Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 95


__ADS_3

Lisa memeluk Sandi menunjukkan rasa rindunya pada kekasihnya itu.


"Kami akhirnya tepati janji juga ya," kata Lisa memberikan sindiran.


"Ia donk," kata Sandi.


Lisa mengajak Sandi untuk masuk.


"Gitu donk, kamu jangan buat aku ngambek terus," kata Lisa.


"Ia aku minta maaf deh," kata Sandi.


"Kamu juga sih, cuma angkat telepon dari aku susah sekali," kata Lisa.


"Aku kan sudah menjelaskan alasannya ke kamu sayang," kata Sandi.


"Iya deh," kata Lisa.


"Sekarang kamu maunya apa seharian ini?," tanya Sandi.


"Aku mau kita jalan-jalan ke pantai terus menghabiskan waktu seharian ini dipantai," kata Lisa.


"Ya sudah, kalau gitu kita berangkat sekarang," kata Sandi.


"Memangnya kamu sudah sarapan?," tanya Lisa.


"Belum sayang, kita sarapannya disana saja. Aku pingin makan diluar," kata Sandi.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu mau kamu, aku ganti pakaian dulu ya," kata Lisa.


"Ia sayang," kata Sandi


"Kamu jangan ngintip aku ya," kata Lisa.


"Iya," kata Sandi.


Lisa sudah berganti pakaian dengan pakaian yang casual. Sandi merasa senang dengan dandanan Lisa. Kalau ia memandang lebih jauh, ternyata Lisa memiliki kesamaan dengan Tiara cara berdandan mereka.


Mereka melangkah keluar dari kamar hotel. Sandi sudah menyewa mobil khusus lain untuk mengantar mereka yang mana privasi mereka berdua akan terjaga dengan baik.


Mereka sudah berada didepan dan mobil yang disewa Sandi juga sudah siap siaga. Mereka berdua memasuki mobil.


Sandi meminta mobil tersebut untuk berhenti disalah satu restauran yang mereka lewati.


"Ia sayang, soalnya tadi malam saat aku dan Tiara mengunjungi festival aku melihat restauran ini sangat ramai sekali. Mungkin saja kan, masakan disini sangat enak, jadi aku penasaran ingin mencicipinya," kata Sandi.


"Oh gitu ya, ya sudah kita mampir saja," kata Lisa.


Sandi keluar dari mobil secara bersamaan dengan Lisa. Sesampainya didalam restauran, Sandi meminta ruang makan VIP untuk dirinya dan Lisa.


Sandi dan Lisa memesan makanan yang mereka suka. Tidak butuh waktu lama makanan yang mereka pesan datang.


Ternyata benar dugaan Sandi, masakan direstaurant tersebut sangat enak. Sandi sangat lahap memakannya. Lisa sampai terheran-heran melihat Sandi.


Tiara duduk dibalkon dengan ditemani sarapan pagi. Tiara sengaja memesan makanan kepada pelayan hotel untuk diantar ke kamarnya karena ia memang merasa malas untuk turun ke bawah sendiri.

__ADS_1


Saat ia menikmati sarapannya, Tiara mendapatkan panggilan dari ibu mertuanya, ibu Sari. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo mah," kata Tiara.


"Halo Tir," kata bu Sari.


"Kamu dan Sandi bagaimana kabarnya?," tanya bu Sari.


"Aku baik mah, mas Sandi juga baik. Mamah dan papah bagaimana kabarnya?," tanya Tiara.


"Baik juga kok nak," kata bu Sari.


"Oh iya mah, tumben nih pagi-pagi sudah menghubungi Tiara," kata Tiara.


"Oh mamah mau tanya, bagaimana bulan madunya?," tanya bu Sari.


"Kami sangat menikmati bulan madu ini mah soalnya Tiara belum pernah melakukan hal-hal yang seperti kami lakukan disini," kata Tiara.


"Wah, syukurlah," kata bu Sari.


"Iya mah," kata Tiara.


"Bagaimana obat dan vitamin yang mamah beri je kamu dan Sandi? apa kah kalian berdua meminumnya?," tanya bu Sari.


"Iya mah, pasti. Kami meminumnya. Tapi entah kenapa setiap aku meminum obat yang mamah berikan itu aku selalu merasa gerah ya mah?." tanya Tiara.


Bu Sari tertawa kecil mendengar perkataan menantu perempuannya itu.

__ADS_1


__ADS_2