Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 64


__ADS_3

"Terima kasih untuk donor darah yang kamu berikan Nit," kata Faris.


"Iya mas, sama-sama. Mudah-mudahan saja keadaan Rika semakin baik setelah pendonoran darah tadi," kata Nita.


"Amin Nit amin," kata Faris.


"Ya sudah mas, aku harus ke kamar papah dulu," kata Nita.


"Ke kamar papah? papah kamu sedang sakit juga ya Nit?," tanya Faris.


"Iya mas, papah sakit darah tinggi. Tensinya naik dalam beberapa hari ini, jadi kami khawatir. Kami memutuskan untuk membawa papah ke rumah sakit," kata bu Rika.


"Oh begitu rupanya? bagaimana keadaan om Arman sekarang? dan kami? kamu membawa om Arman ke rumah sakit dengan siapa? kamu kan anak tunggal setahu aku," kata Faris.


"Sekarang papah sudah mulai baikan mas setelah dokter memberikan obat dan perawatan yang intensif. Kami itu adalah aku dan suamiku mas," kata Anita.


"Syukurlah, kalau om Arman sudah membaik. Tunggu dulu! kamu sudah menikah? seriusan nih?," tanya Faris.


"Iya mas, semenjak hubungan kita yang tidak direstui papah dan hubungan kita berakhir aku pun menikah dengan laki-laki pilihan papah, namanya Arief," kata Anita menjelaskan.


"Begitu rupanya, aku berharap kamu dapat memaafkan aku yang tidak bisa memperjuangkan cinta kita dan kamu juga menjalani hidup yang lebih baik bersama suami kamu," kata Faris.

__ADS_1


"Mas tidak salah, memang sepertinya kita tidak ditakdirkan Tuhan untuk hidup bersama. Mas tidak perlu risau, aku sudah mulai sepenuhnya melupakan masa lalu kita. Dan juga suamiku yang sekarang memiliki sifat seperti kamu mas, aku sangat nyaman disampingnya," kata Anita.


"Iya Nit, mudah-mudahan kehidupan kita lebih baik," kata Faris.


"Iya mas, mudah-mudahan saja ya. Kalau begitu aku duluan ya mas," kata Nita.


"Tunggu Nit! maaf ya Nit, aku sepertinya tidak bisa menjenguk om Arman karena aku takut kehadiranku hanya akan membuat kesehatan om Arman nanti memburuk," kata Faris.


"Baik mas, tidak apa-apa," kata Nita.


Nita meninggalkan Faris sendiri. Faris menunggu Rika didepan ruang rawat Rika.


Keesokan paginya, kesehatan Rika perlahan mulai membaik. Ia kini sudah sadar dan Faris duduk disampingnya.


"Aku mulai merasa baikan mas," kata Rika.


"Syukurlah, ini aku bawa sarapan pagi untuk kamu," kata Faris.


"Iya mas, tapi mas suapin aku ya," kata Rika.


"Iya sayang," kata Faris.

__ADS_1


Faris menyuapi istrinya yang sedang terbaring lemah itu dan memberinya minum. Setelah selesai sarapan, Nita dan suaminya Arief datang menjenguk Rika dengan membawa roti dan beberapa jenis buah-buahan.


"Wah kamu rupanya Nit," kata Faris.


"Iya mas. Oh iya mas, ini suamiku, namanya Arief," kata Nita.


Arief dan Faris pun berjabat tangan dan saling mengenalkan diri.


"Bagaimana keadaan kamu Rik?," tanya Anita.


"Aku sudah merasa baikan mbak," kata Rika.


"Syukurlah," kata Anita.


"Kamu tahu tidak Rik, kamu kemarin itu koma akibat kecelakaan itu dan kamu kehilangan banyak sekali darah. Akan tetapi Tuhan menyelamatkan kamu melalui Nita," kata Faris.


"Aku sampai koma? dan kehilangan banyak darah? lalu bagaimana mbak Nita bisa menyelamatkan aku mas?," tanya Rika.


"Nita mendonorkan darah buat kamu," kata Faris.


"Mbak Nita mendonorkan darah untukku? terima kasih banyak ya mbak. Aku sangat berhutang budi kepada mbak," kata Rika dengan isak tangis yang luar biasa.

__ADS_1


Nita spontan memeluknya.


"Iya Rik, sama-sama. Kenapa kamu menangis?," tanya Nita.


__ADS_2