Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 24


__ADS_3

"Oh karena itu alasannya?," kata Sandi.


"Ia mas," kata Tiara.


Ditengah-tengah kesibukannya mengerjakan tugas, Farhan teringat Tiara. Sudah 3 hari Tiara tidak masuk kuliah. Farhan khawatir kalau Dosen bisa menegur Tiara kalau terlalu lama tidak masuk. Farhan memang tidak tahu kalau sebenarnya Tiara sudah mendapatkan izin dari Dosen untuk cuti beberapa hari.


Farhan kemudian berinisiatif untuk menghubungi Tiara untuk mengetahui mengapa dia tidak masuk kuliah beberapa hari belakangan ini? namun sayang, panggilan tersebut tidak diangkat, tapi bukan karena sengaja akan tetapi karena Tiara memang meninggalkan ponselnya dikamar sedangkan Tiara berada dimeja makan.


"Kenapa panggilanku tidak diangkat oleh Tiara?," kata Farhan.


Makan malam Sandi dan Tiara sudah usai. Mereka kembali beranjak ke kamar Tidur. Sandi dan Tiara duduk disofa yang tersedia dikamar tidur. Masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri.


Tiara melihat ada panggilan tidak terjawab diponselnya. Panggilan itu adalah panggilan dari Farhan.


Kenapa Farhan menghubungiku? Apa ada yang ia ingin sampaikan? apa lebih baik aku menghubungi Farhan balik? tapi bagaimana dengan mas Sandi? kalau aku menghubungi Farhan, aku takut mas Sandi marah. Batin Tiara bertanya-tanya.


Lebih baik aku tanyakan saja kepada Farhan melalui pesan what's app. Batin Tiara.


"Han, kenapa kamu tadi menghubungiku? maaf aku tidak mengangkatnya. Aku sedang makan malam tadi, ponselku aku tinggal dikamar tadi," kata Tiara dalam pesan.


"Mas, aku mau menyampaikan sesuatu boleh?," tanya Tiara memulai obrolan.


"Kamu mau menyampaikan apa Tir?," tanya Sandi.


"Mas, aku besok ingin masuk kuliah karena aku sudah cuti selama tiga hari. Boleh tidak mas?," tanya Tiara.


"Tentu boleh, kenapa tidak? kamu besok boleh pergi kuliah," kata Sandi.


"Terima kasih ya mas," kata Tiara dengan perasaan gembira.


"Hm," kata Sandi tersenyum.


"Aku juga punya satu permintaan lagi boleh mas?," tanya Tiara.


"Boleh, katakan saja!," kata Sandi.


"Mas, aku membutuhkan meja belajar dikamar kita ini untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan untuk aktivitas belajarku. Boleh tidak mas aku membelinya?," kata Tiara.


"Tidak boleh!," kata Sandi. Tiara kaget mendengarnya.


"Kenapa tidak boleh mas? apa ada yang salah?," tanya Tiara.


"Tidak boleh jika kamu yang membelinya. Aku yang akan membelinya untukmu," kata Sandi.


"Baik mas. Tidak apa-apa," kata Tiara.


"Ok," kata Sandi.

__ADS_1


"Terima kasih ya mas," kata Tiara.


"Sama-sama Tir," kata Sandi.


Usai obrolan itu, Tiara dan Sandi kembali pada kesibukan masing-masing.


"Aku hanya ingin bertanya sesuatu Tir. Kenapa selama tiga hari ini kamu tidak masuk kuliah?," tanya Farhan dalam pesan what's app.


Tiara gelagapan setelah membaca pesan dari Farhan. Tiara bingung mencari alasan.


"Aku sedang ada urusan keluarga Han," kata Tiara memberikan alasan.


"Apa kamu sedang berada diluar kota bersama keluargamu Tir?," tanya Farhan.


"Begitulah Han," kata Tiara.


"Apa kamu sudah meminta izin kepada dosen mengenai kepergianmu dengan keluarga," tanya Farhan.


"Sudah Han. Dosen memberikanku izin," kata Tiara.


"Baguslah Tir. Kapan kamu akan pulang dari sana?," tanya Farhan.


"Aku sudah dirumah ini Han, hehehe. Besok aku pun sudah mulai masuk kuliah seperti biasa," kata Tiara.


"Benarkah? syukurlah Tir kalau begitu," kata Farhan.


"Iya Han, hehehe," kata Tiara.


"Baiklah Tir. Sampai jumpa besok dikampus ya," kata Farhan.


"Ia Han. Han, aku sangat berterima kasih banyak atas perhatian yang kamu berikan. Aku beruntung memiliki sahabat seperti kamu," kata Tiara.


"Iya Tir, sama-sama," kata Farhan. Farhan sebenarnya sedih saat Tiara menganggapnya sebagai sahabat bukan sebagai lelaki. Farhan hanya bisa menghela nafas.


Aku beruntung memiliki sahabat seperti Farhan yang sudah ada disisiku selama ini. Batin Tiara melamun.


Saat Tiara terlelap dalam lamunannya, Sandi menyadarkannya.


"Tir, kenapa kamu melamun?," tanya Sandi.


"Tidak apa-apa mas," kata Tiara tersadar.


"Benarkah? Tir, menurutmu apa kita sudah seperti suami istri pada umumnya?," tanya Sandi menanyakan pendapat Tiara.


"Maksudnya mas? aku tidak paham mas," kata Tiara.


"Hm, maksudku.. tidak Tir, tidak ada apa-apa," kata Sandi yang tidak ingin berterus terang mengutarakan maksud.

__ADS_1


"Hm, iya mas," kata Tiara.


Apa yang aku pikirkan? kenapa aku ingin mengajak Tiara melakukan hal itu? ah, yang benar saja. Tidak, aku tidak akan melakukannya dengan Tiara. Aku harus memperjuangkan Lisa untuk menjadi Istriku. Batin Sandi meneguhkan pendirian.


Baik Sandi maupun Tiara, mereka sama-sama terdiam. Tidak lama, ponsel Sandi berbunyi. Ada panggilan masuk dari seorang perempuan. Perempuan itu adalah kakak Sandi, Elviana Airlangga. Sandi kemudian mengangkat panggilan itu.


"Halo kak," kata Sandi.


"Halo San," kata Elviana.


"Iya kak, tumben nih kakak menghubungi Sandi. Ada apa gerangan?," kata Sandi.


"Tidak ada apa-apa. Kakak hanya merindukan adik bungsu kakak. Kakak sudah lama tidak berkomunikasi dengan kamu San, itu karenanya kakak menghubungimu," kata Elviana.


"Benarkah? aku juga sangat merindukan kakak," kata Sandi.


"Baguslah kalau kamu juga merindukan kakak. Bagaimana kabar kamu San?," tanya Elviana.


"Aku baik-baik saja kak," kata Sandi.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," kata Elviana.


"Iya kak, kakak sendiri bagaimana kabarnya?," tanya Sandi balik.


"Kakak baik-baik saja San," kata Elviana.


"Aku senang mendengarnya kak. Bagaimana bisnis yang kakak jalankan? apakah semua berjalan dengan lancar?," tanya Sandi.


"Semuanya berjalan dengan lancar San," kata Elviana.


"Baguslah kak. Mudah-mudahan kakak semakin sukses," kata Sandi.


"Ia San. Mudah-mudahan ya. Kamu juga semakin sukses San," kata Elviana.


"Amin kak," kata Sandi.


"San, kakak mau tanya sesuatu boleh?," tanya Elviana.


"Boleh donk kak, kakak mau tanya apa kepada Sandi?," kata Sandi.


"San, apa kamu masih berhubungan dengan Lisa?," tanya Elviana.


"Tidak kak, aku sudah putus dengan Lisa," kata Sandi. Sandi senang kakaknya menanyakan hal itu. Dengan jawaban Sandi barusan, maka akan memperkuat keyakinan Tiara bahwa suaminya itu tidak lagi berkaitan dengan Lisa.


"Benarkah? sejak kapan San?," tanya Elviana.


"Sekitar 3 bulan yang lalu kak. kenapa? kakak pasti sangat senang mendengar bahwa hubunganku dengan Lisa sudah menikah," kata Sandi.

__ADS_1


"Tentu kakak sangat senang San. Itu yang kakak inginkan. Bukan hanya kakak, papah dan mamah juga menginginkan hal itu. Kenapa kamu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengan Lisa?," tanya Tiara.


"Aku merasa tidak ada kecocokan lagi dengan Lisa kak. Kami sudah mulai sering tidak searah. Sering berantem dan cekcok. Jadi aku rasa, sudah saatnya mengakhiri hubunganku dengannya. Karena kalau dilanjutkan pun hasilnya tidak akan baik kak," kata Sandi.


__ADS_2