Pernikahan Yang Dipaksakan

Pernikahan Yang Dipaksakan
Bab 167


__ADS_3

"Kalau begitu bisa saya bawa ibu Tiara sekarang ke ruang spa pak?," tanya Amira.


"Silahkan?," kata Sandi.


"Mas tunggu Tiara dimana?," tanya Tiara.


"Aku akan menunggumu disuatu tempat nanti. Seseorang akan mengantarkanmu kesana," kata Sandi.


"Baiklah mas," Tiara mengangguk.


Tiara pun pergi bersama Amira meninggalkan Sandi diruang tunggu sendiri.


Amira membawa Tiara menuju ruang spa khusus sesuai dengan permintaan Sandi. Bukan hanya itu, Sandi juga meminta beberapa orang suruhannya untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk Tiara.


Sandi juga menyiapkan gaun yang indah untuk Tiara karena mereka ingin makan malam romantis berdua. Makan malam itu direncanakan Sandi untuk salah satu cara dirinya memberikan anting-anting indah untuk Tiara.


Sandi beranjak dari kursinya menuju kamar khusus yang ia pesan. Dikamar tersebut, orang suruhan Sandi sudah menyiapkan pakaian yang serupa dengan gaun Tiara nanti.


Ia pun segera membersihkan diri dan kemudian memakai pakaian tersebut.


Sandi berkaca didepan cermin. Dia merasa sangat cocok dengan pakaian itu. Dia tidak sabar ingin melihat apakah Tiara juga cocok dengan gaunnya.


Tiara masih menikmati pijatan spa yang ia lakukan. Ia merasa tubuhnya merasa lebih enakan.

__ADS_1


Setelah melakukan pijatan spa tersebut, ia kemudian dibawa ke ruang ganti khusus yang telah disediakan.


Ia mengganti pakaiannya. Sebuah gaun putih dengan design yang mewah dan elegan. Sandi memesan gaun tersebut dari salah satu designer hebat pilihannya.


Tiara tersenyum manis melihatnya. Ia pun mengenakan pakaian tersebut. Ia nampak seperti bidadari dan seperti cinderella dalam cerita dongeng.


Ia kemudian dibawa oleh Amira ke atas hotel. Diatas atap hotel Sandi sudah terlebih dahulu menunggu.


"Kita mau kemana mbak?," Tiara merasa bingung karena mereka terus menaiki lantai demi lantai.


"Kita akan pergi ke suatu tempat yang indah mbak, diatas sana. Diatas sana sudah ada seseorang yang telah menunggu mbak," kata Amira.


Itu pasti mas Sandi. Tiara tidak perlu menebak lagi siapa yang menunggunya?.


"Baik mbak, terima kasih," kata Tiara.


Amira menundukkan wajahnya tanda hormat.


Tiara melanjutkan kembali langkah kakinya menuju atap hotel. Sesampainya disana, ia melihat seorang laki-laki menggunakan kemeja putih.


Laki-laki tersebut menghadap ke arahnya. Dia tersenyum karena lelaki itu adalah suaminya, Sandi Airlangga.


Dia menghampiri Sandi. Sandi memeluk Tiara dengan erat.

__ADS_1


"Kamu betul-betul seperti bidadari sayang," kata Sandi.


"Terima kasih mas untuk pujiannya. Mas juga sangat tampan," kata Tiara.


Sandi mengecup kening istrinya tersebut. Ia kemudian mempersilahkan Tiara untuk duduk dikursi yang ia sediakan.


"Aku sengaja mempersiapkan semua ini sebagai makan malam romantis kita berdua sayang," kata Sandi.


"Iya mas, semuanya terlihat indah dan sangat cocok," kata Tiara.


"Benarkah? apa kamu menyukainya sayang?," tanya Sandi.


"Tentu mas, aku sangat menyukainya," kata Tiara.


"Ayo kita makan makanan ini!," kata Sandi.


"Baik mas," kata Tiara.


Mereka pun memakan makanan tersebut dengan hikmat.


"Pah, Tiara dan Sandi saat ini sedang berada dihotel milik kita yang baru saja selesai," kaya bu Sari.


"Untuk apa mereka disana?," tanya pak Airlangga.

__ADS_1


"Tidak tahu pah, tapi tadi Sandi mengatakan kepada mamah ingin menginap disana. Sandi juga ingin melihat-lihat pembangunan hotel tersebut. Apakah masih ada yang kurang atau tidak," kata bu Sari.


__ADS_2