannya mengenai hubungan antara kamu dan Lisa," kata pak Airlangga menjelaskan.


"Ia deh pah, Sandi mengerti," kata Sandi. Pak Airlangga tersenyum mendengarnya.


"Tapi kenapa papah bahas tentang pre-wedding Sandi dan Tiara tanpa tanya-tanya Sandi dulu? papah juga langsung tentukan waktunya sendiri" tanya Sandi.


"Maaf ya San, hal itu langsung saja muncul didalam pikiran papah. Papah hanya ingin pernikahan ini terasa melekat nak. Masalah waktu, kamu kan terbiasa kosong pada akhir pekan. Jadi papah rasa itu waktu yang tepat untuk kamu melaksanakan pre-wedding itu," kata pak Arifin.


"Iya deh pah, terserah papah saja, mana baiknya," kata Sandi menyerah. Pak Airlangga hanya tersenyum.


Sama halnya dengan Sandi, Tiara juga merasa kesal dengan bapaknya yang langsung mengiyakan pre-wedding itu tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Pak, kenapa mengiyakan saja perkataan pak Airlangga tentang pre-wedding tadi pak?," tanya Tiara kesal.


"Memangnya kenapa nak?, apa ada yang salah dengan pre-wedding itu?," tanya pak Arifin.


"Tidak ada yang salah pak," kata Tiara.


"Lalu?, kenapa kamu berkeluh kesah Tiara?," tanya pak Arifin lagi.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudnya pak, harusnya bapak tanya aku dulu, mau atau tidak?, jangan buat keputusan bapak sendiri," kata Tiara.


"Memangnya kamu tidak setuju dengan pre-wedding ini?," tanya pak Arifin.


"Iya pak, aku tidak setuju, Karena aku malu," kata Tiara.


"Malu kenapa nak," tanya ibunya kaget.


"Aku malu bu kalau harus berpose mesra dengan mas Sandi didepan kamera," kata Tiara.


"Haduh, kenapa kamu malu Tiara?, Sandi itu akan menjadi suamimu. Kalian akan tinggal bersama, makan bersama, bahkan tidur bersama, jadi untuk apa malu," kata bu Lilis.


"Ya karena aku belum begitu kenal dengan mas Sandi bu," kata Tiara.


"Pokoknya gak ada malu, ibu setuju sama pak Airlangga. Pernikahan kamu dengan Sandi harus punya banyak dokumentasi, sehingga suatu saat nanti ibu bisa bernostalgia," kata bu Lilis.


"Iya betul kata ibumu Tiara, lagipula pernikahan sekarang tanpa pre-wedding kan jadi terasa kurang lengkap," kata pak Arifin.


"Iya pak, Tiara tahu. Tetapi Tiara ..," kata Tiara terpotong.


"Tidak ada kata Tapi, kamu tinggal ikut pre-wedding saja kok repot," kata bu Lilis.


"Iya deh bu, Tiara menurut saja," kata Tiara tanpa perlawanan. Pak Arifin senang mendengarnya.


Kenapa sekarang ibu seperti bapak, ia malah lebih tegas dalam perencanaan pernikahanku, Padahal dulu ibu sempat mengatakan kepada bapak supaya jangan memaksakan aku dalam perjodohan ini. Ibu cepat sekali berubahnya. Batin Tiara dalam hati.


"Ya sudah, ibu mau ke toko kita, hari makin siang, ibu sudah mau terlambat membuka toko, ibu jalan dulu ya," kata bu Lilis meninggalkan obrolan.


"Bapak juga mau berangkat kerja ya Tiara, bapak sudah hampir terlambat, bapak pergi dulu ya nak," kata pak Arifin. Ia mengelus kepala Tiara.


"Iya pak, hati-hati dijalan ya, semangat kerjanya pak," kata Tiara.


"Iya nak," pak Arifin meninggalkan rumah.


Seperti orang tuanya, Tiara juga memiliki kesibukan kuliah. Hari ini jadwal kuliahnya padat. Tiara meninggalkan meja makan, masuk ke kamar dan merapikan diri. Tiara mengambil kunci motornya dari meja rias,dan siap pergi ke kampus.


Sekarang Tiara sudah sampai kampus, ternyata sudah ada yang menunggunya sudah cukup lama. seorang laki-laki berwajah cukup tampan.

__ADS_1


__ADS_2